Sepotong Video dan Dengung Warganet

Selasa, 03 Februari 2026 - 10:10 WIB
loading...
Sepotong Video dan Dengung...
Sekretaris Badan Moderasi dan Pengembangan SDM Kemenag RI, Ahmad Inung. FOTO/IST
A A A
Ahmad Inung
Sekretaris Badan Moderasi dan Pengembangan SDM Kemenag RI

POTONGAN video penjelasan Sekretaris Jenderal Kemenag tentang tuntutan tunjangan guru-guru honorer madrasah swasta dalam Rapat Kerja antara Kementerian Agama dengan Komisi VIII DPR RI tengah viral. Kolom komentar penuh dengan kalimat-kalimat panas. Tak sedikit yang bernada cacian dengan diksi yang kasar.

Tanpa melihat konteks pembicaraannya, potongan video penjelasan Sekjen Kemenag itu bisa menimbulkan kesan yang sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan. Konteks penjelasan Sekjen Kemenag sebetulnya adalah tingginya beban yang harus ditanggung oleh Kementerian Agama jika tuntutan tunjangan guru-guru honorer madrasah swasta tersebut harus dipenuhi. Jumlah yang sangat besar ditambah dengan ketiadaan instrument kontrol negara c.q.

Kementerian Agama dalam proses rekruitmen guru berbasis Analisis Jabatan (Anjab) dan Analisis Beban Kerja (ABK) pada madrasah-madrasah swasta hanya akan menempatkan kinerja anggaran Kementerian Agama dalam situasi bahaya. Padahal, Anjab ABK adalah instrumen krusial dalam manajemen SDM aparatur untuk menyusun uraian jabatan, peta jabatan, dan menetapkan jumlah kebutuhan pegawai yang objektif berdasarkan beban kerja nyata. Itulah mengapa dalam forum Rapat Kerja tersebut Sekjen meminta forum khusus untuk membicarakan masalah ini, sehingga DPR bisa mendapatkan informasi komprehensif, tidak hanya satu arah.

Potongan video itu kemudian tersebar dengan caption yang seakan-akan Sekjen Kemenag tidak peka dan peduli terhadap guru honorer madrasah swasta. Sekjen dinilai tidak memahami sistem dan tata Kelola madrasah. Sekjen dianggap lari dari tanggung jawab. Bahkan, Sekjen dituduh menghina pengabdian panjang guru honorer madrasah swasta.

Lihat, betapa menganganya jurang antara maksud statemen Sekjen dengan respons terhadapnya. Di satu sisi, Sekjen membicarakan tentang kekuatan anggaran Kemenag dalam memenuhi tuntutan para guru honorer madrasah swasta dengan segala konsekuensinya, di sisi lain, respon atas statemen tersebut menggesernya menjadi isu lari dari tanggung jawab dan penghinaan terhadap pengabdian guru. Dari mana jurang ini tiba-tiba muncul?

Kebenaran di Era Post-Truth

Di era post-truth, ruang publik, ruang sosial di mana warganet memperdebatkan beragam isu, tidak lagi sepenuhnya bisa dipercaya. Terjadi perubahan struktural dalam bagaimana sebuah informasi diproduksi, diedarkan, dan divalidasi. Dalam situasi seperti ini, dengungan yang keras dan popularitas yang berjejaring secara luas dan rapi sering kali lebih kuat pengaruhnya dan mengalahkan akurasi empiris dalam membentuk opini publik.

Pernah pada suatu masa, Jurgen Habermas, salah seorang filosof Mazhab Kritis, mengidealisasi ruang publik. Menurutnya, ruang public adalah tempat praktik komunikasi intersubjektif terjadi, di mana rasionalitas kritis tumbuh. Fakta dan kebenaran diperdebatkan secara terbuka dan rasional. Namun, ruang publik sebagai tempat berlangsungnya praktik demokrasi melalui komunikasi kritis yang setara itu kini telah menjadi mitos.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dukung Rumah Pastori...
Dukung Rumah Pastori GPdI Eklesia Amban, Kemenag Komitmen Pembangunan Sarana Keagamaan
Insentif Guru PAI Tahap...
Insentif Guru PAI Tahap II 2026 Cair, Berikut Besaran dan Jumlah Penerimanya
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Rekomendasi
Meriahkan HUT ke-499...
Meriahkan HUT ke-499 Jakarta, 2.000 Anak Ikuti Khitanan Massal Gratis
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Berita Terkini
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
BPIP Umumkan 76 Calon...
BPIP Umumkan 76 Calon Paskibraka 2026 Tingkat Pusat, Ini Nama-namanya
Bonatua Kecewa PTUN...
Bonatua Kecewa PTUN Jakarta Putuskan Sidang Gugatan Penetapan Capres Jokowi Jadi E-Court
Suap Rp61,7 Miliar ke...
Suap Rp61,7 Miliar ke Pejabat Bea Cukai, Bos Blueray Cargo Dituntut 3 Tahun Penjara
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved