Sapu di Tangan Calon Pemimpin

Rabu, 21 Januari 2026 - 12:15 WIB
loading...
A A A
Padahal Rasulullah SAW, pemimpin terbesar sepanjang sejarah, menjahit sandalnya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan tidak pernah merasa pekerjaan rumah tangga “di bawah” kedudukannya.

Apa yang Harus Kita Lakukan?


Pertama, kembalikan khidmah sebagai kurikulum inti, bukan sekadar tradisi sampingan. Di banyak pesantren modern, tradisi khidmah mulai terkikis. Santri datang untuk “sekolah”, bukan untuk “mengabdi”. Orang tua khawatir anaknya “dipekerjakan”. Padahal justru di situlah letak pendidikan yang paling otentik.

Kedua, perkenalkan praktik serupa di sekolah-sekolah umum. Beberapa sekolah di Singapura, Inggris, bahkan Amerika Serikat, mulai mengadopsi model cleaning time ala Jepang. BBC melaporkan bahwa sekolah di Singapura yang menerapkan waktu bersih-bersih mendapat dukungan luas dari orang tua karena anak-anak mengembangkan kebiasaan baik sejak dini.

Ketiga, ubah narasi tentang “pekerjaan rendah”. Selama kita masih bicara tentang pekerjaan “kasar” dan pekerjaan “terhormat”, kita sedang menanamkan benih arogansi di benak anak-anak kita. Setiap pekerjaan yang halal adalah mulia. Dan pemimpin terbaik adalah yang pernah merasakan semua jenis pekerjaan.

Keempat, jadikan pengalaman melayani sebagai syarat kepemimpinan. Di pesantren tradisional, santri tidak bisa menjadi pengurus atau ustadz senior tanpa melewati fase khidmah—mengabdi kepada kepentingan bersama melalui berbagai tugas yang diberikan pesantren. Prinsip ini bisa diadopsi: sebelum seseorang dipromosikan menjadi manajer, ia harus pernah merasakan posisi paling “bawah” di organisasinya.

Dampak yang Kita Rindukan


Bayangkan sebuah generasi yang tumbuh dengan filosofi sayyidul qoum khodimuhum tertanam dalam tulang-tulangnya.

Bayangkan politisi yang memiliki empati karena ia tahu rasanya hidup sederhana. Bayangkan CEO yang tidak semena-mena karena ia pernah menyapu lantai pabrik. Bayangkan kyai yang tidak sombong karena ia pernah mencuci piring di dapur pesantren. Bayangkan guru yang tidak angkuh karena ia pernah membersihkan toilet sekolah.
Ini bukan utopia. Ini adalah produk nyata dari sistem pendidikan yang menempatkan pelayanan sebagai fondasi kepemimpinan.

Jepang membuktikannya: negara dengan tingkat kejahatan terendah, kebersihan publik tertinggi, dan etos kerja yang dikagumi dunia. Pesantren Gontor membuktikannya: melahirkan ulama-ulama besar yang rendah hati, pemimpin-pemimpin yang melayani, dari KH. Hasyim Muzadi hingga Din Syamsuddin.

Syaikh Abdul Aziz al-Thani, tamu dari Qatar itu, mungkin sudah kembali ke Doha. Tapi pertanyaannya masih bergema: “Mengapa anak-anak ini menyapu?”

Jawabannya sederhana: karena kami sedang mencetak pemimpin. Dan pemimpin sejati bukan yang pandai memerintah, melainkan yang mahir melayani.

Sapu di tangan santri itu bukan alat kebersihan. Ia adalah alat pendidikan paling canggih yang pernah diciptakan peradaban manusia.

“Pemimpin kaum adalah pelayan mereka.” — Hikmah Arab

“Tidak ada pekerjaan, bahkan pekerjaan kotor, yang terlalu rendah untuk seorang siswa.” — Yutaka Okihara, Gakko Soji
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
PBNU: Iduladha 2026...
PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka
Rakernas Inkopotren...
Rakernas Inkopotren 2026 Fokus Dorong UMKM Pesantren Go Internasional
Komdigi Siapkan Roadmap...
Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
Badan Hukum: Sistem...
Badan Hukum: Sistem Imun yang Sering Terlupakan
Workshop Pengasuh Bahas...
Workshop Pengasuh Bahas Strategi Pesantren Tetap Berkembang di Era Disrupsi
Pimpinan Padepokan Padang...
Pimpinan Padepokan Padang Ati Diciduk Polisi terkait Kasus Pencabulan, 350 Santri Dipulangkan
Al-Hamidiyah Innovation...
Al-Hamidiyah Innovation Showcase 2026: Ajang Inovasi dan Kreativitas Generasi Masa Depan
Rekomendasi
Cemas karena Ekonomi...
Cemas karena Ekonomi Terpuruk? Baca Doa Ini Bakda Ashar Hari Jumat, InsyaAllah Mustajab!
Gold Medalist Berterima...
Gold Medalist Berterima Kasih kepada Penggemar yang Tetap Mendukung Kim Soo-hyun
Wardatina Mawa Tuntut...
Wardatina Mawa Tuntut Nafkah Anak Rp25 Juta, Bukan Rp500 Ribu
Berita Terkini
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved