BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Sabtu, 06 Juni 2026 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Menghadapi kondisi di mana kebijakan suku bunga kehilangan daya dorong terhadap nilai tukar, BI perlu melakukan pergeseran strategi dari pendekatan single instrument menuju pendekatan policy mix yang terkoordinasi lebih kuat, khususnya dengan pemerintah di bidang fiskal dan kelembagaan.
Pertama, yakin BI mengerti bahwa intervensi suku bunga secara terus-menerus tanpa perbaikan persepsi risiko akan menimbulkan output cost yang besar tanpa manfaat sepadan. Sehingga langkah yang kedepan yang lebih rasional adalah mengelola suku bunga acuan dengan lebih cermat sambil memperkuat komunikasi kebijakan (forward guidance) yang kredibel.
Kedua, BI perlu mengintensifkan koordinasi dengan pemerintah (Kementerian Keuangan) untuk menurunkan fiscal risk premium. Misalnya melalui komitmen terukur terhadap konsolidasi fiskal dan pengelolaan defisit yang lebih disiplin.
Ketiga, BI bisa memperluas instrumen nonkonvensional seperti kebijakan makroprudensial yang mendorong aliran devisa dari sektor riil. Ini bisa melalui relaksasi ketentuan hasil ekspor dan insentif bagi eksportir untuk menahan devisa di dalam negeri.
Keempat, yang terpenting, BI seyogyanya menyadari bahwa pemulihan kepercayaan terhadap rupiah tidak bisa dilakukan sendirian tanpa adanya sinyal kuat dari pemerintah mengenai perbaikan tata kelola, transparansi kebijakan, dan konsistensi arah pembangunan.
Sementara pasar sebenarnya sedang mengkhawatirkan kredibilitas fiskal Indonesia karena memburuknya tren defisit. Dan kekhawatiran ini mulai menciptakan lingkaran umpan balik negatif antara pelemahan rupiah dan risiko fiskal. Kekhawatiran pasar tidak semata-mata karena angka defisit APBN kuartal I yang mencapai Rp240,1 triliun atau keseimbangan primer yang sudah negatif Rp95,8 triliun.
Masalah utamanya ialah pada arah pergerakan yang mengkhawatirkan: belanja tumbuh 31,4 persen secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan penerimaan yang hanya 10,5 persen, sementara pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp257,4 triliun. Investor selalu melihat ke depan, sehingga mereka mempertanyakan keberlanjutan tren ini jika harga minyak tetap tinggi dan rupiah terus melemah.
Pertama, yakin BI mengerti bahwa intervensi suku bunga secara terus-menerus tanpa perbaikan persepsi risiko akan menimbulkan output cost yang besar tanpa manfaat sepadan. Sehingga langkah yang kedepan yang lebih rasional adalah mengelola suku bunga acuan dengan lebih cermat sambil memperkuat komunikasi kebijakan (forward guidance) yang kredibel.
Kedua, BI perlu mengintensifkan koordinasi dengan pemerintah (Kementerian Keuangan) untuk menurunkan fiscal risk premium. Misalnya melalui komitmen terukur terhadap konsolidasi fiskal dan pengelolaan defisit yang lebih disiplin.
Ketiga, BI bisa memperluas instrumen nonkonvensional seperti kebijakan makroprudensial yang mendorong aliran devisa dari sektor riil. Ini bisa melalui relaksasi ketentuan hasil ekspor dan insentif bagi eksportir untuk menahan devisa di dalam negeri.
Keempat, yang terpenting, BI seyogyanya menyadari bahwa pemulihan kepercayaan terhadap rupiah tidak bisa dilakukan sendirian tanpa adanya sinyal kuat dari pemerintah mengenai perbaikan tata kelola, transparansi kebijakan, dan konsistensi arah pembangunan.
Sementara pasar sebenarnya sedang mengkhawatirkan kredibilitas fiskal Indonesia karena memburuknya tren defisit. Dan kekhawatiran ini mulai menciptakan lingkaran umpan balik negatif antara pelemahan rupiah dan risiko fiskal. Kekhawatiran pasar tidak semata-mata karena angka defisit APBN kuartal I yang mencapai Rp240,1 triliun atau keseimbangan primer yang sudah negatif Rp95,8 triliun.
Masalah utamanya ialah pada arah pergerakan yang mengkhawatirkan: belanja tumbuh 31,4 persen secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan penerimaan yang hanya 10,5 persen, sementara pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp257,4 triliun. Investor selalu melihat ke depan, sehingga mereka mempertanyakan keberlanjutan tren ini jika harga minyak tetap tinggi dan rupiah terus melemah.
Lihat Juga :