Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Rabu, 24 Juni 2026 - 11:21 WIB
loading...
A
A
A
Faktanya tidak demikian. Negara modern tidak berdiri di atas kesamaan darah. Negara modern berdiri di atas kesamaan kewarganegaraan. Loyalitas politik lahir bukan karena seseorang mengetahui siapa leluhurnya, melainkan karena ia merasa memiliki masa depan bersama dengan masyarakat tempat ia hidup.
Di sinilah letak ironi terbesar dalam perdebatan mengenai Dear You. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa film tersebut akan membangkitkan identitas Tionghoa. Namun mereka gagal melihat bahwa identitas etnis justru sering kali diperkuat oleh perlakuan sosial dan politik yang membedakan seseorang dari kelompok mayoritas.
Semakin seseorang diingatkan bahwa dirinya berbeda, semakin besar kemungkinan identitas tersebut bertahan. Sebaliknya, ketika negara memperlakukan seluruh warga negara secara setara, identitas etnis tidak perlu menjadi sumber kecemasan politik. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Dear You merupakan propaganda.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa sebagian masyarakat begitu yakin bahwa sebuah film mampu menggoyahkan loyalitas jutaan warga negara. Jika loyalitas dapat dihancurkan oleh sebuah film berdurasi dua jam, maka masalahnya bukan pada film tersebut. Masalahnya terletak pada lemahnya hubungan antara negara dan warga negaranya.
Negara yang percaya diri tidak takut pada budaya. Negara yang percaya diri tidak takut pada bahasa leluhur. Negara yang percaya diri tidak takut pada sejarah migrasi. Yang seharusnya ditakuti adalah ketidakadilan, diskriminasi, dan kegagalan negara menciptakan rasa memiliki yang sama bagi seluruh warga negaranya.
Pada akhirnya, ancaman terbesar terhadap integrasi diaspora bukanlah sebuah film tentang surat-surat lama dari kampung halaman. Ancaman terbesar justru muncul ketika masyarakat terus mengingatkan sebagian warganya bahwa mereka berbeda, bahwa mereka belum sepenuhnya diterima, dan bahwa loyalitas mereka harus selalu diuji.
Sebab sejarah menunjukkan satu hal yang sangat sederhana: manusia jarang berkhianat karena mengenal leluhurnya. Tetapi manusia dapat menjauh ketika mereka terus menerus dibuat merasa asing di tanah yang mereka sebut sebagai rumah.
Di sinilah letak ironi terbesar dalam perdebatan mengenai Dear You. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa film tersebut akan membangkitkan identitas Tionghoa. Namun mereka gagal melihat bahwa identitas etnis justru sering kali diperkuat oleh perlakuan sosial dan politik yang membedakan seseorang dari kelompok mayoritas.
Semakin seseorang diingatkan bahwa dirinya berbeda, semakin besar kemungkinan identitas tersebut bertahan. Sebaliknya, ketika negara memperlakukan seluruh warga negara secara setara, identitas etnis tidak perlu menjadi sumber kecemasan politik. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Dear You merupakan propaganda.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa sebagian masyarakat begitu yakin bahwa sebuah film mampu menggoyahkan loyalitas jutaan warga negara. Jika loyalitas dapat dihancurkan oleh sebuah film berdurasi dua jam, maka masalahnya bukan pada film tersebut. Masalahnya terletak pada lemahnya hubungan antara negara dan warga negaranya.
Negara yang percaya diri tidak takut pada budaya. Negara yang percaya diri tidak takut pada bahasa leluhur. Negara yang percaya diri tidak takut pada sejarah migrasi. Yang seharusnya ditakuti adalah ketidakadilan, diskriminasi, dan kegagalan negara menciptakan rasa memiliki yang sama bagi seluruh warga negaranya.
Pada akhirnya, ancaman terbesar terhadap integrasi diaspora bukanlah sebuah film tentang surat-surat lama dari kampung halaman. Ancaman terbesar justru muncul ketika masyarakat terus mengingatkan sebagian warganya bahwa mereka berbeda, bahwa mereka belum sepenuhnya diterima, dan bahwa loyalitas mereka harus selalu diuji.
Sebab sejarah menunjukkan satu hal yang sangat sederhana: manusia jarang berkhianat karena mengenal leluhurnya. Tetapi manusia dapat menjauh ketika mereka terus menerus dibuat merasa asing di tanah yang mereka sebut sebagai rumah.
(rca)
Lihat Juga :