Menuju Era Baru Amerika?
Selasa, 03 November 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Pandangan tentang potensi perubahan jika presiden berganti ini juga menemukan pijakan praktis dalam sejarah Amerika. Sebagai contoh presiden dari Partai Republik dikenal cenderung asertif seperti terbukti dari penggelaran Perang Teluk II pada 1991 ketika Amerika mengusir Irak dari Kuwait pada era George Bush atau Perang di Afghanistan pada 2001 dan Perang Irak 2003 pada era George Walker Bush. Sementara itu, presiden dari Partai Demokrat dikenal lebih menonjolkan penggunaan dialog dan diplomasi serta hirau pada isu hak asasi manusia (HAM) seperti ditunjukkan pada era Bill Clinton dan Barack Obama beserta Menteri Luar Negerinya Hillary Clinton.
Debat pemilihan presiden juga seakan menguatkan pandangan ini. Sikap berbeda tampak atas lima masalah utama domestik, yaitu Covid-19, sistem kesehatan, ekonomi, isu ras, dan aborsi, demikian pula atas kebijakan luar negeri. Biden misalnya, mengusung tiga tujuan strategis utama, yaitu kesejahteraan, keamanan, dan promosi nilai-nilai demokrasi, sementara Trump seperti terlihat pada strategi Keamanan Nasional 2017: fokus pada upaya membendung kekuatan besar “revisionis” terutama Rusia dan Tiongkok.
Kedua, pandangan yang berbeda menyatakan bahwa kalaupun terjadi pergantian presiden, hal itu tidak berpengaruh banyak karena ada variabel lain di tingkat nasional dan internasional yang relatif tetap. Amerika adalah adi daya dalam struktur kekuatan dunia yang akan terus berupaya mempertahankan superioritasnya. Dominasinya secara militer juga kuat dan bisa digerakkan (mobilized) ke penjuru bumi manapun.
Bersama keunggulan kekuatan pemaksa (hard power) itu, watak hegemoniknya dalam sistem politik dan ekonomi global belum luntur. Pengaruh dan kekuasaan strukturalnya di beberapa lembaga internasional penting juga tidak luruh. Karena itu, meski presiden berubah dan meski terus mendapat tantangan dari big power lain seperti Rusia bahkan Tiongkok, variabel presiden tidak cukup kuat mengubah dasar-dasar kebijakan luar negeri Amerika.
Antisipasi
Dengan demikian, yang kemungkinan akan terjadi jikalau pun Biden menang adalah sebatas pergeseran pendekatan, gaya, dan retorika. Style keras bahkan cenderung penuh kontroversi dengan jargon Make America Great Again akan terus berlangsung jika Trump kembali terpilih. Sebaliknya, gaya lebih dialogis diplomatis akan lebih kentara jika Biden yang juara.
Debat pemilihan presiden juga seakan menguatkan pandangan ini. Sikap berbeda tampak atas lima masalah utama domestik, yaitu Covid-19, sistem kesehatan, ekonomi, isu ras, dan aborsi, demikian pula atas kebijakan luar negeri. Biden misalnya, mengusung tiga tujuan strategis utama, yaitu kesejahteraan, keamanan, dan promosi nilai-nilai demokrasi, sementara Trump seperti terlihat pada strategi Keamanan Nasional 2017: fokus pada upaya membendung kekuatan besar “revisionis” terutama Rusia dan Tiongkok.
Kedua, pandangan yang berbeda menyatakan bahwa kalaupun terjadi pergantian presiden, hal itu tidak berpengaruh banyak karena ada variabel lain di tingkat nasional dan internasional yang relatif tetap. Amerika adalah adi daya dalam struktur kekuatan dunia yang akan terus berupaya mempertahankan superioritasnya. Dominasinya secara militer juga kuat dan bisa digerakkan (mobilized) ke penjuru bumi manapun.
Bersama keunggulan kekuatan pemaksa (hard power) itu, watak hegemoniknya dalam sistem politik dan ekonomi global belum luntur. Pengaruh dan kekuasaan strukturalnya di beberapa lembaga internasional penting juga tidak luruh. Karena itu, meski presiden berubah dan meski terus mendapat tantangan dari big power lain seperti Rusia bahkan Tiongkok, variabel presiden tidak cukup kuat mengubah dasar-dasar kebijakan luar negeri Amerika.
Antisipasi
Dengan demikian, yang kemungkinan akan terjadi jikalau pun Biden menang adalah sebatas pergeseran pendekatan, gaya, dan retorika. Style keras bahkan cenderung penuh kontroversi dengan jargon Make America Great Again akan terus berlangsung jika Trump kembali terpilih. Sebaliknya, gaya lebih dialogis diplomatis akan lebih kentara jika Biden yang juara.
Lihat Juga :