Sapu di Tangan Calon Pemimpin

Rabu, 21 Januari 2026 - 12:15 WIB
loading...
A A A
Tidak ada pelayan pribadi. Tidak ada perlakuan istimewa. Semua santri setara di hadapan tugas dan tanggung jawab bersama.

Catherine C. Lewis, dalam bukunya Educating Hearts and Minds (1995), mengungkapkan bahwa keberhasilan pendidikan Jepang bukan semata karena kurikulum akademik yang ketat, melainkan karena sekolah berhasil memenuhi kebutuhan anak akan rasa memiliki, persahabatan, dan kontribusi. Setiap anak—bukan hanya yang pintar atau berperilaku baik—merasa menjadi bagian berharga dari komunitas sekolah. Prinsip yang persis sama diterapkan di Gontor, Darunnajah, dan mayoritas pesantren lainnya.

Dua Tradisi, Satu Ruh


Di sinilah pesantren dan sekolah Jepang bertemu dalam satu titik filosofis yang mengagumkan.

Tradisi khidmah di pesantren telah berusia ratusan tahun. Namun perlu dipahami dengan benar: khidmah bukanlah pengabdian kepada Kyai secara personal. Khidmah adalah pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan sesama, yang diwujudkan melalui tugas-tugas yang diberikan oleh pondok pesantren. Kyai, sebagai pengasuh, adalah fasilitator yang mengarahkan—bukan tujuan dari pengabdian itu sendiri.

Santri menyapu halaman, membersihkan masjid, memasak di dapur umum, menjaga keamanan asrama—semua itu adalah bentuk ibadah dan latihan jiwa. Ada ungkapan masyhur di kalangan pesantren: Al-’ilmu bi al-ta’allum, wa al-barokah bi al-khidmah—ilmu diperoleh dengan belajar, berkah diperoleh dengan mengabdi. Mengabdi di sini bermakna mengabdi kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama dan lembaga pendidikan yang menaunginya.

Riset Abdillah dan Maskuri (2022) dalam jurnal Nazhruna menunjukkan bahwa tradisi khidmah di pesantren membentuk karakter santri yang khas: keikhlasan, kemandirian, rasa hormat, kerendahan hati, dan kepekaan sosial. Khidmah bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan “laboratorium karakter” yang memproduksi empati secara otentik. Ketika santri membersihkan kamar mandi yang dipakai ratusan temannya, ia sedang beribadah kepada Allah sambil melayani sesama—bukan melayani satu orang.

Bandingkan dengan temuan dari Jepang: praktik gakko soji menanamkan pada anak-anak bahwa “tidak ada pekerjaan—bahkan membersihkan kamar mandi—yang hina.” Anak-anak tumbuh menjadi warga negara yang selalu memperhatikan kebaikan dan kebahagiaan sesama. Tidak heran sepeda tidak pernah dikunci di Jepang karena tidak akan dicuri. Orang-orang tenang bahkan di metro yang penuh sesak.

Dua tradisi. Dua benua. Dua agama. Tapi satu ruh: kepemimpinan lahir dari pelayanan.

Apa yang Kuliah Tidak Bisa Ajarkan


Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh ceramah, slide PowerPoint, atau buku tebal tentang kepemimpinan: empati somatik—pemahaman yang tertanam dalam tubuh, bukan sekadar di kepala.

Ketika seorang anak memegang gagang sapu dan menyapu halaman yang luas, tubuhnya “belajar” sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kata-kata. Ia merasakan lelahnya, monotonnya, “rendahnya” pekerjaan itu. Dan pengalaman itu tertanam dalam—menjadi bagian dari cara ia memandang dunia.

Kelak, ketika ia menjadi direktur perusahaan, ia tidak akan memandang rendah cleaning service yang membersihkan kantornya. Ketika ia menjadi pejabat, ia tidak akan menghardik sopir yang mengantarnya. Ketika ia menjadi kyai, ia tidak akan merasa terlalu tinggi untuk mengangkat sampah.

Michael Auslin, mantan guru bahasa Inggris di Jepang yang kini menjadi peneliti di American Enterprise Institute, merangkumnya dengan tepat: “Sekolah bukan hanya untuk belajar dari buku. Sekolah adalah untuk belajar menjadi anggota masyarakat dan bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Inilah yang hilang dari banyak model pendidikan modern: kita mengajarkan kepemimpinan melalui teori, bukan melalui praktik pelayanan. Kita bicara tentang “servant leadership” di seminar-seminar mahal, tapi tidak pernah meminta pesertanya menyentuh sapu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Rustini Muhaimin Dorong...
Rustini Muhaimin Dorong Kemandirian Santri Lewat Pelatihan Menjahit
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Jelang Final Piala Dunia,...
Jelang Final Piala Dunia, Caketum PBNU Gus Salam Jagokan Argentina Jadi Pemenang
MUI Tegas soal Kekerasan...
MUI Tegas soal Kekerasan Santri di Lombok: Harus Diproses Hukum, Tak Boleh Diselesaikan Internal
LPSK Bentuk Tim Pelindungan...
LPSK Bentuk Tim Pelindungan Darurat untuk Tangani Korban Kasus Pembakaran Santri di Lombok
Rekomendasi
Tantri Kotak Nyaris...
Tantri Kotak Nyaris Dipeluk Penonton, Arda Naff Buka Suara
Honda CB400SF E-Clutch...
Honda CB400SF E-Clutch dan CBR400R Four Siap Diluncurkan Bulan Depan!
FIFA Bikin Kejutan!...
FIFA Bikin Kejutan! Leandro Paredes Tak Jadi Dikartu Merah di Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Prabowo Tunjuk Asep...
Prabowo Tunjuk Asep Nana Mulyana Jadi Wakil Jaksa Agung, Kuntadi Jabat Jampidsus
Dilantik Prabowo Jadi...
Dilantik Prabowo Jadi Kepala BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wamentan
Profil Sudaryono, Wamentan...
Profil Sudaryono, Wamentan Anak Petani Grobogan yang Jadi Kepala BGN Baru
Breaking News! Wamentan...
Breaking News! Wamentan Sudaryono Jadi Kepala BGN Baru
Kisah Haru Anak Kuli...
Kisah Haru Anak Kuli Bangunan Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira TNI di Istana
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Infografis
Tahapan Penerimaan Sekolah...
Tahapan Penerimaan Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Bisa Jadi Calon PNS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved