Hukum Kepemimpinan dalam Organisme Pesantren

Jum'at, 20 Februari 2026 - 13:54 WIB
loading...
Hukum Kepemimpinan dalam...
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN.
A A A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Dalam diskusi tentang kepemimpinan, kita sering mendengar istilah "the law of the lead" hukum tentang bagaimana seorang pemimpin harus berada di depan, memberi arah, dan menjadi teladan. Tapi apa jadinya jika hukum ini kita baca dalam konteks pesantren sebagai organisme hidup? Apakah kepemimpinan di pesantren bekerja dengan cara yang sama seperti di perusahaan atau lembaga pemerintah?

Ketika kita membaca fenomena pesantren sebagai organisme hidup, hukum kepemimpinan ini tidak bisa dipahami secara mekanis. Ia harus dibaca dalam kerangka sistem kehidupan yang kompleks, di mana kepemimpinan bukan sekadar posisi, tapi fungsi yang menyebar ke seluruh jaringan.

Kepemimpinan sebagai Sistem Saraf Pusat


Dalam tubuh manusia, otak adalah pusat kendali. Ia mengirim sinyal ke seluruh tubuh, mengoordinasikan gerak, menjaga keseimbangan. Tapi otak tidak bekerja sendiri. Ia bergantung pada jaringan saraf yang tersebar, pada sel-sel yang menerima dan meneruskan pesan. Tanpa jaringan itu, otak hanyalah organ mati. Bahkan ketika otak sedang tidur pun, seluruh sistem tubuh tetap bekerja dengan tertib.

Demikian pula dalam organisme pesantren. Kiai atau pengasuh adalah "otak" yang memberi visi dan arah. Tapi agar visi itu hidup, ia harus diterjemahkan ke dalam jaringan yang lebih luas: para ustadz, santri senior, pengurus, alumni, bahkan masyarakat sekitar.

KH. Mahrus Amin di Darunnajah tidak pernah bekerja sendiri. Beliau bersama KH. Abdul Manaf dan KH. Qomaruzzaman membangun sistem kepemimpinan kolektif. Mereka sadar bahwa pohon pisang yang hanya punya satu batang akan rapuh. Tunas-tunas harus tumbuh, dan ketika tunas itu dipisahkan, ia harus memiliki akar sendiri, batang sendiri, daun sendiri, tapi tetap membawa DNA yang sama.¹

Di sinilah "the law of the lead" bekerja secara organik: pemimpin tidak hanya memimpin, tapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan kepemimpinan tumbuh di mana-mana.

Dua Sayap yang Tak Boleh Pincang


Dalam tulisan salah seorang kiai, menyebutkan bahwa organisme pesantren tidak akan terbentuk tanpa "all out", dan "all out"-nya harus "lillāh". Ini adalah dua sayap kepemimpinan.

Sayap pertama: All Out. Pemimpin harus total. Tidak setengah-setengah. Di Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi sering mengulang-ulang filosofi yang menggertarkan hati: "Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur."² Ini bukan sekadar slogan, tapi hukum alam organisasi yang kejam: siapa yang tidak bergerak total, akan tersingkir oleh zaman.

Kita bisa lihat bagaimana KH. Nawawi Thoyib di Sidogiri. Beliau merintis ekonomi pesantren dari nol, bukan untuk kaya, tapi agar umat tidak terjerat rentenir. Kini BMT Sidogiri punya 256 cabang. Itu buah dari kepemimpinan yang total. Atau KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng yang mewariskan sanad keilmuan hingga ke seluruh Nusantara.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Jelang Final Piala Dunia,...
Jelang Final Piala Dunia, Caketum PBNU Gus Salam Jagokan Argentina Jadi Pemenang
LPSK Bentuk Tim Pelindungan...
LPSK Bentuk Tim Pelindungan Darurat untuk Tangani Korban Kasus Pembakaran Santri di Lombok
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Rekomendasi
Bea Cukai Papua Fasilitasi...
Bea Cukai Papua Fasilitasi dan Gerakkan Ekonomi Daerah, dari PSN hingga UMKM
Pemerintah Tambah Subsidi...
Pemerintah Tambah Subsidi Kapal Perintis untuk Layani Wilayah Terluar
Kedekatan Fuji dan Rakin...
Kedekatan Fuji dan Rakin Khan Disorot, Begini Respons Haji Faisal
Berita Terkini
Mendiktisaintek Diminta...
Mendiktisaintek Diminta Tuntaskan Kasus Dugaan Plagiasi Guru Besar Teknik Unsoed
Prabowo Pimpin Sidang...
Prabowo Pimpin Sidang Kabinet Paripurna, Evaluasi Jelang 2 Tahun Pemerintahan
Praperadilannya Ditolak,...
Praperadilannya Ditolak, Roy Suryo: Semoga Hakim Diberi Pencerahan di Sidang Berikutnya
KPK Tangkap Bupati Lombok...
KPK Tangkap Bupati Lombok Barat
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Status Tersangka Roy...
Status Tersangka Roy Suryo Tetap Sah, Polda Metro Jaya: Putusan Hakim Harus Dihormati
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved