Sapu di Tangan Calon Pemimpin

Rabu, 21 Januari 2026 - 12:15 WIB
loading...
Sapu di Tangan Calon...
Ada momen menarik saat kunjungan Syaikh Abdul Aziz al-Thani dari Qatar sore itu. Saat berkeliling di kompleks pondok pesantren di Darunnajah Jakarta. Foto/UDN.
A A A
KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., Presiden Universitas Darunnajah

Ada momen menarik saat kunjungan Syaikh Abdul Aziz al-Thani dari Qatar sore itu. Saat berkeliling di kompleks pondok pesantren di Darunnajah Jakarta. Matanya menangkap pemandangan yang membuatnya berhenti melangkah: sekelompok santri remaja, mengenakan baju olahraga sedang menyapu halaman asrama dengan khusyuk. Di sudut lain, santri lainnya mengangkut sampah. Yang lain lagi sedang mengepel teras masjid.

“Mengapa anak-anak ini menyapu?” tanyanya kepada pengasuh yang mendampingi, nada suaranya campuran heran dan penasaran. “Bukankah bisa dipekerjakan tukang kebun?”

Sang pengasuh tersenyum. “Ya Syaikh, ini bukan soal kebersihan semata. Ini pendidikan kepemimpinan.”

“Kepemimpinan?” alis Syaikh Abdul Aziz terangkat.

“Sayyidul qoum khodimuhum—pemimpin kaum adalah pelayan mereka. Kami sedang menyiapkan pemimpin sejati. Dan pemimpin sejati harus mengerti rasanya melayani. Mereka tidak sedang melayani saya,” lanjut sang pengasuh, “mereka sedang beribadah kepada Allah dengan melayani kepentingan bersama. Pondok hanya memberi wadah dan arahannya.”

Syaikh Abdul Aziz terdiam. Lalu perlahan mengangguk. Ada kilat pengertian di matanya—seolah ia baru saja menemukan kembali mutiara yang selama ini tersembunyi di balik debu zaman.

Fenomena yang Sama di Belahan Dunia Berbeda


Ribuan kilometer dari pesantren itu, di sebuah sekolah dasar di Tokyo, pemandangan serupa terjadi setiap hari. Pukul 12.30, bel berbunyi. Bukan bel pulang, melainkan bel o-soji—waktu bersih-bersih. Selama 20 menit, seluruh siswa—tanpa kecuali—mengambil sapu, kain pel, dan ember. Mereka membersihkan kelas, koridor, bahkan toilet.

Yutaka Okihara, penulis buku Gakko Soji (School Cleaning), mencatat pesan moral di balik tradisi ini: “Tidak ada pekerjaan, bahkan pekerjaan kotor seperti membersihkan, yang terlalu rendah untuk seorang siswa. Semua harus berbagi secara setara dalam tugas bersama. Pemeliharaan sekolah adalah tanggung jawab semua orang.”

Yang menarik, di Jepang, anak konglomerat dan anak sopir duduk bersama membersihkan toilet yang sama. Anak yang populer menyapu lantai. Anak yang pandai mengepel jendela. Tidak ada yang merasa tugasnya lebih “mulia” dari yang lain.

Fenomena serupa, bahkan lebih intens, terjadi di pesantren-pesantren Indonesia. Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, yang didirikan tahun 1926, tradisi khidmah menjadi tulang punggung pendidikan karakter. Setiap santri—tanpa memandang latar belakang keluarga—wajib mengikuti jadwal piket: menyapu halaman, membersihkan kamar mandi, mencuci piring di dapur umum, hingga menjaga keamanan malam. Tidak ada pengecualian.

Hal yang sama berlaku di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, pesantren yang berdiri setengah abad lalu ini tetap mempertahankan tradisi khidmah sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum pembentukan karakter. Yang menarik, Darunnajah sebagai pesantren kota menerima santri dari berbagai kalangan—termasuk anak-anak pejabat tinggi negara, pengusaha besar, dan tokoh masyarakat. Namun di dalam asrama, semua status sosial itu luruh. Anak seorang menteri menyapu halaman bersama anak pedagang kaki lima. Anak konglomerat mengepel kamar mandi yang sama dengan anak petani dari desa. Putra jenderal mencuci piringnya sendiri di dapur umum.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Rustini Muhaimin Dorong...
Rustini Muhaimin Dorong Kemandirian Santri Lewat Pelatihan Menjahit
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Jelang Final Piala Dunia,...
Jelang Final Piala Dunia, Caketum PBNU Gus Salam Jagokan Argentina Jadi Pemenang
MUI Tegas soal Kekerasan...
MUI Tegas soal Kekerasan Santri di Lombok: Harus Diproses Hukum, Tak Boleh Diselesaikan Internal
LPSK Bentuk Tim Pelindungan...
LPSK Bentuk Tim Pelindungan Darurat untuk Tangani Korban Kasus Pembakaran Santri di Lombok
Rekomendasi
Teknologi Deteksi Deepfake...
Teknologi Deteksi Deepfake Nvidia Mencapai Akurasi 94%
Heni Sagara Desak Bareskrim...
Heni Sagara Desak Bareskrim Periksa Dokter Oky, Kasus Mandek Disorot
Zaskia Adya Mecca Izinkan...
Zaskia Adya Mecca Izinkan Anak Bolos Sekolah, Alasannya Bikin Salut
Berita Terkini
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Amanat Lengkap Presiden...
Amanat Lengkap Presiden Prabowo di Upacara Prasetya Perwira TNI-Polri Tahun 2026
Jenderal Agus Subiyanto...
Jenderal Agus Subiyanto Pastikan TNI Siap Dukung Swasembada Beras
PN Jakarta Selatan Tunda...
PN Jakarta Selatan Tunda Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 3 Pekan Depan
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Jilid 3 Roy Suryo Digelar di PN Jakarta Selatan Hari Ini
TNI-Polri Harus Profesional,...
TNI-Polri Harus Profesional, Prabowo: Jangan Ada Loyalitas Korps yang Sempit
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved