Perang Pencegahan Israel-AS ke Iran Menjadi Bumerang Peradaban
Minggu, 01 Maret 2026 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Pertanyaannya, sejak kapan senjata pemusnah massal menjadi alat ukur moral yang elastis? Israel diyakini memiliki puluhan hulu ledak nuklir, namun tidak pernah digempur karena dianggap "stabilisator". AS memiliki ribuan, dan itu dianggap "pelindung perdamaian dunia".
Iran yang belum memilikinya, justru dibom agar tidak memilikinya. Sebaliknya, sudut pandang Teheran menyatakan bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan dan agresi yang memaksa. Pemerintah Iran bahkan telah memperingatkan akan memberikan respons tegas tanpa “garis merah” terhadap apa yang dianggapnya tindakan permusuhan yang tak dapat ditawar lagi. Israel lebih memilih jalur realisme tinimbang liberalisme.
Terhadap fakta sosial ini, Noam Chomsky menyebut Amerika Serikat dan Israel menggunakan standar ganda yang sistematis. Jika nuklir adalah ancaman eksistensial, maka ia adalah ancaman bagi semua.
Jika deterensi adalah hak, maka ia adalah hak semua negara. Ia bukan monopoli mereka yang kebetulan menang dalam lotre sejarah kolonialisme. Membom Iran untuk mencegah nuklir, sambil memeluk erat negara yang memiliki nuklir di kawasan yang sama, adalah kemunafikan yang hanya bisa diloloskan oleh logika "kita boleh, kamu tidak boleh".
Serangan ke Iran menunjukkan bahwa serangan ini tidak akan pernah terjadi tanpa keterlibatan langsung Washington. Menariknya, para ahli mencatat bahwa Israel sebenarnya tidak sepenuhnya siap untuk perang terbuka skala penuh. Stok pertahanan rudal mereka menipis paska perang 12 hari dengan Iran tahun lalu.
Lalu mengapa mereka memaksa? Karena ada perhitungan sederhana dari Gedung Putih, di mana membiarkan Israel memukul duluan dan ketika Iran membalas, AS bisa masuk dengan narasi "membela sekutu yang diserang".
Ini adalah skenario klasik "let Israel strike first" yang dihembuskan untuk mengatasi keengganan publik Amerika terlibat perang baru di Timur Tengah. Dengan kata lain, darah yang tumpah di Teheran dan mungkin nanti di Teluk, adalah harga yang harus dibayar untuk mengakali opini publik di negeri Paman Sam. Ini bukan tentang keamanan; ini tentang mempertahankan hegemoni yang haus akan legitimasi.
Serangan militer hanya akan mengukuhkan posisi garis keras di Teheran. Para teknokrat dan diplomat yang selama ini berjuang untuk negosiasi akan kehilangan muka. Rakyat yang mungkin selama ini kritis terhadap rezim, akan tergerak oleh sentimen patriotisme ketika tanah airnya diinjak-injak asing. Bom tidak pernah menyembuhkan luka; ia hanya menciptakan luka baru yang siap bernanah untuk generasi mendatang.
Iran yang belum memilikinya, justru dibom agar tidak memilikinya. Sebaliknya, sudut pandang Teheran menyatakan bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan dan agresi yang memaksa. Pemerintah Iran bahkan telah memperingatkan akan memberikan respons tegas tanpa “garis merah” terhadap apa yang dianggapnya tindakan permusuhan yang tak dapat ditawar lagi. Israel lebih memilih jalur realisme tinimbang liberalisme.
Terhadap fakta sosial ini, Noam Chomsky menyebut Amerika Serikat dan Israel menggunakan standar ganda yang sistematis. Jika nuklir adalah ancaman eksistensial, maka ia adalah ancaman bagi semua.
Jika deterensi adalah hak, maka ia adalah hak semua negara. Ia bukan monopoli mereka yang kebetulan menang dalam lotre sejarah kolonialisme. Membom Iran untuk mencegah nuklir, sambil memeluk erat negara yang memiliki nuklir di kawasan yang sama, adalah kemunafikan yang hanya bisa diloloskan oleh logika "kita boleh, kamu tidak boleh".
Serangan ke Iran menunjukkan bahwa serangan ini tidak akan pernah terjadi tanpa keterlibatan langsung Washington. Menariknya, para ahli mencatat bahwa Israel sebenarnya tidak sepenuhnya siap untuk perang terbuka skala penuh. Stok pertahanan rudal mereka menipis paska perang 12 hari dengan Iran tahun lalu.
Lalu mengapa mereka memaksa? Karena ada perhitungan sederhana dari Gedung Putih, di mana membiarkan Israel memukul duluan dan ketika Iran membalas, AS bisa masuk dengan narasi "membela sekutu yang diserang".
Ini adalah skenario klasik "let Israel strike first" yang dihembuskan untuk mengatasi keengganan publik Amerika terlibat perang baru di Timur Tengah. Dengan kata lain, darah yang tumpah di Teheran dan mungkin nanti di Teluk, adalah harga yang harus dibayar untuk mengakali opini publik di negeri Paman Sam. Ini bukan tentang keamanan; ini tentang mempertahankan hegemoni yang haus akan legitimasi.
Serangan militer hanya akan mengukuhkan posisi garis keras di Teheran. Para teknokrat dan diplomat yang selama ini berjuang untuk negosiasi akan kehilangan muka. Rakyat yang mungkin selama ini kritis terhadap rezim, akan tergerak oleh sentimen patriotisme ketika tanah airnya diinjak-injak asing. Bom tidak pernah menyembuhkan luka; ia hanya menciptakan luka baru yang siap bernanah untuk generasi mendatang.
Lihat Juga :