Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:21 WIB
loading...
Dear You dan Ketakutan...
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok SindoNews
A A A
Harryanto Aryodiguno
Ass. Prof. International Relations, President University

KETIKA film Dear You: A Love Letter to Chaoshan dituduh sebagai instrumen propaganda Beijing untuk memengaruhi diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, perdebatan yang muncul sebenarnya bukan tentang film itu sendiri. Perdebatan tersebut menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana identitas diaspora terbentuk, dan apa yang sebenarnya menentukan kesetiaan politik seseorang.

Film berbahasa Teochew tersebut menceritakan kisah seorang keturunan perantau yang menelusuri jejak keluarganya melalui surat-surat, kenangan, dan kiriman uang yang selama puluhan tahun menghubungkan Asia Tenggara dengan kampung halaman di Chaoshan, Guangdong.

Tidak ada pidato politik. Tidak ada slogan ideologis. Tidak ada seruan untuk mendukung Republik Rakyat Tiongkok. Yang ditampilkan justru pengalaman manusia yang sangat universal: kerinduan terhadap keluarga, pengorbanan para migran, dan hubungan emosional antara generasi yang terpisah oleh lautan.

Namun justru karena itulah film ini dianggap berbahaya oleh sebagian pengamat. Mereka melihat film tersebut sebagai bagian dari strategi soft power Tiongkok untuk membangun kembali hubungan emosional antara diaspora dan tanah leluhur. Dalam pandangan ini, nostalgia budaya dianggap sebagai pintu masuk bagi pengaruh politik. Semakin kuat seseorang merasa dekat dengan leluhurnya, semakin besar kemungkinan ia akan mengembangkan loyalitas politik terhadap negara asal leluhurnya.

Masalahnya, asumsi tersebut terlalu menyederhanakan cara identitas manusia bekerja. Ia mengandaikan bahwa identitas dapat dibentuk secara sepihak oleh budaya. Seolah-olah seseorang yang menonton film tentang leluhurnya akan otomatis mengubah orientasi politiknya. Seolah-olah memori sejarah lebih kuat daripada pengalaman hidup sehari-hari sebagai warga negara.

Padahal pengalaman diaspora Tionghoa di Asia Tenggara menunjukkan hal yang sebaliknya. Identitas tidak dibentuk terutama oleh film, bahasa, atau nostalgia leluhur. Identitas dibentuk oleh pengalaman sosial dan politik yang dialami seseorang sepanjang hidupnya.

Indonesia memberikan contoh yang menarik.
Selama puluhan tahun, negara menjalankan kebijakan asimilasi yang ketat terhadap warga keturunan Tionghoa. Nama Tionghoa diganti dengan nama Indonesia. Bahasa Mandarin dibatasi. Sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Organisasi budaya dibubarkan. Secara teori, kebijakan tersebut seharusnya menghapus identitas Tionghoa dari generasi berikutnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Badan Gizi Nasional...
Badan Gizi Nasional dan Reduksi Orkestrasi Pemenuhan Gizi
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Film Tanah Runtuh Karya...
Film Tanah Runtuh Karya Denny Siregar Soroti Konflik Poso dan Ikatan Keluarga
Didukung BNN, Sarah...
Didukung BNN, Sarah Sechan Cegah Narkotika Masuk Dunia Anak lewat Film Maju
Rekomendasi
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Beri Dukungan untuk Nikita Mirzani Jelang Sidang PK Perdana
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
Sidang PK Nikita Mirzani...
Sidang PK Nikita Mirzani Ditunda hingga 1 Juli 2026, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya
Berita Terkini
2 Calon Manajer Kopdes...
2 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal saat Latsarmil, TB Hasanuddin Berharap Lakukan Evaluasi Menyeluruh
Legal Standing Belum...
Legal Standing Belum Lengkap, Sidang Perdana Gugatan Bonatua Terhadap KPU-Rektor UGM Ditunda
Jaksa Agung Singgung...
Jaksa Agung Singgung Wacana Peleburan Pidum-Pidsus demi Penanganan Perkara Lebih Efisien
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP...
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP Baru, Jaksa Agung Sebut Masih Ada Ketidakseragaman di Lapangan
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved