Kelompencapir dan Konvergensi Media (Hari Radio Sedunia 13 Februari)

Sabtu, 13 Februari 2021 - 05:00 WIB
loading...
Kelompencapir dan Konvergensi...
Eddy Koko (Foto: Istimewa)
A A A
Eddy Koko
Pemred Radio Trijaya Network 2009 - 2014, Pengajar Jurnalistik di FISIP Unsri Palembang

SUATU hari ada diskusi kecil dengan Prof Alfitri dari FISIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang membahas radio siaran dalam era digital. Ada Jurusan Broadcasting (radio dan televisi) di fakultas tersebut yang, ternyata, banyak calon mahasiswa berminat pada bidang ini. Dua tahun lalu, saya juga terlibat diskusi dengan sahabat Andri Herdiansyah, praktisi radio dari Bandung membahas kegiatan Kelompencapir zaman Orde Baru. Kelompencapir singkatan dari Kelompok Pendengar Pembaca dan Pemirsa, gabungan antara acara radio, media cetak dan televisi. Konsep itu pada era digital sekarang muncul, antara lain, dalam bentuk konvergensi media di mana siaran radio di-YouTube-kan dan materinya ditulis pada media online (baca). Ketika sekarang banyak orang membahas era baru konvergensi media, sejatinya, Indonesia sudah melakukan konsep tersebut sejak tahun delapan puluhan melalui Kelompencapir.

Generasi sekarang tidak mengenal acara Kelompencapir tetapi generasi kami sangat mengenal karena itu acara yang membosankan dan lama durasinya. Siaran dilakukan bersama Radio Republik Indonesia (RRI) dengan TVRI (belum ada televisi lain) kemudian diberitakan Koran Masuk Desa proyek Departemen Penerangan (sekarang Kominfo), menghadirkan para petani yang, katanya, suka menyimak media tersebut. Peserta acara Kelompencapir seakan diskusi “panas” tetapi, konon, materi dan pertanyaannya sudah disiapkan panitia agar terkesan tampak hidup.

Pak Harto tampak senang menonton acara ini sehingga proyek Kelompencapir jalan terus. Koran Masuk Desa yang dananya cekak, saya sempat ikut mengelola, lanjut terus, mendompleng koran nasional yang terbit di daerah. Begitu Orde Baru bubar Kelompencapir pun tidak terdengar.

Tanggal 13 Februari dicanangkan sebagai Hari Radio Sedunia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang pada 2021 merupakan tahun kesepuluh setelah diproklamirkan oleh negara yang tergabung dalam organisisasi ini. Alasan UNESCO membuat Hari Radio Sedunia (World Radio Day) menilai, radio merupakan media mampu menyatukan manusia dalam keberagaman agama, bangsa dan sebagainya termasuk menjadi alat demokrasi. Radio merupakan media paling banyak dikonsumi umat manusia dengan kemampuan uniknya dalam menjangkau pendengar di seluruh belahan dunia. Stasiun radio dikenal mampu melayani berbagai komunitas, menawarkan bermacam program, sudut pandang dan konten serta mencerminkan keragaman pendengar dalam organisasi melalui siarannya. Tema Hari Radio Sedunia tahun ini adalah Evolusi, Inovasi dan Koneksi.

UNESCO memandang radio pada era digital, saat ini, harus berevolusi, menyelaraskan diri agar bertahan pada perubahan zaman. Dengan demikian maka perlu melakukan inovasi-inovasi beradaptasi dengan teknologi baru menjadi media yang mampu diakses manusia di berbagai tempat, tentu, untuk semua orang. Dunia sudah berubah tetapi radio harus tetap menghubungkan antara pihak satu dengan lainnya terutama antara pengambil kebijakan dengan masyarakat dalam membantu mengatasi berbagai persoalan seperti bencana alam, krisis sosial ekonomi, epedemi dan sebagainya. Pendeknya, kata Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, manusia membutuhkan media humanis universal, menuju suatu kebebasan. Tanpa radio, hak atas informasi, kebebasan berekspresi dan kebebasan fundamental akan melemah, seperti keanekaragaman budaya karena stasiun radio merupakan suara dari mereka yang tidak bersuara.

Kalau UNESCO optimistis mengapa pengelola radio harus pesimis dalam menghadapi perubahan zaman? Jika mencermati perkembangan di Indonesia semangat mempertahankan radio siaran agar tetap dapat dinikmati dan melayani masyarakat sebetulnya sungguh luar biasa. Radio siaran di tangan anak-anak muda terus bergerak bersama lajunya perkembangan komunikasi yang begitu dasyat. Pada bagian lain ada masyarakat menganggap, radio siaran adalah media kuno. Namun banyak anak muda, bahkan di kota besar di mana mereka berada dalam lingkungan modern, tetap mengelola dan menikmati dunia radio siaran. Anak-anak muda ini tidak memasukkan radio siaran dalam museum tetapi dengan berani menantang perubahan zaman sehingga radio siaran tetap berkibar. Gelombang perubahan yang begitu dasyat saat ini disambut dengan ceria oleh anak-anak muda yang dengan cerdas mendomplengkan radionya pada perubahan itu sendiri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Menkomdigi Ajak Generasi...
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Fenomena Hijrah Digital...
Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu
Politisi PDIP: RUU KKS...
Politisi PDIP: RUU KKS untuk Lindungi Hak Sipil dan Demokrasi
Tata Kelola Digital...
Tata Kelola Digital dan Investasi Demokrasi
Mengapa Media Monitoring...
Mengapa Media Monitoring Jadi Kunci dalam Krisis Siber di Era Geopolitik Digital?
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Web3 University Tour...
Web3 University Tour 2026 Digelar ITERA Lampung, Ratusan Mahasiswa Belajar Blockchain
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
Rekomendasi
Perluas Jaringan di...
Perluas Jaringan di 30 Titik Indonesia, Nia Nature Sediakan Suplemen Herbal Berstandar BPOM
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Menhub Minta Tambahan...
Menhub Minta Tambahan Anggaran Rp20 Triliun, Buat Apa?
Berita Terkini
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved