Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
Rabu, 03 Juni 2026 - 21:59 WIB
loading...
A
A
A
Kerentanan itu bersifat struktural. Basis investor domestik di pasar modal kita masih terlalu tipis untuk menahan goncangan ketika investor asing memutuskan untuk keluar. Pasar obligasi domestik belum cukup matang untuk menyerap volatilitas tanpa mengguncang nilai tukar.
Ketergantungan kita pada impor energi menciptakan tekanan ganda: melemahkan neraca berjalan sekaligus membebani APBN saat harga minyak melonjak. Tiga kerentanan ini saling mengunci, dan selama belum ada terobosan yang nyata pada salah satu di antaranya, kita akan terus berputar dalam pola yang sama.
Tidak ada solusi tunggal yang elegan untuk masalah yang telah berlapis-lapis selama bertahun-tahun. Tapi ada beberapa langkah yang tidak bisa terus ditunda. Pemerintah perlu menyajikan revisi asumsi makro APBN secara terbuka dan segera — bukan karena pasar ingin melihat pemerintah mengakui kesalahan, melainkan karena transparansi adalah fondasi kepercayaan.
Ketika asumsi resmi meleset lebih dari Rp1.300 dari realitas dan pemerintah tidak segera mengoreksinya secara resmi, pasar membaca hal itu sebagai sinyal bahwa angka-angka resmi lainnya juga mungkin tidak dapat diandalkan. Dari sisi pasar modal, pendalaman basis investor domestik bukan proyek jangka panjang yang bisa ditunda— ia harus dimulai sekarang, dengan insentif nyata bagi investor ritel dan institusi lokal agar tidak ikut-ikutan menjual saat asing keluar.
Dari sisi eksternal, hilirisasi dan diversifikasi ekspor harus dibuktikan dari angka devisa yang masuk, bukan dari jumlah regulasi yang ditandatangani. Rupiah di atas Rp17.900 dan IHSG yang anjlok hampir 30 persen bukan dua masalah terpisah yang perlu dua solusi terpisah. Keduanya adalah manifestasi dari satu masalah yang sama: kepercayaan yang sedang diuji.
Di balik setiap angka itu ada jutaan keputusan ekonomi — pengusaha yang menunda ekspansi, investor yang menunggu di pinggir, pekerja yang khawatir tentang harga-harga bulan depan. Dan kepercayaan, sekali retak, tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata.
Pemerintah harus segera memperbaikinya dengan tindakan yang konsisten, transparan, dan berani untuk mengakui bahwa ada yang perlu dibenahi — bukan sekadar narasi penuh harapan sebelum semua orang melihat kondisinya memburuk.
Ketergantungan kita pada impor energi menciptakan tekanan ganda: melemahkan neraca berjalan sekaligus membebani APBN saat harga minyak melonjak. Tiga kerentanan ini saling mengunci, dan selama belum ada terobosan yang nyata pada salah satu di antaranya, kita akan terus berputar dalam pola yang sama.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Tidak ada solusi tunggal yang elegan untuk masalah yang telah berlapis-lapis selama bertahun-tahun. Tapi ada beberapa langkah yang tidak bisa terus ditunda. Pemerintah perlu menyajikan revisi asumsi makro APBN secara terbuka dan segera — bukan karena pasar ingin melihat pemerintah mengakui kesalahan, melainkan karena transparansi adalah fondasi kepercayaan.
Ketika asumsi resmi meleset lebih dari Rp1.300 dari realitas dan pemerintah tidak segera mengoreksinya secara resmi, pasar membaca hal itu sebagai sinyal bahwa angka-angka resmi lainnya juga mungkin tidak dapat diandalkan. Dari sisi pasar modal, pendalaman basis investor domestik bukan proyek jangka panjang yang bisa ditunda— ia harus dimulai sekarang, dengan insentif nyata bagi investor ritel dan institusi lokal agar tidak ikut-ikutan menjual saat asing keluar.
Dari sisi eksternal, hilirisasi dan diversifikasi ekspor harus dibuktikan dari angka devisa yang masuk, bukan dari jumlah regulasi yang ditandatangani. Rupiah di atas Rp17.900 dan IHSG yang anjlok hampir 30 persen bukan dua masalah terpisah yang perlu dua solusi terpisah. Keduanya adalah manifestasi dari satu masalah yang sama: kepercayaan yang sedang diuji.
Di balik setiap angka itu ada jutaan keputusan ekonomi — pengusaha yang menunda ekspansi, investor yang menunggu di pinggir, pekerja yang khawatir tentang harga-harga bulan depan. Dan kepercayaan, sekali retak, tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata.
Pemerintah harus segera memperbaikinya dengan tindakan yang konsisten, transparan, dan berani untuk mengakui bahwa ada yang perlu dibenahi — bukan sekadar narasi penuh harapan sebelum semua orang melihat kondisinya memburuk.
(rca)