Strategi Baru Kekuasaan: dari Brainwashing ke Emotional Hijacking?
Kamis, 17 April 2025 - 15:41 WIB
loading...
Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi
A
A
A
Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
HARI INI, kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cara menekan, melarang, atau membungkam terang-terangan. Era represi sudah lewat. Kini, yang diatur bukan hanya tubuh atau tindakan, tapi emosi dan atensi. Bukan lagi pengendalian dengan palu, tapi dengan notifikasi.
Bukan ketakutan karena senjata, tapi karena ketidakpastian yang tak kunjung selesai. Maka pertanyaannya: apakah rakyat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi atau krisis emosional yang dikondisikan secara sistematis?
Dalam masyarakat digital saat ini, kekuasaan telah berevolusi. Ia tak lagi hadir dalam bentuk kontrol kasar, tapi sebagai rekayasa halus terhadap suasana batin.
Istilah "brainwashing" atau cuci otak klasik -yang bekerja dengan pemaksaan dan pengulangan ideologi- berubah bentuk menjadi "emotional tuning" yakni pengaturan frekuensi emosi massa lewat aliran informasi, simbolisme politik, dan pembiasaan terhadap kebisingan.
Kekuasaan tak lagi berkata “jangan berpikir”, tapi membuat kita terlalu lelah untuk berpikir. Kondisi ini selaras dengan analisis Byung-Chul Han dalam Psychopolitics (2017), yang menyoroti bagaimana kekuasaan modern lebih bekerja melalui eksploitasi kebebasan individu.
Alih-alih menekan dari luar, kekuasaan merasuk ke dalam diri, mengatur ekspektasi, ketakutan, bahkan suasana hati. Dalam konteks Indonesia, strategi ini tampak dalam bagaimana isu-isu politik berganti terlalu cepat untuk dicerna secara mendalam. Belum selesai publik memahami satu isu, sudah muncul lima isu lain. Hasilnya berupa kelelahan emosional kolektif.
Fenomena ini sejalan dengan kajian psikologi politik dan neurosains kognitif tentang sistem perhatian dan pengaruh media.
Dalam situasi saat ini, rakyat Indonesia bukan sedang dibungkam dengan cara lama, tapi dibanjiri informasi hingga tidak mampu lagi memilah mana yang penting dan mendesak.
Gadget dan media sosial telah menjadi alat pengalih perhatian paling masif sepanjang sejarah. Reticular Activating System (RAS), sistem otak yang berperan menyaring informasi, hanya mampu memproses sebagian kecil dari jutaan stimulus setiap detik.
Dan sayangnya, ia secara naluriah akan lebih tertarik pada konten bermuatan emosi tinggi, takut, marah, jijik, atau humor ekstrem. Maka jangan heran jika yang viral bukanlah wacana kebijakan publik, melainkan skandal, selebritas, atau sensasi receh.
Akibatnya, terjadi ledakan informasi yang tidak terorganisir -information overload- yang membuat perhatian publik terpecah-pecah, reaktif, dan cepat lelah. Banyak studi menunjukkan bahwa multitasking digital justru memperburuk fokus dan menurunkan kapasitas kognitif jangka panjang.
Di Indonesia, istilah “brain rot” mulai populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan kondisi ini: tubuh aktif menggulir layar, tetapi pikiran kosong dan tidak terkoneksi dengan dunia nyata. Dalam kondisi seperti ini, sistem limbik -bagian otak yang memproses emosi dasar seperti ketakutan dan kemarahan- lebih dominan dibanding prefrontal cortex yang bertugas mengolah rasionalitas dan keputusan jangka panjang.
Ilmuwan Otak, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
HARI INI, kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cara menekan, melarang, atau membungkam terang-terangan. Era represi sudah lewat. Kini, yang diatur bukan hanya tubuh atau tindakan, tapi emosi dan atensi. Bukan lagi pengendalian dengan palu, tapi dengan notifikasi.
Bukan ketakutan karena senjata, tapi karena ketidakpastian yang tak kunjung selesai. Maka pertanyaannya: apakah rakyat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi atau krisis emosional yang dikondisikan secara sistematis?
Dalam masyarakat digital saat ini, kekuasaan telah berevolusi. Ia tak lagi hadir dalam bentuk kontrol kasar, tapi sebagai rekayasa halus terhadap suasana batin.
Istilah "brainwashing" atau cuci otak klasik -yang bekerja dengan pemaksaan dan pengulangan ideologi- berubah bentuk menjadi "emotional tuning" yakni pengaturan frekuensi emosi massa lewat aliran informasi, simbolisme politik, dan pembiasaan terhadap kebisingan.
Kekuasaan tak lagi berkata “jangan berpikir”, tapi membuat kita terlalu lelah untuk berpikir. Kondisi ini selaras dengan analisis Byung-Chul Han dalam Psychopolitics (2017), yang menyoroti bagaimana kekuasaan modern lebih bekerja melalui eksploitasi kebebasan individu.
Alih-alih menekan dari luar, kekuasaan merasuk ke dalam diri, mengatur ekspektasi, ketakutan, bahkan suasana hati. Dalam konteks Indonesia, strategi ini tampak dalam bagaimana isu-isu politik berganti terlalu cepat untuk dicerna secara mendalam. Belum selesai publik memahami satu isu, sudah muncul lima isu lain. Hasilnya berupa kelelahan emosional kolektif.
Fenomena ini sejalan dengan kajian psikologi politik dan neurosains kognitif tentang sistem perhatian dan pengaruh media.
Dalam situasi saat ini, rakyat Indonesia bukan sedang dibungkam dengan cara lama, tapi dibanjiri informasi hingga tidak mampu lagi memilah mana yang penting dan mendesak.
Gadget dan media sosial telah menjadi alat pengalih perhatian paling masif sepanjang sejarah. Reticular Activating System (RAS), sistem otak yang berperan menyaring informasi, hanya mampu memproses sebagian kecil dari jutaan stimulus setiap detik.
Dan sayangnya, ia secara naluriah akan lebih tertarik pada konten bermuatan emosi tinggi, takut, marah, jijik, atau humor ekstrem. Maka jangan heran jika yang viral bukanlah wacana kebijakan publik, melainkan skandal, selebritas, atau sensasi receh.
Akibatnya, terjadi ledakan informasi yang tidak terorganisir -information overload- yang membuat perhatian publik terpecah-pecah, reaktif, dan cepat lelah. Banyak studi menunjukkan bahwa multitasking digital justru memperburuk fokus dan menurunkan kapasitas kognitif jangka panjang.
Di Indonesia, istilah “brain rot” mulai populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan kondisi ini: tubuh aktif menggulir layar, tetapi pikiran kosong dan tidak terkoneksi dengan dunia nyata. Dalam kondisi seperti ini, sistem limbik -bagian otak yang memproses emosi dasar seperti ketakutan dan kemarahan- lebih dominan dibanding prefrontal cortex yang bertugas mengolah rasionalitas dan keputusan jangka panjang.
Lihat Juga :