Mengapa Islamabad Gagal Menjembatani Dua Dunia?
Senin, 13 April 2026 - 12:50 WIB
loading...
A
A
A
Kelima, dinamika eksternal yang tidak sinkron. Di luar ruang perundingan, realitas dan dinamika eskalasi terus bergerak dan dinamis. Israel masih terlibat konflik dengan Hezbollah di teater perang Lebanon, dan suhu ketegangan regional tetap tinggi.
Masalahnya sederhana, yaitu Iran tidak akan menandatangani kesepakatan yang mengabaikan sekutunya, sementara Amerika tidak sepenuhnya mampu mengendalikan dinamika sekutunya (Israel) sendiri. Di titik ini, diplomasi bilateral menjadi tidak memadai untuk menyelesaikan konflik yang bersifat multilateral.
Keseluruhannya, deadlock di Islamabad menunjukkan satu hal yang lebih mendasar, yaitu diplomasi hari ini acap datang terlambat. Ia hadir setelah perang berkecamuk, setelah korban berjatuhan, setelah posisi mengeras, setelah narasi publik dikunci oleh nasionalisme dan trauma. Padahal, diplomasi yang efektif seharusnya bisa bekerja sebelum konflik mencapai titik didihnya.
Memang, Islamabad gagal mencapai kesepakatan, namun bukan karena kurangnya waktu dan upaya. Ia gagal karena mencoba menyelesaikan krisis yang rumit dengan instrumen yang sudah tidak cukup lagi. Dunia telah berubah, tetapi cara pihak yang bertikai dalam bernegosiasi masih terjebak dalam logika lama, yaitu tekanan, tuntutan, ultimatum, dan kemenangan sepihak.
Masing-masing pihak mengklaim kemenangan.
Bahkan, untuk beberapa derajat, AS mengancam dan menganggap kerugian pada pihak Iran jika negosiasi gagal. Misalnya, Vance menyatakan, “Dan saya mengira bahwa kabar buruknya bagi Iran lebih banyak daripada AS”. Dalam nada yang sama, Trump menyatakan, “Apakah kita ada kesepakatan atau tidak (dengan Iran) itu tidak ada perbedaan untuk saya. Terlepas apa yang telah terjadi, kita (AS) menang”.
Deadlock kali ini bukan akhir dari perundingan. Ia adalah pengingat bahwa perdamaian tidak bisa dipaksakan dari meja negosiasi yang penuh kecurigaan antara pihak yang bertikai. Ia harus dibangun dari keberanian untuk mengubah cara pandang bahwa lawan tidak selalu harus dikalahkan, tetapi mestinya bisa dipahami. Dengan kata lain, deadlock ini mungkin tidak menghasilkan kesepakatan, tetapi ia menghasilkan kejelasan bahwa perdamaian tidak bisa dibangun di atas tuntutan sepihak dan memori luka yang belum kering dan sembuh.
Pungkasannya, negosiasi diplomatik yang berhasil membutuhkan sesuatu yang lebih langka dalam politik global hari ini, yaitu keberanian untuk mempercayai dan memahami. Tanpa hal tersebut, setiap meja perundingan hanya akan menjadi tempat di mana harapan datang untuk ditunda. Seperti bunga yang layu sebelum mekar.
Masalahnya sederhana, yaitu Iran tidak akan menandatangani kesepakatan yang mengabaikan sekutunya, sementara Amerika tidak sepenuhnya mampu mengendalikan dinamika sekutunya (Israel) sendiri. Di titik ini, diplomasi bilateral menjadi tidak memadai untuk menyelesaikan konflik yang bersifat multilateral.
Keseluruhannya, deadlock di Islamabad menunjukkan satu hal yang lebih mendasar, yaitu diplomasi hari ini acap datang terlambat. Ia hadir setelah perang berkecamuk, setelah korban berjatuhan, setelah posisi mengeras, setelah narasi publik dikunci oleh nasionalisme dan trauma. Padahal, diplomasi yang efektif seharusnya bisa bekerja sebelum konflik mencapai titik didihnya.
Memang, Islamabad gagal mencapai kesepakatan, namun bukan karena kurangnya waktu dan upaya. Ia gagal karena mencoba menyelesaikan krisis yang rumit dengan instrumen yang sudah tidak cukup lagi. Dunia telah berubah, tetapi cara pihak yang bertikai dalam bernegosiasi masih terjebak dalam logika lama, yaitu tekanan, tuntutan, ultimatum, dan kemenangan sepihak.
Masing-masing pihak mengklaim kemenangan.
Bahkan, untuk beberapa derajat, AS mengancam dan menganggap kerugian pada pihak Iran jika negosiasi gagal. Misalnya, Vance menyatakan, “Dan saya mengira bahwa kabar buruknya bagi Iran lebih banyak daripada AS”. Dalam nada yang sama, Trump menyatakan, “Apakah kita ada kesepakatan atau tidak (dengan Iran) itu tidak ada perbedaan untuk saya. Terlepas apa yang telah terjadi, kita (AS) menang”.
Deadlock kali ini bukan akhir dari perundingan. Ia adalah pengingat bahwa perdamaian tidak bisa dipaksakan dari meja negosiasi yang penuh kecurigaan antara pihak yang bertikai. Ia harus dibangun dari keberanian untuk mengubah cara pandang bahwa lawan tidak selalu harus dikalahkan, tetapi mestinya bisa dipahami. Dengan kata lain, deadlock ini mungkin tidak menghasilkan kesepakatan, tetapi ia menghasilkan kejelasan bahwa perdamaian tidak bisa dibangun di atas tuntutan sepihak dan memori luka yang belum kering dan sembuh.
Pungkasannya, negosiasi diplomatik yang berhasil membutuhkan sesuatu yang lebih langka dalam politik global hari ini, yaitu keberanian untuk mempercayai dan memahami. Tanpa hal tersebut, setiap meja perundingan hanya akan menjadi tempat di mana harapan datang untuk ditunda. Seperti bunga yang layu sebelum mekar.
(poe)
Lihat Juga :