Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Senin, 18 Mei 2020 - 07:03 WIB
loading...
Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A
A
A
JUDUL di atas memang terkesan terlalu pede. Maklum, untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat saja terkadang bangsa ini masih mengandalkan barang impor. Tapi, tekad untuk mandiri dengan produk sendiri yang dihasilkan oleh tangan-tangan di dalam negeri jangan sampai kendur.
Semangat inilah yang harus dijaga agar para pelaku usaha di Indonesia bisa terus berkiprah dan berkembang. Dengan membeli produk dalam negeri, efek berganda yang dihasilkan akan lebih besar. Akan lebih banyak pula pelaku usaha lain sama-sama bertumbuh.
Di masa pandemi virus korona (Covid-19) seperti sekarang memang banyak pelaku usaha yang terpuruk. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) pun tak terelakkan. Baru-baru ini Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bahkan memperkirakan ada sekitar 9 juta orang yang kehilangan pekerjaan akibat terdampak Covid-19. Sungguh angka yang sangat besar kendati secara resmi Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan per awal Mei lalu terdapat 2,7 juta orang terkena PHK.
Data-data tersebut hendaknya menjadi pegangan para pengambil keputusan bahwa dampak korona tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, dua bulan sejak kasus pertama korona diumumkan hingga hari ini, jumlah kasus positif terinfeksi belum ada tanda-tanda penurunan. Terkini, per Minggu (17/5) tercatat penambahan kasus positif sebanyak 489 orang menjadi total 17.514 orang. Adapun jumlah pasien meninggal sebanyak 1.148 dan pasien sembuh 4.129 orang.
Dengan aneka dampak negatif akibat Covid-19 ini, tak dimungkiri telah menyebabkan perekonomian nyaris ambruk. Data terkini, pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2020 hanya tumbuh 2,97%, jauh dibanding kuartal-kuartal sebelumnya yang selalu terjaga di kisaran 5%. Kondisi ini menandakan lemahnya aktivitas ekonomi secara umum karena terdampak korona. Sektor konsumsi pun yang biasanya selalu tumbuh di atas 5% kini hanya tumbuh dua sekian persen.
Parahnya lagi, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang juga biasanya memiliki ketahanan cukup tinggi kini ikut terpuruk. Pasalnya, selama dua bulan belakangan ini, dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, banyak orang yang memilih berdiam diri di rumah sesuai anjuran pemerintah. Alhasil, aktivitas di sektor informal pun turut berhenti.
Pun demikian dengan aktivitas industri, selain sektor-sektor yang dikecualikan, mereka memilih tutup. Kita berharap kondisi ini tentu tidak berlarut-larut. Bagaimanapun roda ekonomi harus berputar meski risiko penyebaran virus masih mengancam.
Semangat inilah yang harus dijaga agar para pelaku usaha di Indonesia bisa terus berkiprah dan berkembang. Dengan membeli produk dalam negeri, efek berganda yang dihasilkan akan lebih besar. Akan lebih banyak pula pelaku usaha lain sama-sama bertumbuh.
Di masa pandemi virus korona (Covid-19) seperti sekarang memang banyak pelaku usaha yang terpuruk. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) pun tak terelakkan. Baru-baru ini Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bahkan memperkirakan ada sekitar 9 juta orang yang kehilangan pekerjaan akibat terdampak Covid-19. Sungguh angka yang sangat besar kendati secara resmi Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan per awal Mei lalu terdapat 2,7 juta orang terkena PHK.
Data-data tersebut hendaknya menjadi pegangan para pengambil keputusan bahwa dampak korona tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, dua bulan sejak kasus pertama korona diumumkan hingga hari ini, jumlah kasus positif terinfeksi belum ada tanda-tanda penurunan. Terkini, per Minggu (17/5) tercatat penambahan kasus positif sebanyak 489 orang menjadi total 17.514 orang. Adapun jumlah pasien meninggal sebanyak 1.148 dan pasien sembuh 4.129 orang.
Dengan aneka dampak negatif akibat Covid-19 ini, tak dimungkiri telah menyebabkan perekonomian nyaris ambruk. Data terkini, pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2020 hanya tumbuh 2,97%, jauh dibanding kuartal-kuartal sebelumnya yang selalu terjaga di kisaran 5%. Kondisi ini menandakan lemahnya aktivitas ekonomi secara umum karena terdampak korona. Sektor konsumsi pun yang biasanya selalu tumbuh di atas 5% kini hanya tumbuh dua sekian persen.
Parahnya lagi, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang juga biasanya memiliki ketahanan cukup tinggi kini ikut terpuruk. Pasalnya, selama dua bulan belakangan ini, dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, banyak orang yang memilih berdiam diri di rumah sesuai anjuran pemerintah. Alhasil, aktivitas di sektor informal pun turut berhenti.
Pun demikian dengan aktivitas industri, selain sektor-sektor yang dikecualikan, mereka memilih tutup. Kita berharap kondisi ini tentu tidak berlarut-larut. Bagaimanapun roda ekonomi harus berputar meski risiko penyebaran virus masih mengancam.
Lihat Juga :