2026, Waspada dan Prudent

Senin, 12 Januari 2026 - 06:28 WIB
loading...
A A A
Stimulus ini difokuskan pada subsidi energi, insentif transportasi, penguatan bantuan sosial, dukungan sektor pariwisata, serta pengembangan sektor padat karya. Implementasi kebijakan tersebut berperan penting dalam menjaga konsumsi domestik dan mendorong mobilitas ekonomi, yang tercermin dari peningkatan indeks penjualan riil serta tetap aktifnya kegiatan ekonomi di berbagai wilayah, terutama pada periode libur sekolah dan akhir tahun.

Selain melalui stimulus konsumsi, perlu diakui juga bahwa pemerintah berupaya memperkuat fondasi ekonomi rakyat melalui pelaksanaan program-program prioritas yang berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi berbasis komunitas. Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar 5,6 juta penerima, sementara Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Sekolah Rakyat mulai diimplementasikan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi lokal.

Belanja pemerintah pusat yang terealisasi sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3% dari pagu APBN diarahkan secara adaptif untuk mendukung program-program tersebut. Upaya ini semakin diperkuat oleh keberhasilan menjaga inflasi tetap rendah pada level 2,92% (yoy) pada Desember 2025, sehingga daya beli masyarakat terjaga dan iklim usaha tetap kondusif sebagai landasan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.

Pasalnya, secara paradoks, meski APBN semakin dioptimalkan perannya sebagai instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus peredam guncangan (shock absorber), kinerja penerimaan negara pada tahun 2025 justru menghadapi tantangan struktural yang signifikan. Realisasi sementara APBN 2025 menunjukkan penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun atau hanya 87,6% dari target yang ditetapkan, sehingga terjadi shortfall sebesar Rp266,3 triliun.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif stabil belum sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi peningkatan penerimaan negara, antara lain dipengaruhi oleh moderasi harga komoditas, meningkatnya restitusi pajak, serta kebijakan insentif fiskal yang diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Fenomena shortfall penerimaan tersebut berkaitan erat dengan rendahnya buoyancy pajak, yang tercermin dari elastisitas penerimaan pajak terhadap pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah satu. Artinya, peningkatan aktivitas ekonomi belum diikuti oleh pertumbuhan penerimaan pajak secara proporsional.

Data APBN 2025 memperlihatkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% (yoy) dan inflasi tetap terkendali pada level 2,92%, penerimaan pajak neto mengalami tekanan pada semester pertama dan baru menunjukkan perbaikan terbatas pada semester kedua. Hal ini mencerminkan sempitnya basis pajak nasional yang masih sangat bergantung pada sektor-sektor tertentu, terutama komoditas dan industri formal berskala besar.

Pada konteks tersebut, kebijakan efisiensi belanja pemerintah sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 perlu ditinjau ulang secara lebih selektif dan strategis. Efisiensi yang bersifat menyeluruh dan menekan belanja produktif berisiko mempersempit kapasitas ekonomi nasional. Padahal, belanja pemerintah pusat tahun 2025 yang terealisasi sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3% dari pagu APBN memiliki peran penting sebagai development agent dan shock absorber.

Oleh sebab itu, strategi fiskal ke depan perlu diarahkan pada pendekatan incentive-driven, yakni memperluas basis ekonomi riil melalui belanja pemerintah yang fokus pada sektor-sektor produktif, seperti UMKM, industri pengolahan, sektor padat karya, serta program prioritas berbasis pemberdayaan masyarakat. Melalui upaya memperkuat kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah domestik, maka basis pajak dapat diperluas secara berkelanjutan tanpa meningkatkan tekanan tarif, sekaligus menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi nasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Kurban dan Pembangunan
Kurban dan Pembangunan
Pidato Ekonomi Presiden:...
Pidato Ekonomi Presiden: Antara Optimisme dan Realitas Pertumbuhan
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Kesinambungan Melemahnya...
Kesinambungan Melemahnya Rupiah: Kolonisasi Sistem dan Mental
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Rekomendasi
Inilah Alasan XLSMART...
Inilah Alasan XLSMART Tanam Ratusan Menara 5G di IKN
Era Baru Gim Blockbuster:...
Era Baru Gim Blockbuster: GTA VI Cetak Rekor Global, Indonesia Ikut Demam
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
Berita Terkini
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Bareskrim: Alamat Server...
Bareskrim: Alamat Server Judi Online Hayam Wuruk di Brasil, China, hingga Vietnam
Dewan Etik Partai Golkar...
Dewan Etik Partai Golkar Jatuhkan Sanksi kepada 3 Kader dari Sumsel
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Berangkatkan Umrah Gratis untuk Guru PAUD
Kembali Bertambah, 5...
Kembali Bertambah, 5 Orang Meninggal Dunia saat Latsarmil Calon Manajer KDKMP/KNMP
Kapolri Mutasi Kapolda...
Kapolri Mutasi Kapolda dan Wakapolda pada Akhir Juni 2026, Ini Daftarnya
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved