Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Kamis, 25 Juni 2026 - 06:45 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, pengambilan keputusan tidak pernah semata-mata menjadi persoalan prosedur, melainkan juga persoalan merawat perasaan kolektif. Sebab keputusan yang paling rasional sekalipun belum tentu menjadi keputusan yang paling bijaksana apabila meninggalkan luka sosial yang terlalu besar.
Barangkali inilah yang sering kali sulit dipahami apabila NU dibaca semata-mata melalui kacamata politik praktis. Ada dimensi kebudayaan yang bekerja di sana. Ada otoritas moral yang hidup di dalamnya. Ada pula kesadaran bahwa organisasi keagamaan pada akhirnya tidak hanya mengelola sumber daya, tetapi juga mengelola rasa memiliki dan persaudaraan.
Muktamar akan selesai dalam hitungan hari, tetapi persaudaraan di dalam NU harus terus berjalan melampaui satu periode kepengurusan, satu momentum Muktamar, bahkan melampaui generasi kita sendiri. Karena itu, menjaga kohesi sosial mungkin sama pentingnya dengan menentukan siapa yang menjadi tuan rumahnya.
Pada titik inilah saya semakin memahami mengapa para ulama terdahulu tidak selalu tergesa-gesa memproduksi pemenang. Mereka tampaknya lebih tertarik memelihara kebersamaan daripada memperbesar kompetisi. Sebab yang diwariskan NU dari generasi ke generasi sesungguhnya bukan budaya mengalahkan, melainkan budaya merawat.
Mungkin itulah pelajaran yang diam-diam sedang diajarkan Kiai Afifuddin kepada kita. Persoalannya bukan pada apakah harus memilih undian atau voting, melainkan pada kemampuan kita mengetahui kapan sebuah kompetisi harus diakhiri.
Di zaman yang mengubah hampir semua hal menjadi pertandingan final Piala Dunia, para ulama tampaknya sedang mengingatkan bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui adu penalti. Ada kalanya yang dibutuhkan bukan tambahan argumen atau tambahan suara, melainkan tambahan kerendahan hati untuk menerima bahwa beberapa pilihan memang sama-sama baik.
Sebab pada akhirnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang selalu mampu menghasilkan pemenang, melainkan organisasi yang mampu memastikan seluruh warganya tetap merasa menjadi bagian dari rumah yang sama setelah keputusan apa pun diambil.
Barangkali inilah yang sering kali sulit dipahami apabila NU dibaca semata-mata melalui kacamata politik praktis. Ada dimensi kebudayaan yang bekerja di sana. Ada otoritas moral yang hidup di dalamnya. Ada pula kesadaran bahwa organisasi keagamaan pada akhirnya tidak hanya mengelola sumber daya, tetapi juga mengelola rasa memiliki dan persaudaraan.
Muktamar akan selesai dalam hitungan hari, tetapi persaudaraan di dalam NU harus terus berjalan melampaui satu periode kepengurusan, satu momentum Muktamar, bahkan melampaui generasi kita sendiri. Karena itu, menjaga kohesi sosial mungkin sama pentingnya dengan menentukan siapa yang menjadi tuan rumahnya.
Pada titik inilah saya semakin memahami mengapa para ulama terdahulu tidak selalu tergesa-gesa memproduksi pemenang. Mereka tampaknya lebih tertarik memelihara kebersamaan daripada memperbesar kompetisi. Sebab yang diwariskan NU dari generasi ke generasi sesungguhnya bukan budaya mengalahkan, melainkan budaya merawat.
Mungkin itulah pelajaran yang diam-diam sedang diajarkan Kiai Afifuddin kepada kita. Persoalannya bukan pada apakah harus memilih undian atau voting, melainkan pada kemampuan kita mengetahui kapan sebuah kompetisi harus diakhiri.
Di zaman yang mengubah hampir semua hal menjadi pertandingan final Piala Dunia, para ulama tampaknya sedang mengingatkan bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui adu penalti. Ada kalanya yang dibutuhkan bukan tambahan argumen atau tambahan suara, melainkan tambahan kerendahan hati untuk menerima bahwa beberapa pilihan memang sama-sama baik.
Sebab pada akhirnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang selalu mampu menghasilkan pemenang, melainkan organisasi yang mampu memastikan seluruh warganya tetap merasa menjadi bagian dari rumah yang sama setelah keputusan apa pun diambil.
(jon)
Lihat Juga :