Rupiah dan Ujian Kepercayaan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WIB
loading...
Rupiah dan Ujian Kepercayaan
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto: Istimewa
A A A
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute

RUPIAH bukan sekadar angka di layar dealing room. Ia adalah semacam termometer kepercayaan: ketika panas global naik dan keyakinan domestik turun, jarumnya bergerak cepat. Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25 persen, setelah rupiah berada di sekitar Rp17.700 per dolar AS sehari sebelumnya. Ini bukan episode biasa, ini semacam rem darurat. Ini mengingatkan kita bahwa sejarah rupiah selalu bergerak di antara dua kutub: guncangan luar dan kelemahan dalam negeri.

Sejak krisis Asia 1997–1998, masyarakat Indonesia belajar bahwa pelemahan kurs dapat berubah menjadi krisis ekonomi, politik, dan sosial bila dibiarkan bertemu dengan kepanikan. Rupiah pernah jatuh sangat dalam pada masa itu; lalu beberapa kali kembali tertekan dalam krisis global 2008, taper tantrum 2013, pandemi, periode kenaikan suku bunga The Fed, hingga gejolak 2026. Namun, menyamakan semua episode dengan 1998 juga keliru. Perbankan kini lebih kuat, cadangan devisa lebih tebal, inflasi lebih terkendali, dan rezim kurs lebih fleksibel. Yang mirip bukan struktur krisisnya, melainkan pelajarannya: pasar bisa memaafkan tekanan eksternal, tetapi sulit memaafkan sinyal kebijakan yang membingungkan.

Kenaikan BI Rate adalah langkah yang dapat dipahami. Dalam situasi dolar menguat, harga minyak bergejolak, dan modal portofolio mudah berpindah, bank sentral harus menunjukkan bahwa rupiah tidak dibiarkan berjalan sendiri. BI juga menaikkan imbal hasil SRBI hingga 6,45 persen untuk tenor 12 bulan, dan aliran modal asing pada triwulan II kembali masuk sekitar 5,5 miliar dolar AS hingga 18 Mei 2026. Ini membantu meredakan tekanan jangka pendek. Tetapi di sinilah letak jebakannya: dana portofolio bukan fondasi rumah, melainkan tamu yang datang karena kursi nyaman. Begitu kursinya kurang menarik, ia dapat pergi lebih cepat daripada saat datang.

Karena itu, solusi rupiah tidak boleh disempitkan menjadi “BI harus menaikkan bunga lagi”. Suku bunga adalah obat stabilisasi, bukan vitamin pertumbuhan. Terlalu rendah dapat melemahkan rupiah; terlalu tinggi dapat menekan konsumsi, investasi, harga obligasi, dan pasar saham. Reaksi IHSG yang melemah setelah kenaikan BI Rate menunjukkan dilema itu. Dunia usaha membutuhkan stabilitas kurs, tetapi juga membutuhkan biaya modal yang tidak mencekik. Pemerintah dan BI harus mengelola trade-off ini dengan kepala dingin, bukan dengan slogan.

Pemerintah memegang separuh kunci. Rupiah tidak akan kuat secara berkelanjutan bila pasar meragukan disiplin fiskal, kualitas belanja, dan arah kebijakan ekonomi. Setiap rencana belanja besar harus dijelaskan sumber dan dampaknya; setiap kebijakan ekspor-impor harus dipastikan tidak menambah ketidakpastian; setiap pernyataan pejabat tentang bank sentral harus menjaga kesan independensi BI. Dalam ekonomi terbuka, kata-kata pejabat kadang-kadang sama mahalnya dengan cadangan devisa.

Kebijakan devisa hasil ekspor juga perlu ditempatkan secara cerdas. Menahan devisa terlalu keras dapat dianggap sebagai kontrol yang membuat investor curiga. Namun, membiarkan devisa sumber daya alam terlalu cepat kembali ke luar negeri juga membuat rupiah rapuh. Jalan tengahnya ialah insentif yang kredibel: instrumen valas domestik yang likuid, imbal hasil masuk akal, kepastian pajak, kemudahan hedging, serta transparansi aturan. Pelaku usaha tidak boleh diperlakukan seolah semua spekulan; tetapi mereka juga perlu diingatkan bahwa menikmati keuntungan dari tanah Indonesia membawa tanggung jawab menjaga ekosistem valas Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bumi Eropa Membara,...
Bumi Eropa Membara, Dunia Memilih Bisu: Pelajaran dari Gelombang Panas yang Tak Lagi Anomali
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Dari Cinta Menjadi Luka:...
Dari Cinta Menjadi Luka: Kekerasan Berpacaran Perspektif Psikologi
Pilihan Praperadilan...
Pilihan Praperadilan untuk Roy Suryo dan Sidang untuk dr Tifa dalam Polemik Ijazah Jokowi
Rupiah Hari Ini Terkapar...
Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
Rekomendasi
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved