Perpecahan dalam Tubuh Kepemimpinan Iran

Senin, 20 April 2026 - 13:12 WIB
loading...
Perpecahan dalam Tubuh...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan Al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

DUNIA bersorak kegirangan ketika Selat Hormuz dibuka gratis dan bersedih ketika ditutup kembali hanya 12 jam kemudian. Pada 14 April 2026, perundingan damai antara Israel dan Lebanon di Washington tercapai, yang ditandai dengan jabatan tangan antara pihak Lebanon dan Israel.

Netanyahu mengaku menerima keputusan gencatan senjata sementara di Lebanon karena “permintaan Trump”. Dan, pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung menekan tombol membuka (unlock) Selat Hormuz pada 17 April 2026. Namun, pada 18 April 2026 ditutup kembali oleh Garda Revolusi karena Amerika terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di sini tampak ada “perpecahan internal” di dalam tubuh pemerintahan Iran. Pertanyaan mendasar adalah apakah Iran sedang berperang dengan musuh eksternal atau dirinya sendiri? Inilah yang akan dijelaskan dalam tulisan singkat ini.

Secara historis, selama empat dekade, Republik Islam Iran telah membangun narasi besar bahwa mereka satu suara melawan setan global, yaitu Amerika Serikat. Namun, siapa yang menyangka, retak paling merusak sedang merambat di tubuh pemerintah Iran sendiri.

Kematian Jenderal Qassem Soleimani pada Januari 2020 telah meninggalkan ruang hampa ideologis. Soleimani bukan sekadar komandan Lapangan Quds, ia juga adalah jembatan antara ambisi teritorial Revolusi dan logistik nyata di lapangan.

Setelah kepergiannya, dua kutub di tubuh Teheran semakin tidak terbendung. Satu pihak ingin menyelamatkan ekonomi yang tercekik sanksi—pragmatis seperti Hassan Rouhani dan para teknokrat yang bermimpi mengulur tangan ke Barat. Pihak lain, di bawah komando Garda Revolusi dan ulama garis keras, yang tidak sudi berkompromi dengan apa pun yang berbau “sistem kafir”.

Murungnya, kematian sang jenderal justru memperkuat kubu hardliner dalam cara yang paradoks. Tanpa Soleimani (dan Ali Rafsanjani) yang karismatik, tidak ada lagi figur penengah yang disegani dua kubu di Iran. Yang tersisa adalah ego sektarian dan pertarungan diam-diam di koridor kekuasaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Rekomendasi
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Maxi Araujo Selamatkan Uruguay dari Kejutan Arab Saudi
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh di Pangkalan California, 8 Orang Tewas
Berita Terkini
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Tahun Baru Islam, Menag:...
Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
KPU Kaji Penerapan E-Voting...
KPU Kaji Penerapan E-Voting untuk Pemilu di Luar Negeri, Ini Alasannya
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved