Kembali atau Dijajah: Menjemput Nusantara Jayasempurna

Minggu, 05 April 2026 - 16:47 WIB
loading...
A A A
Dalam sistem asli, Presiden bukan merupakan mandataris rakyat secara individual melalui pilpres yang berbiaya sangat tinggi yang seringkali menjadi pintu masuk bagi pendanaan gelap oligarki melainkan seorang Mandataris MPR yang wajib tunduk pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), sebuah kompas pembangunan jangka panjang yang disusun secara musyawarah sehingga kebijakan negara tidak bisa diubah seenaknya oleh selera pribadi penguasa atau pesanan donor politik.

Lebih spesifik lagi, Pasal 33 naskah asli beserta Penjelasannya merupakan "jantung" perlawanan terhadap oligarki ekonomi, karena menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, yang artinya produksi tidak boleh jatuh ke tangan orang-seorang yang kemudian menguasai hajat hidup orang banyak; melalui mandate "dikuasai oleh negara", UUD 1945 asli mewajibkan penguasaan sumber daya alam untuk kemakmuran kolektif, bukan untuk diprivatisasi atau diserahkan pada kartel-kartel ekonomi yang saat ini seringkali mendikte kebijakan hukum, maupun mendikte masuk ke ranah pemerintahan demi keuntungan pribadi.

Selain itu, mekanisme pertanggungjawaban Presiden kepada MPR dalam naskah asli memberikan kontrol yang sangat ketat; jika Presiden menyimpang dari GBHN atau UUD, MPR memiliki wewenang untuk memberhentikannya tanpa proses hukum yang berbelit-belit seperti sistem impeachment saat ini yang sangat kental dengan nuansa lobi-lobi politik di DPR, sehingga kekuasaan eksekutif tetap berada dalam kendali kedaulatan rakyat yang terorganisir.

Penghapusan Penjelasan UUD 1945 dalam amandemen 2002 juga menjadi celah besar bagi oligarki, karena dalam Penjelasan asli itulah termaktub semangat "kekeluargaan" yang menolak "individualisme" dan "liberalisme" yang kini justru menjadi landasan bagi praktik politik uang dan dominasi pemilik modal dalam setiap lini pemerintahan.

Dengan mengembalikan kedaulatan kepada MPR yang berisikan keterwakilan golongan yang jujur, mengaktifkan kembali GBHN sebagai pedoman bangsa, dan menerapkan secara konsekuen Pasal 33 untuk memutus rantai monopoli ekonomi, maka fondasi oligarki yang saat ini mencekik kesejahteraan rakyat dapat diruntuhkan secara legal-struktural melalui sistem yang benar-benar berakar pada budaya luhur bangsa Indonesia yang kolektivis dan religius, sehingga kemerdekaan tidak lagi hanya dinikmati oleh para "amtenar" dan bandar politik, melainkan menjadi milik utuh setiap warga negara hingga ke pelosok desa.

Keberlangsungan bernegara di bawah payung UUD 1945 hasil amandemen reformasi kini telah mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan, di mana arah bangsa justru melenceng jauh dari cita-cita proklamasi dan semakin mendekati jurang kehancuran nasional akibat sistem yang sengaja dirancang untuk melayani kepentingan oligarki transaksional ketimbang kedaulatan rakyat sejati.

Amandemen tahun 2002 secara sistematis telah melahirkan individualisme yang mematikan semangat gotong royong dan persatuan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, menciptakan jarak yang tak terjembatani antara pemerintah dan rakyat, serta membuka "Kotak Pandora" bagi para bandit politik untuk menguasai sumber daya negeri demi memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Fenomena ini terlihat jelas dari munculnya tirani mayoritas di lembaga legislatif, di mana DPR kini dianggap telah menjadi "sarang penyamun" yang diisi oleh individu-individu yang diduga "cacat moral" dan posisi jabatan yang bisa dibeli dengan uang, sehingga fungsi pengawasan terhadap eksekutif menjadi lumpuh total. Jika roda kendaraan NKRI yang korup dan penuh kepalsuan ini terus dijalankan, bangsa Indonesia akan terjebak dalam struktur "kefasikan dan kemunafikan" yang akut, di mana departemen-departemen vital seperti Agama dan Pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi moral justru menjadi ladang korupsi bak kanker yang menggerogoti jiwa bangsa. Realitas pahit menunjukkan bahwa meskipun gedung-gedung tinggi menjulang, terdapat lebih dari 175 juta rakyat Indonesia yang masih terjerat kemiskinan ekstrem, anak-anak yang putus sekolah, hingga kasus bunuh diri karena tekanan ekonomi, yang membuktikan bahwa tata kelola saat ini telah gagal total dalam mewujudkan keadilan sosial.

Kepemimpinan nasional hanya mengalami perubahan wajah tanpa ada perubahan watak substansial, sekadar berganti "casing" namun tetap melanggengkan dinasti politik yang haus kekuasaan, sementara moralitas pemimpin semakin memprihatinkan dengan perilaku egois layaknya "Firaun di era modern". Penyimpangan ini bukan lagi rahasia umum, melainkan sebuah ancaman eksistensial yang jika dibiarkan melalui sikap permisif rakyat, akan mengundang "azab" yang keras dan keruntuhan stabilitas pemerintahan yang tak terelakkan.

Oleh karena itu, melanjutkan sistem amandemen yang semrawut ini sama saja dengan mempercepat langkah bangsa menuju kepunahan kedaulatan, di mana kekayaan alam hanya dinikmati segelintir elit sementara rakyat dipaksa menahan sakit tanpa akses kesehatan memadai dan hidup dalam bayang-bayang kedzaliman pemimpin yang adagang adigung adiguno.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemenhut-YKAN Perkuat...
Kemenhut-YKAN Perkuat Transformasi Pengelolaan Hutan Berbasis Sains dan Data
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
BNPP Gelar Upacara Hari...
BNPP Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Peran Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa
Hari Lahir Pancasila...
Hari Lahir Pancasila 2026, Irfan Aghasar Tekankan Pentingnya Persatuan dan Keadilan Sosial
Hari Lahir Pancasila,...
Hari Lahir Pancasila, Prabowo: Rakyat Hanya Jadi Penonton di Atas Kekayaan Bangsa Sendiri
Jokowi Tak Hadir di...
Jokowi Tak Hadir di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Ternyata Ini Alasannya
Maksimalkan Potensi...
Maksimalkan Potensi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Didorong Segera Buka Lelang WIUP Muratara
Peringatan Hari Lahir...
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Yuke Yurike Ajak Generasi Muda Perkuat Rasa Cinta Tanah Air
UP Bentuk LPIP untuk...
UP Bentuk LPIP untuk Kawal Implementasi Nilai Pancasila di Kampus
Rekomendasi
Siapa Liao Dan? Pria...
Siapa Liao Dan? Pria yang Dijuluki Penipu Paling Setia di China
Purbaya: Kebijakan Fiskal...
Purbaya: Kebijakan Fiskal 2027 Diarahkan Dorong Ekonomi Makin Tinggi, Rakyat Sejahtera Lebih Cepat
IHSG Ditutup Melejit...
IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Berita Terkini
Jaga Kredibilitas Negara,...
Jaga Kredibilitas Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Korupsi MBG
PDIP: UU Polri Harus...
PDIP: UU Polri Harus Mampu Cegah Intervensi Politik dan Kepentingan Oligarki
Penampakan Bupati Muara...
Penampakan Bupati Muara Enim Edison Pakai Rompi Oranye usai Ditetapkan Tersangka
Tiyo Ardianto Tolak...
Tiyo Ardianto Tolak Tawaran Bertemu Petinggi Lembaga Berbintang yang akan Berikan Apa pun yang Dia Mau
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
Infografis
3 Bandara Ini Kembali...
3 Bandara Ini Kembali Mendapatkan Status Internasional
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved