Dilema Keamanan dan Tumpukan Persoalan di Laut China Selatan

Rabu, 24 Maret 2021 - 06:05 WIB
loading...
A A A
Meskipun demikian, tidak semua negara ASEAN bersikap antipati terhadap China. Singapura misalnya pada 25 Februari lalu melakukan latihan bersama dengan China. Dengan melibatkan armada tempur seperti kapal fregat, kapal jenis destroyer, dan kapal siluman. Latihan bersama tersebut ditujukan sebagai respons atas keberadaan armada AS dan sekutunya di wilayah LCS.

Pertanyaannya ialah sampai kapan parade armada maritim di sekitar LCS ini berlangsung? Akankah eskalasi meningkat menuju perang terbuka di lautan? Sulit untuk melangkah pada analisis tentang kemungkinan pecahnya perang terbuka di wilayah ini. Jika pun ternyata benih dari persaingan ekonomi, retorika perang, parade armada laut, dan provokasi di LCS menjadi sebab meletusnya perang terbuka, maka perang tersebut akan menjadi perang yang amat dahsyat. Sebabnya, kawasan Asia-Pasifik mewakili postur keberadaan negara-negara kuat, baik secara ekonomi maupun persenjataannya.

Selama beberapa dekade, terutama setelah berakhirnya perang Pasifik. Kawasan ini, Asia-Pasifik, merupakan kawasan yang relatif damai. Jika kembali pada awal tahun 1990-an sampai sekitar akhir dekade pertama abad ke-21, pemberitaan di televisi atau siaran radio, masih didominasi pemberitaan konflik dan perang terbuka di Timur Tengah. Nyaris tidak terdengar pemberitaan mengenai konflik di kawasan Asia-Pasifik yang di dalamnya meliputi LCS. Bahkan, apabila mundur ke belakang, sebagaimana yang diilustrasikan oleh Kenneth R Hall dalam karya masyhurnya berjudul Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, menjelaskan tentang lingkungan perdagangan maritim klasik yang penuh kedamaian telah tercipta di perairan Samudera Hindia, Asia Tenggara, sampai perairan di Asia Timur.

Berbeda dengan kondisi saat ini, di mana pemberitaan tentang eskalasi di LCS dan sorotan dari banyak pengamat militer, mengarah pada kemungkinan meluasnya konflik ekonomi, menuju peperangan yang dibintangi AS dan China. Masa damai di kawasan ini secara perlahan bukan tidak mungkin akan segera berlalu. Sebagaimana ungkapan dari Machiavelli, sang pemikir abad renaissance, yang menyatakan, “Tidak ada masa damai tanpa persiapan untuk perang”. Pendapat mungkin relevan dengan kondisi yang saat ini terjadi di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di LCS. Sebab persaingan ekonomi (perang dagang), persepsi saling curiga, provokasi melalui kehadiran kapal (permukaan dan bawah laut) secara intensif, dan hukum laut yang tidak lagi dihiraukan, semua itu sama sekali tidak memperlihatkan suatu kondisi yang mengarah pada suasana damai.

Ibarat mesin, LCS adalah mesin yang sedang dipanaskan dan siap untuk menderu. Indonesia yang secara geografis dekat dengan wilayah ini tentu akan ikut merasakan dampaknya. Dalam kondisi ini, Indonesia perlu menggandakan upaya strategis dan aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak karena sikap pasif hanya akan menimbulkan persepi saling curiga. Haluan politik bebas aktif harus benar-benar diterjemahkan secara nyata dan dengan penuh ketegasan. Jangan sampai nama Indonesia diseret oleh salah satu pihak yang saling berseteru, yang ujungnya hanya akan merugikan Indonesia sendiri.

Meskipun Indonesia bukan termasuk negara yang memiliki klaim (non-claimant states) atas sengketa kepulauan di LCS, tetapi jalur laut yang menjadi pintu masuk sekutu AS ke LCS salah satunya melalui perairan Indonesia. Karena itu, di samping peran diplomasi, Indonesia juga harus mempunyai kontrol penuh terhadap perairan kita sendiri. Alutsista khususnya matra laut saat ini merupakan kebutuhan yang sifatnya mendesak. Armada maritim yang besar dan mumpuni akan memberikan efek gentar bagi musuh, sekaligus sebagai mata, telinga, dan perisai bagi kedaulatan perairan kita.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menjembatani Rivalitas...
Menjembatani Rivalitas LCS: Konsep Hybrid Maritime Security Governance System
10 Tahun Arbitrase Laut...
10 Tahun Arbitrase Laut China Selatan Tak Mempan, Saatnya Mulai Perundingan COC
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
China Pastikan Kendaraan...
China Pastikan Kendaraan Listrik Berukuran Besar Merusak Jalan
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
Rekomendasi
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
Berita Terkini
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Abdullah Alkatiri Yakin...
Abdullah Alkatiri Yakin JPU Tidak Bakal Mendakwa Ulang Dokter Tifa
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Hadiri Harlah ke-28...
Hadiri Harlah ke-28 PKB, Partai Perindo Ajak Kolaborasi Bangun Ekonomi Kerakyatan
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved