Perpecahan dalam Tubuh Kepemimpinan Iran

Senin, 20 April 2026 - 13:12 WIB
loading...
A A A
Dalam konteks ini, perang eksternal menjadi semacam cermin yang memperbesar konflik internal. Setiap serangan dari luar memperkuat narasi hardliner, tetapi juga sekaligus memperdalam keraguan di kalangan mereka yang melihat keterbatasan strategi tersebut. Setiap kemenangan taktis membawa kepuasan jangka pendek, tetapi tidak selalu menjawab pertanyaan strategis yang lebih besar.

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang terlalu lama terjebak dalam logika konflik cenderung kehilangan kemampuan untuk melihat alternatif seperti opsi damai melalui negosiasi. Mereka menjadi kebal terhadap kritik, tetapi juga rentan terhadap kesalahan. Dan, dalam banyak kasus, kehancuran tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui akumulasi keputusan-keputusan yang tampak rasional pada saat diambil, tetapi fatal dalam jangka panjang.

Iran hari ini berdiri di persimpangan itu. Ia bisa memilih untuk terus melangkah di jalur konfrontasi tanpa akhir, memperkuat identitasnya sebagai negara yang tangguh dalam perang. Atau, pada suatu titik, ia bisa mulai membuka kembali ruang bagi rasionalitas dan negosiasi diplomatik, yang bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai bentuk kekuatan yang lebih matang untuk masa depan Iran yang lebih baik.

Namun, pilihan itu tidak mudah. Ia menuntut keberanian yang berbeda, yaitu bukan keberanian untuk melawan musuh dari luar, tetapi keberanian untuk menghadapi konflik di dalam diri sendiri (internal). Dan mungkin, itulah medan perang yang paling menentukan.

Pertanyaan yang eksistensial saat ini sejauh mana perang internal ini akan mempengaruhi perilaku Iran di panggung dunia? Kita jangan tertipu dengan retorika keras Teheran hari ini. Semakin tajam perpecahan di dalam, semakin berisiko kebijakan luar negeri mereka bagi negosiasi diplomatik dan serangan ke negara yang dipandang mendukung Amerika di Teluk. Kadang serangan ke sekutu regional Amerika Serikat bukan karena strategi yang matang, tetapi karena satu kubu ingin menunjukkan “kita lebih revolusioner dari kalian”.

Pungkasannya, Iran mungkin masih mampu bertahan dari gempuran Amerika Serikat dan Israel, meskipun telah terluka. Namun, di dalam dadanya, denyut nadinya sudah tidak lagi teratur. Perang terbesar tidak selalu bergemuruh, namun, ia acap hanya bisik-bisik yang berkecamuk dalam kepala seorang negarawan seperti Abbas Araghchi, yang tidak lagi tahu, siapa musuh dan siapa kawan di cerminnya sendiri.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Miris, Lagu Kebangsaan...
Miris, Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
Iran Bangkit Dua Kali,...
Iran Bangkit Dua Kali, Imbangi Selandia Baru 2-2 di Piala Dunia 2026
Rekomendasi
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Piala Dunia 2026: FIFA...
Piala Dunia 2026: FIFA Diam-Diam Ubah Ritual VAR
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Berita Terkini
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Tahun Baru Islam, Menag:...
Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved