Perpecahan dalam Tubuh Kepemimpinan Iran

Senin, 20 April 2026 - 13:12 WIB
loading...
A A A
Ebrahim Raisi, yang naik sebagai presiden pada 2021, bukanlah penerus konsensus—ia adalah kemenangan kaum ultra-konservatif yang lelah dengan retorika reformis yang tidak membuahkan hasil. Namun, kemenangan itu tidak serta-merta menyatukan medan perang di dalam tubuh pemerintah.

Karenanya, Iran bukanlah entitas tunggal yang homogen. Ia adalah hasil dari tarik-menarik panjang antara berbagai kepentingan, ideologi, dan generasi elite. Jika satu kutub, misalnya kelompok hardliner, menjadi terlalu dominan, maka sistem justru kehilangan fleksibilitasnya. Dan, dalam politik dunia yang rumit, kekakuan acap lebih berbahaya dari kelemahan.

Perang Iran 2026 memang telah mengubah banyak hal. Namun, perubahan yang paling mencolok bukan hanya pada peta militer, melainkan juga pada struktur psikologis dan politik elite Iran.

Kematian tokoh-tokoh kunci, seperti sang Rahbar Ali Khamenei, yang selama ini terbukti menjadi penyangga stabilitas, telah menciptakan kekosongan yang tidak mudah diisi. Dalam sistem yang sangat bergantung pada figur, kehilangan satu sosok bukan sekadar kehilangan kepemimpinan, melainkan juga hilangnya keseimbangan.

Kematian figur-figur penting dalam lingkar kekuasaan membuat suara moderasi kehilangan pijakan. Tokoh-tokoh yang selama ini berfungsi sebagai negosiator dan jembatan, seperti Ali Larijani, yang mampu menerjemahkan bahasa ideologi ke dalam kalkulasi politik, misalnya, kapan berperang dan berdamai, tidak lagi hadir.

Iran masih perlu pemandu dalam badai perang. Yang tersisa adalah suara yang lebih keras, tegas, dan sempit. Dalam situasi seperti ini, konsolidasi kekuasaan memang tampak terjadi. Kepemimpinan baru muncul di bawah Mujtaba Khamenei (yang diduga sedang koma) dengan dukungan institusi militer dan keamanan yang kuat. Namun, konsolidasi ini menyimpan paradoks bahwa semakin kuat kontrol di permukaan, semakin besar potensi ketegangan di bawahnya.

Perang 2026 mempercepat proses ini. Tekanan eksternal memberi legitimasi bagi pendekatan konfrontatif oleh kelompok garis keras, sekaligus mendorong marginalisasi kelompok pragmatis. Dalam logika “negara dalam bahaya”, ruang untuk perbedaan pendapat menyempit drastis. Kritik mudah dilabeli sebagai ancaman, dan kompromi dianggap sebagai bentuk kelemahan.

Ketegangan antara dua kubu ini menciptakan ambiguitas dalam kebijakan. Keputusan-keputusan besar tidak lagi sepenuhnya rasional, tetapi juga tidak sepenuhnya emosional. Mereka lahir dari kompromi yang rapuh antara kebutuhan untuk bertahan dan keinginan untuk menang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Bakal Hadiri Prosesi...
Bakal Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatulloh Khamenei, Ketua MPR: Saya Diutus Presiden
Status Quo Jabatan Fungsional...
Status Quo Jabatan Fungsional ASN
Menlu dan Ketua MPR...
Menlu dan Ketua MPR Akan Hadiri Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei pada 9 Juli
AS Bombardir Iran 2...
AS Bombardir Iran 2 Hari Beruntun, Ledakan Terjadi di Mana-mana
4 Makna Bendera Merah...
4 Makna Bendera Merah di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Balas Dendam untuk Picu Perang Meluas
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Rekomendasi
Bongkar: Tidur Sambil...
Bongkar: Tidur Sambil Duduk? Dandy Panjawi Bongkar Kebiasaan Unik yang Bikin Azia Riza Melongo!
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
Pesan Menyentuh dan...
Pesan Menyentuh dan Akhir Perjalanan Jordan Henderson di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Sekjen Demokrat Buka...
Sekjen Demokrat Buka Suara soal Isu Capres Minimal Diusung 3 Partai: Belum Pernah Dibahas
Aksi Heroik Pilot Marinir...
Aksi Heroik Pilot Marinir yang Gugur Ditembak demi Selamatkan Kopassus Di Timtim
Statistikulasi dan Cerita...
Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Fantastis! Polisi Sita...
Fantastis! Polisi Sita 74 Kg Emas dan Valas di Rumah Bogor, Terkait Kasus Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Franka Franklin Bicara...
Franka Franklin Bicara tentang Integritas Nadiem
Ini 12 Lokasi Digeledah...
Ini 12 Lokasi Digeledah Polisi Terkait Kasus Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved