Mendorong Revisi UU Ketenagakerjaan, Menuju Demokrasi Industri

Senin, 16 Februari 2026 - 14:46 WIB
loading...
Mendorong Revisi UU...
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad disambut oleh Ketua Umum KSPSI Mohammad Jumhur Hidayat dan Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan dalam Rakernas IV KSPSI, Kamis (12/2/2026). Foto: Istimewa
A A A
Hanief Adrian
Sekjen Keluarga Alumni PSIK-ITB, Kepala Desk Politik GREAT Institute, dan Penganut Sosialisme Demokratis

Pernyataan Wakil Ketua DPR-RI Sufmi Dasco Ahmad dalam Rakornas II dan Rakernas IV Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Kamis (12/2/2026) bahwa penyusunan Revisi UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan harus dilakukan dengan pendekatan dialog sosial yang konstruktif, bahwa “Negara harus hadir untuk memastikan adanya keseimbangan antara perlindungan pekerja dan kepastian berusaha bagi dunia industri,” adalah angin segar dalam agenda industrialisasi bangsa kita.

Sikap Prof. Dasco dalam Rakernas KSPSI yang entah mengapa diselenggarakan tepat pada hari ulang tahun Partai Sosialis Indonesia atau PSI (didirikan pada 12 Februari 1948) yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara DPR, pemerintah, dan Serikat Pekerja dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan yang komprehensif dan berkeadilan, menunjukkan bahwa kebijakan industri memang harus demokratis, tidak hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang biasanya dinikmati hanya para pelaku usaha besar saja, tetapi juga para pekerja yang dalam relasi industrial selalu rawan dieksploitasi.

Apalagi, sebagaimana dikatakan oleh Ketua Umum KSPSI Mohammad Jumhur Hidayat, masa depan geopolitik dan ekonomi global dipengaruhi ketidakpastian, serta terjadi perubahan teknologi di mana industri mengalami digitalisasi, robotisasi hingga tantangan kecerdasan buatan (artificial intelligence). AI diduga akan menggantikan mesin pabrik yang dioperasikan banyak pekerja dalam industri padat karya (labor intensive) menjadi padat modal (capital intensive), sehingga di masa depan dikhawatirkan kemajuan teknologi akan memperparah pengangguran, kemiskinan dan eksploitasi kelas pekerja.

Urgensi Demokrasi Industri


Maka, mendorong regulasi demokratis dalam sektor perindustrian menjadi sangat penting. Tentunya kita memahami bahwa perindustrian adalah leading sector jika Indonesia hendak lepas dari jeratan pendapatan kelas menengah (middle income trap) dan melibatkan sektor lainnya seperti sektor primer (pertanian dan pertambangan) yang memproduksi bahan baku industri, dan sektor tersier yaitu jasa yang menghasilkan kelas pekerja melalui pendidikan dan kesehatan, serta keuangan. Artinya tidak hanya kepentingan pekerja dan pemilik modal yang harus diharmonisasi, melainkan kepentingan lingkungan yang didalamnya terdapat manusia yang bekerja sebagai petani, peternak, nelayan, pekerja kehutanan hingga pertambangan.

Apalagi jika dikaitkan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang hendak mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, tetapi mengedepankan program sosialistis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan tujuan mendorong pembangunan dari bawah dan dari desa-desa. Pertumbuhan melalui pemerataan (growth through equity) atau pertumbuhan inklusif, memerlukan regulasi demokratis di segala sektor, termasuk dalam perindustrian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Orang Kaya Diminta Lepas...
Orang Kaya Diminta Lepas Dolar, Dasco Sebut Rupiah Menguat Minggu Depan
Dasco Kasih Bocoran...
Dasco Kasih Bocoran Pemerintah Punya Strategi Khusus Atasi Pelemahan Rupiah
Dasco Ungkap Tujuan...
Dasco Ungkap Tujuan Prabowo Panggil Chatib Basri-Luhut ke Istana
Rekomendasi
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Implementasi B50 Dimulai...
Implementasi B50 Dimulai 1 Juli 2026, Jubir ESDM: Bisa Hemat Devisa Rp157 Triliun
Bintang Piala Dunia...
Bintang Piala Dunia 2026 Elye Wahi Diduga Terlibat Pengaturan Skor
Berita Terkini
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dharma Pongrekun Gugat...
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan, Berharap Hakim MK 'Diketuk Hatinya oleh Tuhan'
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Infografis
Miliarder Elon Musk...
Miliarder Elon Musk Sebut Amerika Serikat sedang Menuju Bangkrut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved