Sepotong Video dan Dengung Warganet
Selasa, 03 Februari 2026 - 10:10 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini, ruang publik itu termediasi oleh platform-platform digital, diamplifikasi secara algoritmik, di mana orang hanya didekatkan pada informasi yang diinginkan, sesalah apapun informasi itu, dan dijauhkan dari informasi yang tak diinginkan, sebenar apapun informasi itu. Orang hanya hidup dalam ruangnya sendiri tanpa disadari. Dia seakan-akan berkomunikasi dengan bayak orang melalui beragam platform digital, tapi yang didengarkan bukanlah suara yang menantang pandangannya, tapi yang terus menguatkan pandangannya. Suara orang lain itu bukan lagi subjek kritis yang berkomunikasi dengannya, tapi hanyalah tembok yang memantulkan gema suaranya sendiri. Inilah yang disebut dengan fenomena echo chamber.
Dalam konteks ini, kebenaran menjadi runtuh bukan karena hilangnya fakta. Fakta itu masih ada di sana. Tapi, mekanisme untuk mengenali fakta menjadi semakin rumit. Saking rumitnya sampai antara fakta dan opini menjadi sangat samar.
Platform media sosial yang lebih mengutamakan engagement--likes, shares, viralitas—membuat proses verifikasi seakan masuk dalam labirin yang berkelok-kelok, yang tidak jarang berakhir di jalan buntu. Hasilnya: narasi emosional, klaim-klaim konspirasi, dan pemahaman berbasis identitas kelompok lebih cepat tersebar dan termakan daripada penjelasan yang berbasis bukti (evidence-based explanations). Dengung warganet—agregasi keriuhan komen, retweet, dan trending topic—lebih kuat memengaruhi pandangan publik. Dengung warganet itulah yang seringkali menentukan apa yang diyakini publik sebagai kebenaran.
Framing bekerja dengan cara memilih aspek-aspek tertentu dari realitas, kemudian menebali aspek-aspek tersebut sambil memburamkan bagian lainnya. Ini adalah taktik penstrukturan awal (pre-structuring), yaitu bagaimana sebuah isu dipahami sebelum kesadaran rasional kritis bekerja. Pre-structuring ini menghancurkan kesadaran kritis seseorang untuk melakukan pengujian terhadap klaim-kalim yang disodorkan oleh subjek lain dalam tindakan komunikasi.
Inilah sesungguhnya yang bisa dilihat dalam kasus potongan video Sekjen Kemenag. Potongan video dengan caption tertentu adalah sebuah strategi framing untuk memberi struktur awal pemahaman penontonnya. Strategi ini ini pada akhirnya berhasil menggiring para penonton untuk memberi komen sesuai dengan keinginan peng-up load. Caption awal ditambah dengan komentar-komentar yang saling menyahuti dalam satu nada membuat makna awal hilang berganti dengan makna yang sepenuhnya tereduksi. Semua orang yang masuk ke dalamnya seakan memasuki kamar gema (echo chamber) di mana setiap suara adalah gema dari satu nada. Opini publik terbentuk, konsensus tercapai, tapi realitas entah ke mana.
Dalam konteks ini, kebenaran menjadi runtuh bukan karena hilangnya fakta. Fakta itu masih ada di sana. Tapi, mekanisme untuk mengenali fakta menjadi semakin rumit. Saking rumitnya sampai antara fakta dan opini menjadi sangat samar.
Platform media sosial yang lebih mengutamakan engagement--likes, shares, viralitas—membuat proses verifikasi seakan masuk dalam labirin yang berkelok-kelok, yang tidak jarang berakhir di jalan buntu. Hasilnya: narasi emosional, klaim-klaim konspirasi, dan pemahaman berbasis identitas kelompok lebih cepat tersebar dan termakan daripada penjelasan yang berbasis bukti (evidence-based explanations). Dengung warganet—agregasi keriuhan komen, retweet, dan trending topic—lebih kuat memengaruhi pandangan publik. Dengung warganet itulah yang seringkali menentukan apa yang diyakini publik sebagai kebenaran.
Framing dan Opini Publik
Dalam era di mana ruang publik dimediasi secara digital, komunikasi bergeser dari apa yang disebut Habermas sebagai communicative action ke strategic action. Jika yang pertama bertujuan mencari pemahaman intersubjektif, yang kedua bertujuan untuk membentuk persepsi, emosi, dan interpretasi orang lain melalui strategi framing.Framing bekerja dengan cara memilih aspek-aspek tertentu dari realitas, kemudian menebali aspek-aspek tersebut sambil memburamkan bagian lainnya. Ini adalah taktik penstrukturan awal (pre-structuring), yaitu bagaimana sebuah isu dipahami sebelum kesadaran rasional kritis bekerja. Pre-structuring ini menghancurkan kesadaran kritis seseorang untuk melakukan pengujian terhadap klaim-kalim yang disodorkan oleh subjek lain dalam tindakan komunikasi.
Inilah sesungguhnya yang bisa dilihat dalam kasus potongan video Sekjen Kemenag. Potongan video dengan caption tertentu adalah sebuah strategi framing untuk memberi struktur awal pemahaman penontonnya. Strategi ini ini pada akhirnya berhasil menggiring para penonton untuk memberi komen sesuai dengan keinginan peng-up load. Caption awal ditambah dengan komentar-komentar yang saling menyahuti dalam satu nada membuat makna awal hilang berganti dengan makna yang sepenuhnya tereduksi. Semua orang yang masuk ke dalamnya seakan memasuki kamar gema (echo chamber) di mana setiap suara adalah gema dari satu nada. Opini publik terbentuk, konsensus tercapai, tapi realitas entah ke mana.
(abd)
Lihat Juga :