Merespons Krisis Ulama
Minggu, 31 Januari 2021 - 12:07 WIB
loading...
A
A
A
Ada masa-masa di mana Umat ini menjadikan ijtihad sebagai sesuatu yang tabu, bahkan dianggap membawa dosa. Biasanya dengan mamakai dalil: “siapa yang berdusta terhadapku maka disiapkan tempatnya di neraka” (hadits).
Baca juga: Menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama, Perkuat Harmoni Islam-Nasionalisme
Padaha hadits ini lebih sebagai peringatan dan ancaman kepada mereka yang mencipta-cipta hadits dan mengaitkannya dengan Rasulullah SAW. Tapi kalau berusaha memahami ayat atau hadits dengan akal dan Ilmu alat yang cukup (termasuk bahasa) maka itu adalah ijtihad. Dan ijtihad akan selalu diapresiasi. Jika benar dapat dua pahala. Dan jika salah juga masih dapat satu pahala.
Tujuh, Pondok Pesantren harus membangun suasan di mana santri-santriyah mampu membangun “self confidence” (rasa percaya diri) yang tinggi.
Self confidence itu bukan keangkuhan. Self confidence itu berarti ada potensi sekaligus keberanian untuk mendaya gunakannya untuk kemaslahatan umum. Angkuh itu merasa lebih dari orang lain, justru terkadang realitanya tidak ada potensi.
Untuk bangsa Indonesia mampu memainkan peranan signifikan dan diakui oleh dunia global, rasa minder (inferioritàs) yang sejak lama menjangkiti bangsa ini harus dirubah. Masanya untuk membangun percaya diri bahwa bangsa ini adalah bangsa besar yang potensial dan mampu sebagaimana bangsa besar lainnya.
Hal ini juga sangat diperlukan oleh para ilmuan dan Ulama Indonesia untuk tampil di dunia global. Kekurangan para Ulama kita terkadang kurang percaya diri, apalagi ketika berhadapan dengan ulama dari Timur Tengah.
Padahal sejarah keislaman tidak selalu didominasi oleh Ulama Arab. Begitu banyak muhaddits (ahli hadits) maupun fuqaha (ahli fiqhi) dari kalangan ‘ajam (non Arab).
Baca juga: Satu Persatu Ulama Kita Dipanggil, Berikut Daftar Ulama Wafat Januari 2021
Masanya bangsa ini, termasuk ulamanya, untuk bangkit dan berada di garis depan untuk menampilkan Islam yang saat ini dirindukan oleh dunia. Dan Islam itu harusnya memang ditampilkan oleh bangsa yang berkarakter “rahmatan lil-alamin”.
Bangsa yang mampu menyatukan antara niai-nilai universal Islam dengan kehidupan dunia masa kita. Termasuk di dalamnya syura, sopan santun dan keramahan, penghormatan pada wanita, HAM, serta komitmen keagamaan dalam tatanan kerukunan dan toleransi.
Semua itu di Indonesia bukan sekadar teori. Tapi telah dan tetap mampu dibuktikan di tengah dinamika sosial yang ada.
Dan tentunya di sinilah kemudian pesantren memiliki peranan krusial dan signifikan untuk mewujudkan semua itu. Semoga!
Baca juga: Menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama, Perkuat Harmoni Islam-Nasionalisme
Padaha hadits ini lebih sebagai peringatan dan ancaman kepada mereka yang mencipta-cipta hadits dan mengaitkannya dengan Rasulullah SAW. Tapi kalau berusaha memahami ayat atau hadits dengan akal dan Ilmu alat yang cukup (termasuk bahasa) maka itu adalah ijtihad. Dan ijtihad akan selalu diapresiasi. Jika benar dapat dua pahala. Dan jika salah juga masih dapat satu pahala.
Tujuh, Pondok Pesantren harus membangun suasan di mana santri-santriyah mampu membangun “self confidence” (rasa percaya diri) yang tinggi.
Self confidence itu bukan keangkuhan. Self confidence itu berarti ada potensi sekaligus keberanian untuk mendaya gunakannya untuk kemaslahatan umum. Angkuh itu merasa lebih dari orang lain, justru terkadang realitanya tidak ada potensi.
Untuk bangsa Indonesia mampu memainkan peranan signifikan dan diakui oleh dunia global, rasa minder (inferioritàs) yang sejak lama menjangkiti bangsa ini harus dirubah. Masanya untuk membangun percaya diri bahwa bangsa ini adalah bangsa besar yang potensial dan mampu sebagaimana bangsa besar lainnya.
Hal ini juga sangat diperlukan oleh para ilmuan dan Ulama Indonesia untuk tampil di dunia global. Kekurangan para Ulama kita terkadang kurang percaya diri, apalagi ketika berhadapan dengan ulama dari Timur Tengah.
Padahal sejarah keislaman tidak selalu didominasi oleh Ulama Arab. Begitu banyak muhaddits (ahli hadits) maupun fuqaha (ahli fiqhi) dari kalangan ‘ajam (non Arab).
Baca juga: Satu Persatu Ulama Kita Dipanggil, Berikut Daftar Ulama Wafat Januari 2021
Masanya bangsa ini, termasuk ulamanya, untuk bangkit dan berada di garis depan untuk menampilkan Islam yang saat ini dirindukan oleh dunia. Dan Islam itu harusnya memang ditampilkan oleh bangsa yang berkarakter “rahmatan lil-alamin”.
Bangsa yang mampu menyatukan antara niai-nilai universal Islam dengan kehidupan dunia masa kita. Termasuk di dalamnya syura, sopan santun dan keramahan, penghormatan pada wanita, HAM, serta komitmen keagamaan dalam tatanan kerukunan dan toleransi.
Semua itu di Indonesia bukan sekadar teori. Tapi telah dan tetap mampu dibuktikan di tengah dinamika sosial yang ada.
Dan tentunya di sinilah kemudian pesantren memiliki peranan krusial dan signifikan untuk mewujudkan semua itu. Semoga!
(zik)