Mengapa Islamabad Gagal Menjembatani Dua Dunia?

Senin, 13 April 2026 - 12:50 WIB
loading...
Mengapa Islamabad Gagal...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan Al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).

PADA Minggu pagi (12 April 2026), Hotel Serena Islamabad menjadi saksi kegagalan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang dimediasi Pakistan. Wapres AS JD Vance menyatakan “Pembicaraan damai dengan Iran sejauh ini belum mencapai kesepakatan”.

Persoalan utama yang kontradiktif adalah masalah kepemilikan nuklir. Vance menambahkan “Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mendapatkan senjata nuklir dan tidak berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka dengan cepat memperoleh senjata nuklir”.

Iran menyahuti bahwa pembicaraan damai berlangsung dalam “atmosfir ketidakpercayaan”. Washington perlu memutuskan “apakah akan mendapatkan kepercayaan kami atau tidak”. Kedua belah pihak saling menyalahkan dan berujung tidak ada kesepakatan.

Dengan kebuntuan negosiasi diplomatik tersebut, ada ironi yang getir setelah 21 jam berlangsungnya negosiasi yang melelahkan. Amerika Serikat dan Iran, akhirnya, keluar dari ruangan yang sama tanpa kesepakatan. Yang tersisa hanyalah kata “deadlock”, yang telah lama mengendap dalam sejarah relasi keduanya.

Kegagalan ini bukan sekadar soal teknis negosiasi. Ia adalah cermin dari dua cara pandang dunia yang tidak pernah benar-benar bertemu dan saling menyapa. Tulisan ini akan mengulik beberapa faktor mengapa negosiasi diplomatik tersebut tidak mencapai kesepakatan seperti yang diharapkan.

Pertama, deadlock terjadi karena tuntutan masing-masing pihak yang terlalu kontradiktif (bertentangan). Amerika Serikat datang dengan garis merah bahwa Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya secara permanen. Di sisi lain, Iran menolak tunduk pada tuntutan tersebut, dan justru menuntut hak pengayaan uranium, pencabutan sanksi, serta kompensasi perang. Di sini, diplomasi berubah menjadi arena penegasan kedaulatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Rekomendasi
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
Kelab Pantai Favorit...
Kelab Pantai Favorit di Bali, Klive Beach Club Menjadi Ikon Baru Uluwatu
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Berita Terkini
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Paradoks Tata Kelola...
Paradoks Tata Kelola Batu Bara di Indonesia
Potensi Gula Non-Tebu...
Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
PDIP: Jika Seluruh Fraksi...
PDIP: Jika Seluruh Fraksi di DPR Hanya Manut Eksekutif, Apa Bedanya dengan Era Orde Baru?
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Dari Ploso, Gus Mashum...
Dari Ploso, Gus Mashum Faqih Ingatkan Adab Jadi Penuntun Musyawarah NU
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved