Kembali atau Dijajah: Menjemput Nusantara Jayasempurna

Minggu, 05 April 2026 - 16:47 WIB
loading...
A A A
Satu-satunya jalan keluar untuk menghindari jurang kehancuran ini adalah dengan melakukan gerakan "Silent Revolusioner" dengan tetap berakar pada nilai ketuhanan, guna merebut kembali kedaulatan rakyat dan mengembalikan kemuliaan bangsa melalui penegakan kembali UUD 1945 naskah asli sebelum seluruh struktur kenegaraan benar-benar luluh lantak oleh keserakahan oligarki.

Amandemen UUD 1945 pasca reformasi telah menjadi pintu masuk bagi rusaknya tatanan bernegara, membawa Indonesia mendekati jurang kehancuran yang nyata. Penjajahan kini tidak hanya datang dari kekuatan asing, tetapi juga dari bangsa sendiri melalui kebijakan yang melenceng jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

Budaya yang benar benar melenceng yang nampak oleh mata bathin namun buta maknawinya yaitu menjamurnya praktik menghalalkan homoseksual, merajalelanya sistem riba, serta kemunculan pemimpin yang bertindak pongah layaknya Firaun sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an, merupakan bentuk kemasyarakatan dan kemungkaran yang akut.

Sejarah umat terdahulu memberikan peringatan keras: jika sebuah bangsa tetap permisif terhadap kezaliman dan membiarkan moralitasnya runtuh, maka kehancuran total melalui azab Allah yang membumihanguskan negeri tersebut tidak akan terelakkan. Hal ini sejalan dengan peringatan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, bahwa keruntuhan sebuah peradaban dimulai ketika penguasa mengabaikan keadilan demi kemewahan, yang mengakibatkan hancurnya solidaritas sosial (Asabiyyah) dan memicu pembusukan dari dalam.

Tanpa keberanian untuk kembali ke naskah asli UUD 1945 yang berlandaskan keadilan, rakyat akan terus terjajah dalam kemiskinan dan ketidakadilan. Sebagaimana teori Why Nations Fail dari Acemoglu & Robinson menjelaskan, bangsa akan runtuh jika institusi negaranya bersifat "ekstraktif" hanya memeras kekayaan rakyat untuk segelintir elit dan memanipulasi konstitusi demi melanggengkan kekuasaan.

Kita harus segera bangkit dan berbenah sebelum kemurkaan Tuhan menyapu bersih segala bentuk kefasikan dalam kehidupan bernegara ini. Kita tidak boleh diam saat kebebasan dirampas oleh mereka yang berpakaian negara tetapi merawat kepentingan pribadi. Ketika hukum bergeser dari Rule of Law menjadi Rule by Law, di mana aturan hanya dijadikan senjata untuk menindas, maka legitimasi moral negara tersebut telah mati.

Bangkitlah dengan kesadaran kolektif jeritan anak-anak sekolah, suara ibu-ibu pasar, pekerja di pabrik, petani di sawah, nelayan-nelayan miskin yang terus terpinggirkan, mahasiswa di bangku kuliah, pemulung-pemulung yang mengais nasi sampah di pasar, ASN yang hatinya terbelenggu mengerti akan kebenaran namun tak dapat menyuarakan karena pembungkaman, semuanya bersatu menuntut pemerintahan yang bertanggung jawab dan konstitusi yang suci dari manipulasi. Lawanlah penjajahan baru dengan demokrasi yang hidup: partisipasi nyata, pengawasan publik, dan solidaritas tanpa pamrih.

Sejarah mencatat kita pernah mengusir penjajah berjubah asing, namun kini kita terjepit oleh tirani yang berwajah sama dengan kita sendiri para 'Belanda Berkulit Coklat' yang tega memiskinkan bangsanya demi takhta dan harta. Mereka menggunakan hukum sebagai jerat, bukan sebagai perisai bagi si lemah. Jangan biarkan jeritan anak sekolah dan peluh petani dan nelayan hanya menjadi komoditas politik! Mari kita rebut kembali kedaulatan yang telah dicuri.

Saatnya pulang ke Naskah Asli UUD 1945, rumah suci bagi keadilan sosial di mana bumi, air, dan kekayaan alam adalah milik bersama, bukan jarahan elit. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya berpakaian negara tapi berhati penjajah; kita butuh sistem yang memanusiakan rakyatnya. Bangkitlah, bersatulah! Lebih baik kita berdiri di atas kaki sendiri dengan konstitusi yang murni, daripada merangkak di tanah sendiri sebagai budak di bawah ketiak penguasa yang khianat!"
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
BNPP Gelar Upacara Hari...
BNPP Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Peran Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa
Hari Lahir Pancasila...
Hari Lahir Pancasila 2026, Irfan Aghasar Tekankan Pentingnya Persatuan dan Keadilan Sosial
Hari Lahir Pancasila,...
Hari Lahir Pancasila, Prabowo: Rakyat Hanya Jadi Penonton di Atas Kekayaan Bangsa Sendiri
Jokowi Tak Hadir di...
Jokowi Tak Hadir di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Ternyata Ini Alasannya
Shanty Alda Nathalia...
Shanty Alda Nathalia Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan Bangsa di Hari Lahir Pancasila
Peringatan Hari Lahir...
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Yuke Yurike Ajak Generasi Muda Perkuat Rasa Cinta Tanah Air
UP Bentuk LPIP untuk...
UP Bentuk LPIP untuk Kawal Implementasi Nilai Pancasila di Kampus
Tok! Eksportir SDA Wajib...
Tok! Eksportir SDA Wajib Pulangkan 100% Devisa Hasil Ekspor ke Dalam Negeri Mulai Juni 2026
Rekomendasi
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.000 Meter
Dirut Himbara Dikumpulin...
Dirut Himbara Dikumpulin Dasco Bersama Mensesneg, Bahas Apa?
ARMY Siap War Tiket...
ARMY Siap War Tiket Konser BTS ARIRANG in Jakarta Hari Ini, Harga Termurah Rp1,8 Juta
Berita Terkini
Barang Bukti OTT Bupati...
Barang Bukti OTT Bupati Muara Enim, Uang Tunai hingga Rekening Senilai Rp2 M
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Muara Enim Edison dan 3 Orang Lainnya Tersangka Suap dan Gratifikasi
Nadiem Berharap Divonis...
Nadiem Berharap Divonis Bebas Murni di Kasus Chromebook
Tok! DPR Sahkan RUU...
Tok! DPR Sahkan RUU Polri Jadi UU
YLBHI Desak Polda Metro...
YLBHI Desak Polda Metro Jaya Naikkan Status Perkara Andrie Yunus
Infografis
Trump Perintahkan Pembukaan...
Trump Perintahkan Pembukaan Kembali Penjara Alcatraz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved