Mengapa Amerika Serikat Memblokade Pelabuhan Iran?
Senin, 04 Mei 2026 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Memang, blokade AS sangat menyakitkan secara ekonomi. Iran mungkin mencari penyaluran minyak alternatif seperti jalur darat, tetapi itu jauh lebih tidak mudah. AS mungkin juga akan menghalanginya.
Proposal perdamaian terbaru Iran menegaskan blokade AS itu berhasil. Setiap posisi negosiasi Iran sebelumnya dimulai dengan tuntutan mencabut kondisi gencatan senjata Lebanon. Dengan menghentikan menyerang Hizbullah, Iran mau duduk dimeja diplomasi.
Namun, proposal terbaru Iran mengatakan untuk mencabut blokade angkatan laut AS atas Pelabuhan Iran dan Iran akan melakukan diplomasi. Hal yang paling mendesak bagi Iran tampaknya bukanlah bom dan rudal, yang sudah berhenti pada 7 April 2026. Tuntutan Iran adalah membuka “blokade atas blokade”. Tekanan ekonomi yang berjalan di USD500 juta per hari adalah apa yang mematahkan posisi Iran. Di pintu keluar Teluk Oman, blokade AS yang tenang, sabar, sedang menghancurkan Iran secara ekonomi.
Secara keseluruhan, apakah tekanan “blokade atas blockade” semacam ini efektif dan berhasil? Mungkin ini belum tentu menjatuhkan Iran. Kuba telah diblokade puluhan tahun, tetapi rezim tetap berdiri.
Iran sendiri sudah terbiasa hidup dalam tekanan sejak Revolusi Iran 1979. Ia acap membangun kemampuan bertahan melalui ekonomi bayangan, perdagangan gelap, jaringan proksi, dan nasionalisme defensif. Bahkan, tekanan eksternal kerap dipakai rezim untuk menyatukan rakyat di bawah bendera dan slogan perlawanan. Singkatnya, musuh dari luar acap menjadi hadiah politik bagi penguasa di dalam.
Pungkasannya, blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran memperlihatkan satu paradoks bahwa kekuatan besar seperti AS masih percaya bahwa penderitaan ekonomi Iran dapat menggantikan atau memaksanya untuk melakukan diplomasi. Padahal, kelaparan tidak selalu melahirkan kompromi. Justru, ia acap melahirkan kemarahan, dendam dan perlawanan yang konstan.
Proposal perdamaian terbaru Iran menegaskan blokade AS itu berhasil. Setiap posisi negosiasi Iran sebelumnya dimulai dengan tuntutan mencabut kondisi gencatan senjata Lebanon. Dengan menghentikan menyerang Hizbullah, Iran mau duduk dimeja diplomasi.
Namun, proposal terbaru Iran mengatakan untuk mencabut blokade angkatan laut AS atas Pelabuhan Iran dan Iran akan melakukan diplomasi. Hal yang paling mendesak bagi Iran tampaknya bukanlah bom dan rudal, yang sudah berhenti pada 7 April 2026. Tuntutan Iran adalah membuka “blokade atas blokade”. Tekanan ekonomi yang berjalan di USD500 juta per hari adalah apa yang mematahkan posisi Iran. Di pintu keluar Teluk Oman, blokade AS yang tenang, sabar, sedang menghancurkan Iran secara ekonomi.
Secara keseluruhan, apakah tekanan “blokade atas blockade” semacam ini efektif dan berhasil? Mungkin ini belum tentu menjatuhkan Iran. Kuba telah diblokade puluhan tahun, tetapi rezim tetap berdiri.
Iran sendiri sudah terbiasa hidup dalam tekanan sejak Revolusi Iran 1979. Ia acap membangun kemampuan bertahan melalui ekonomi bayangan, perdagangan gelap, jaringan proksi, dan nasionalisme defensif. Bahkan, tekanan eksternal kerap dipakai rezim untuk menyatukan rakyat di bawah bendera dan slogan perlawanan. Singkatnya, musuh dari luar acap menjadi hadiah politik bagi penguasa di dalam.
Pungkasannya, blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran memperlihatkan satu paradoks bahwa kekuatan besar seperti AS masih percaya bahwa penderitaan ekonomi Iran dapat menggantikan atau memaksanya untuk melakukan diplomasi. Padahal, kelaparan tidak selalu melahirkan kompromi. Justru, ia acap melahirkan kemarahan, dendam dan perlawanan yang konstan.
(poe)
Lihat Juga :