Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:21 WIB
loading...
A A A
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di saat yang sama ketika negara mendorong asimilasi, negara juga mempertahankan berbagai mekanisme yang membedakan warga keturunan Tionghoa dari warga negara lainnya. Kehadiran SBKRI menjadi simbol paling jelas dari kontradiksi tersebut. Pesan yang diterima oleh masyarakat Tionghoa sangat membingungkan: mereka diminta menjadi Indonesia sepenuhnya, tetapi pada saat yang sama terus diingatkan bahwa mereka berbeda.

Akibatnya, kesadaran identitas tidak lahir dari Beijing. Kesadaran identitas lahir dari pengalaman diperlakukan berbeda di negeri sendiri. Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai bentuk hingga hari ini. Di Yogyakarta, misalnya, perdebatan mengenai hak kepemilikan tanah masih sering dikaitkan dengan kategori "pribumi" dan "non-pribumi".

Banyak warga keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia, berbicara bahasa Indonesia atau bahasa daerah sebagai bahasa ibu, tidak memiliki hubungan langsung dengan Tiongkok, bahkan tidak memahami budaya leluhur mereka secara mendalam. Namun mereka tetap ditempatkan dalam kategori yang berbeda.

Dalam situasi seperti ini, identitas etnis memperoleh makna politik bukan karena pengaruh film atau propaganda asing, melainkan karena pengalaman konkret sebagai warga negara. Inilah kelemahan mendasar dari tuduhan bahwa Dear You merupakan ancaman politik.

Tuduhan tersebut berangkat dari asumsi bahwa diaspora Tionghoa merupakan kelompok yang secara inheren rentan terhadap pengaruh Beijing hanya karena memiliki leluhur yang berasal dari Tiongkok. Logika seperti ini tidak jauh berbeda dengan cara berpikir yang selama puluhan tahun digunakan untuk mencurigai warga keturunan Tionghoa sebagai "orang luar" yang loyalitasnya selalu diragukan.

Padahal realitas sosial menunjukkan hal yang berbeda. Sebagian besar generasi muda keturunan Tionghoa di Indonesia, Malaysia, maupun Singapura saat ini tumbuh dalam lingkungan nasional yang sama dengan warga negara lainnya. Mereka bersekolah di sistem pendidikan nasional, berbicara dalam bahasa nasional, bekerja di perusahaan lokal, membayar pajak kepada negara tempat mereka tinggal, dan menghadapi tantangan hidup yang sama dengan warga negara lainnya.

Mereka mungkin memiliki ketertarikan terhadap budaya leluhur mereka, sebagaimana warga keturunan Arab tertarik pada Timur Tengah atau warga keturunan India tertarik pada India. Namun ketertarikan budaya tidak otomatis menghasilkan kesetiaan politik.

Jika hubungan budaya selalu dianggap sebagai ancaman politik, maka hampir seluruh negara modern akan menghadapi krisis loyalitas. Warga Australia keturunan Inggris akan dicurigai setia kepada London. Warga Amerika keturunan Irlandia akan dicurigai setia kepada Dublin. Warga Argentina keturunan Italia akan dicurigai setia kepada Roma.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
Trailer Perumahan Laddaland...
Trailer Perumahan Laddaland Dirilis, Horor Paling Sedih Awi Suryadi
Rekomendasi Film Keluarga,...
Rekomendasi Film Keluarga, Madagascar 3: Europe's Most Wanted Streaming di VISION+
Masayu Anastasia Jadi...
Masayu Anastasia Jadi Dokter Forensik di Film Autopsy: Dead Body Can Talk, Akui Banyak Tantangan
Rekomendasi
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
Perkuat Jaringan di...
Perkuat Jaringan di Jatim, XLSMART Perluas 5G Blanket Coverage di 8 Kabupaten/Kota
UNJ Dampingi Penguatan...
UNJ Dampingi Penguatan Kapasitas Guru PKBM Ghaisan Cendekia
Berita Terkini
Amien Desak Prabowo...
Amien Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Alumni KPK Masuk Tim...
Alumni KPK Masuk Tim Khusus Usut Kasus Febrie Adriansyah, Budi Prasetyo: Progres yang Positif
Prabowo Pimpin Rapat...
Prabowo Pimpin Rapat 5 Jam soal Koperasi Desa Merah Putih di Istana, Ini Hasilnya
Di Forum BRICS 2026,...
Di Forum BRICS 2026, KSPSI AGN Dorong AI Berpihak pada Pekerja
Kejagung Ralat Pernyataan,...
Kejagung Ralat Pernyataan, Status Febrie Adriansyah Tetap Tersangka di 3 Sprindik Baru
Infografis
Profil Andi Saputra,...
Profil Andi Saputra, Hakim Ad Hoc Tipikor yang Sampaikan Dissenting Opinion Vonis Nadiem
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved