2026, Waspada dan Prudent

Senin, 12 Januari 2026 - 06:28 WIB
loading...
2026, Waspada dan Prudent
Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi OJK. Foto/SindoNews
A A A
Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

MEMASUKI tahun 2026, perekonomian Indonesia dihadapkan pada lingkungan global yang belum sepenuhnya stabil. Proyeksi lembaga internasional menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang mencerminkan melemahnya permintaan global dan meningkatnya fragmentasi kebijakan ekonomi antarnegara.

Kondisi ini menempatkan negara berkembang, termasuk Indonesia, pada posisi yang lebih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama melalui jalur perdagangan internasional, investasi, dan stabilitas pasar keuangan. Ketidakpastian global tersebut mendorong pelaku ekonomi bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi usaha dan investasi jangka panjang.

Tingginya ketidakpastian ekonomi global pada 2026 juga dipicu oleh dinamika geopolitik yang masih berlangsung dan cenderung kompleks. Konflik Rusia–Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang permanen dan terus menjadi sumber risiko bagi stabilitas energi dan keamanan global.

Di kawasan Asia Timur, ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan kembali meningkat, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas rantai pasok global dan perdagangan internasional. Sementara itu, narasi konflik di Timur Tengah perlu ditempatkan secara proporsional, mengingat krisis diplomatik Qatar–Arab Saudi telah berakhir sejak 2021, meskipun risiko geopolitik kawasan tetap relevan dalam konteks keamanan energi dunia.

Bagi Indonesia, ketidakpastian global tersebut berpotensi ditransmisikan melalui fluktuasi harga komoditas, gangguan perdagangan internasional, serta volatilitas pasar keuangan. Kenaikan harga energi akibat risiko geopolitik dapat memicu tekanan inflasi dan meningkatkan biaya produksi serta distribusi di dalam negeri. Selain itu, gangguan jalur pelayaran global dan meningkatnya biaya logistik berpotensi menekan daya saing ekspor nasional. Perlambatan perdagangan dunia juga dapat memengaruhi kinerja sektor industri dan ekspor Indonesia yang masih bergantung pada pasar global.

Paradoks Stabilitas Ekonomi Indonesia


Perekonomian domestik Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan ketahanan yang cukup kuat meskipun masih berada dalam tekanan dinamika global. Berdasarkan realisasi sementara APBN 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,2% secara tahunan, selaras dengan target pemerintah dan menandakan bahwa aktivitas ekonomi tetap berlangsung secara ekspansif.

Kinerja tersebut diperkuat oleh indikator makroekonomi yang relatif solid, antara lain surplus neraca perdagangan yang mencapai USD 46,0 miliar sepanjang 2025, kinerja sektor manufaktur yang konsisten berada pada zona ekspansi dengan PMI sebesar 51,2 pada Desember 2025, serta stabilitas pasar keuangan yang tercermin dari penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga 6,01% pada akhir tahun.

Ketahanan ekonomi nasional tersebut terutama ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan. Pemerintah menerapkan bauran kebijakan fiskal yang berorientasi pada perlindungan dan penguatan daya beli masyarakat melalui penyaluran paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai lebih dari Rp110 triliun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Kurban dan Pembangunan
Kurban dan Pembangunan
Pidato Ekonomi Presiden:...
Pidato Ekonomi Presiden: Antara Optimisme dan Realitas Pertumbuhan
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Kesinambungan Melemahnya...
Kesinambungan Melemahnya Rupiah: Kolonisasi Sistem dan Mental
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Rekomendasi
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
UI Resmikan Arboretum...
UI Resmikan Arboretum Hutan, Ruang Terbuka Hijau untuk Edukasi hingga Healing
Berita Terkini
Kapolri Mutasi Kapolda...
Kapolri Mutasi Kapolda dan Wakapolda pada Akhir Juni 2026, Ini Daftarnya
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Evita: Kebijakan Bebas...
Evita: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Buka Lapangan Kerja dan Gerakkan UMKM
Mutasi Polri Juni 2026:...
Mutasi Polri Juni 2026: Kombes Aris Supriyono Jabat Kabid Propam Polda Metro Jaya
Mensesneg Ungkap Pemicu...
Mensesneg Ungkap Pemicu Maraknya PHK di Indonesia
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved