Dari Sosialisme Islam menuju Negara Kesejahteraan: Agenda Kerakyatan SEMMI untuk Indonesia
Selasa, 07 Juli 2026 - 15:52 WIB
loading...
A
A
A
Agenda ini tidak harus menjadi program baru yang terpisah. Ia dapat menjadi lapis integrasi Asta Cita: menghubungkan investasi sumber daya manusia dengan pekerjaan berkualitas, hilirisasi dengan peningkatan upah dan keahlian, koperasi dengan mobilitas usaha, serta perlindungan sosial dengan kemampuan rumah tangga mempertahankan standar hidup.
SEMMI sebagai Mitra Gagasan
SEMMI didirikan pada 2 April 1956 sebagai organisasi mahasiswa yang berakar pada Syarikat Islam. Mandat historisnya adalah mempertemukan Islam, ilmu pengetahuan, gerakan mahasiswa, dan persoalan kebangsaan.
Karena itu, SEMMI tidak perlu terjebak pada pilihan semu antara menjadi pendukung pemerintah atau kekuatan kritis. Posisi yang relevan adalah dukungan strategis dan konstruktif: mendukung kebijakan yang sejalan dengan keadilan sosial, ekonomi kerakyatan, dan kemandirian nasional, sekaligus memberikan evaluasi berbasis riset, data, serta pengalaman masyarakat.
Dukungan tersebut harus diterjemahkan menjadi kontribusi institusional. SEMMI dapat membangun pusat kajian kebijakan kesejahteraan, mendampingi tata kelola dan digitalisasi koperasi, terlibat dalam mentoring Sekolah Rakyat, serta membangun pemantauan program sosial di daerah. Khusus penguatan kelas menengah, SEMMI dapat memproduksi kajian tentang transisi kerja kaum muda, keterjangkauan perumahan, mobilitas usaha kecil, biaya pendidikan, dan kerentanan profesional muda.
Terdapat titik temu yang kuat antara Asta Cita dan tradisi Syarikat Islam. Swasembada berkaitan dengan zelfbestuur; pembangunan manusia dengan prinsip setinggi-tinggi ilmu; koperasi dan pembangunan desa dengan sosialisme Islam; sedangkan harmoni sosial berkaitan dengan tauhid, persaudaraan, dan kebangsaan.
Sebagai calon ketua umum PB SEMMI, saya memandang ruang sejarah SEMMI hari ini bukan hanya menjadi pewaris Syarikat Islam, tetapi mitra strategis dalam membangun negara kesejahteraan Indonesia. Jika Sarekat Islam pernah mengubah kesadaran ekonomi menjadi gerakan kebangsaan, SEMMI harus mampu mengubah gagasan keadilan sosial menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
SEMMI sebagai Mitra Gagasan
SEMMI didirikan pada 2 April 1956 sebagai organisasi mahasiswa yang berakar pada Syarikat Islam. Mandat historisnya adalah mempertemukan Islam, ilmu pengetahuan, gerakan mahasiswa, dan persoalan kebangsaan.
Karena itu, SEMMI tidak perlu terjebak pada pilihan semu antara menjadi pendukung pemerintah atau kekuatan kritis. Posisi yang relevan adalah dukungan strategis dan konstruktif: mendukung kebijakan yang sejalan dengan keadilan sosial, ekonomi kerakyatan, dan kemandirian nasional, sekaligus memberikan evaluasi berbasis riset, data, serta pengalaman masyarakat.
Dukungan tersebut harus diterjemahkan menjadi kontribusi institusional. SEMMI dapat membangun pusat kajian kebijakan kesejahteraan, mendampingi tata kelola dan digitalisasi koperasi, terlibat dalam mentoring Sekolah Rakyat, serta membangun pemantauan program sosial di daerah. Khusus penguatan kelas menengah, SEMMI dapat memproduksi kajian tentang transisi kerja kaum muda, keterjangkauan perumahan, mobilitas usaha kecil, biaya pendidikan, dan kerentanan profesional muda.
Terdapat titik temu yang kuat antara Asta Cita dan tradisi Syarikat Islam. Swasembada berkaitan dengan zelfbestuur; pembangunan manusia dengan prinsip setinggi-tinggi ilmu; koperasi dan pembangunan desa dengan sosialisme Islam; sedangkan harmoni sosial berkaitan dengan tauhid, persaudaraan, dan kebangsaan.
Sebagai calon ketua umum PB SEMMI, saya memandang ruang sejarah SEMMI hari ini bukan hanya menjadi pewaris Syarikat Islam, tetapi mitra strategis dalam membangun negara kesejahteraan Indonesia. Jika Sarekat Islam pernah mengubah kesadaran ekonomi menjadi gerakan kebangsaan, SEMMI harus mampu mengubah gagasan keadilan sosial menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
(poe)