Nasib dan Perjuangan Buruh

Jum'at, 01 Mei 2026 - 20:53 WIB
loading...
A A A
Di saat biaya hidup melambung tinggi, harga kebutuhan pokok mencekik, dan bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) siap menerkam kapan saja, buruh dipaksa untuk terus "berterima kasih" atas pekerjaan yang tersisa. Harapan untuk mendapatkan kepastian jaminan sosial dan upah yang layak seringkali menguap begitu saja. Namun, untuk memahami mengapa ini terus terjadi, kita tidak bisa hanya melihat ke dalam negeri.

Terperangkap dalam Rantai Pasok Global

Dalam lanskap ekonomi kontemporer, buruh Indonesia tidak berdiri sendiri. Penderitaan mereka terhubung langsung dalam apa yang disebut sebagai global production networks, yakni rantai pasok global yang menghubungkan bahan baku, tenaga kerja, modal, hingga pasar dalam satu sistem lintas negara.

Ambil contoh sepasang sepatu yang diproduksi di Surabaya. Sepatu itu bisa saja dirancang di Eropa, menggunakan bahan dari Asia Timur, dan dijual di Amerika Serikat dengan harga selangit. Dalam sistem seperti ini, posisi buruh Indonesia sering kali berada di dasar piramida. Sekadar menjadi mesin produksi dengan label "tenaga kerja murah".

Logika ini selaras dengan world-systems theory dari Immanuel Wallerstein. Dunia terbagi ke dalam pusat, semi-periferi, dan periferi (pinggiran). Harus diakui, jika Indonesia masih terjebak di posisi pinggiran. Kita sekadar menjadi pemasok keringat dan bahan mentah, bukan pengendali nilai tambah (desain, teknologi, atau merek) yang meraup keuntungan terbesar.

Akibatnya, dorongan untuk menekan upah buruh serendah mungkin bukan hanya datang dari keserakahan pengusaha domestik, tetapi juga dari kompetisi global yang brutal melawan negara seperti Vietnam, Bangladesh, atau India. Dalam kapitalisme global, modal sangat mudah berpindah ke negara yang menawarkan biaya produksi termurah. Sebaliknya, buruh terikat pada ruang geografisnya. Ketimpangan mobilitas inilah yang kembali melucuti posisi tawar buruh hingga ke akar-akarnya.

Persoalan ini merembet pada kualitas kerja. Demi memenuhi standar harga murah yang ditekan oleh perusahaan multinasional, jam kerja diperpanjang, sistem kerja kontrak semakin banyak, dan perlindungan sosial yang tak jelas juntrungannya. Ironisnya, dalam narasi pembangunan nasional, keberhasilan menarik investasi asing dengan memamerkan "upah murah" sering diklaim sebagai prestasi. Padahal, tanpa adanya strategi yang jelas, ini hanyalah jalan menuju low-wage trap (jebakan ekonomi berupah rendah). Indonesia berisiko hanya menjadi "pabrik dunia", tanpa pernah benar-benar mencicipi kue kesejahteraannya.

Menagih Komitmen Negara dan Memperluas Solidaritas

Refleksi May Day harus bergerak melampaui tuntutan normatif tahunan. Mengubah nasib buruh berarti mengubah cara negara memosisikan dirinya dalam ekonomi global. Ada beberapa komitmen struktural yang harus segera ditagih:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Tegaskan Buruh Tetap Bisa Demo Sesuai Aturan
Kisah Ristiana Artanti,...
Kisah Ristiana Artanti, Anak Buruh Proyek yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM
Gelombang PHK Hantam...
Gelombang PHK Hantam Pulau Jawa, Said Iqbal Ungkap 3 Faktor Penyebabnya
Momen Presiden Prabowo...
Momen Presiden Prabowo Ziarah dan Berdoa di Makam Marsinah
Rekomendasi
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Gempa Besar Berkekuatan...
Gempa Besar Berkekuatan M6,7 Guncang Palu Sulteng
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
Berita Terkini
Presiden Prabowo: Selamat...
Presiden Prabowo: Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved