Rupiah dan Ujian Kepercayaan
Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WIB
loading...
A
A
A
BI sendiri perlu melanjutkan strategi yang lebih halus daripada sekadar mempertahankan angka tertentu. Intervensi spot, DNDF, NDF offshore, SRBI, dan transaksi berbasis mata uang lokal penting, tetapi yang lebih penting adalah konsistensi pesan. Pasar tidak menuntut bank sentral superkuasa. Pasar menuntut agar bank sentral dapat dipercaya. BI harus berani mengatakan bahwa rupiah boleh bergerak mengikuti fundamental, tetapi volatilitas berlebihan akan dilawan. Ini berbeda dengan janji mempertahankan level kurs tertentu, yang justru mengundang spekulasi.
Pelaku usaha juga tidak bisa hanya menonton. Perusahaan dengan utang dolar dan pendapatan rupiah harus berhenti memperlakukan lindung nilai sebagai biaya mubazir. Importir perlu memperbaiki kontrak, persediaan, dan strategi harga. Eksportir harus membangun natural hedge, bukan sekadar menunggu kurs menguntungkan. Pelemahan rupiah selalu menjadi pajak tersembunyi bagi rumah tangga, tetapi juga ujian kedewasaan manajemen risiko korporasi.
Ada pandangan tandingan yang mengatakan rupiah lemah justru baik untuk ekspor. Secara teori, benar. Namun, teori itu bekerja bila industri punya kapasitas, kandungan impor rendah, logistik efisien, dan akses pasar kuat. Bila bahan baku, energi, mesin, dan utang banyak berdenominasi dolar, rupiah yang lemah justru menjadi beban biaya. Indonesia tidak bisa menunggu kurs lemah untuk menjadi kompetitif. Kita harus menjadi kompetitif agar tidak takut pada kurs.
Sejarah rupiah mengajarkan satu hal sederhana: mata uang tidak jatuh hanya karena sentimen pasar; ia melemah ketika kepercayaan mulai kehilangan pegangan. Pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, BI menjaga kredibilitas, dan dunia usaha menjaga kewaspadaan. Rupiah tidak harus perkasa setiap hari. Tetapi ia harus dikelola dengan kebijakan yang membuat publik percaya bahwa di balik angka yang bergetar, negara masih memegang kemudi.
Pelaku usaha juga tidak bisa hanya menonton. Perusahaan dengan utang dolar dan pendapatan rupiah harus berhenti memperlakukan lindung nilai sebagai biaya mubazir. Importir perlu memperbaiki kontrak, persediaan, dan strategi harga. Eksportir harus membangun natural hedge, bukan sekadar menunggu kurs menguntungkan. Pelemahan rupiah selalu menjadi pajak tersembunyi bagi rumah tangga, tetapi juga ujian kedewasaan manajemen risiko korporasi.
Ada pandangan tandingan yang mengatakan rupiah lemah justru baik untuk ekspor. Secara teori, benar. Namun, teori itu bekerja bila industri punya kapasitas, kandungan impor rendah, logistik efisien, dan akses pasar kuat. Bila bahan baku, energi, mesin, dan utang banyak berdenominasi dolar, rupiah yang lemah justru menjadi beban biaya. Indonesia tidak bisa menunggu kurs lemah untuk menjadi kompetitif. Kita harus menjadi kompetitif agar tidak takut pada kurs.
Sejarah rupiah mengajarkan satu hal sederhana: mata uang tidak jatuh hanya karena sentimen pasar; ia melemah ketika kepercayaan mulai kehilangan pegangan. Pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, BI menjaga kredibilitas, dan dunia usaha menjaga kewaspadaan. Rupiah tidak harus perkasa setiap hari. Tetapi ia harus dikelola dengan kebijakan yang membuat publik percaya bahwa di balik angka yang bergetar, negara masih memegang kemudi.
(rca)
Lihat Juga :