Negara Online, Produktivitas Jangan Offline
Senin, 22 Desember 2025 - 17:35 WIB
loading...
A
A
A
Digitalisasi belum menjadi tangga mobilitas sosial, justru memperkuat ketimpangan. Anak muda dan perempuan di luar Jawa menghadapi hambatan berlapis akibat konektivitas buruk, pelatihan terbatas, dan sempitnya peluang kerja formal.
Bagi UMKM, kualitas internet menentukan hidup-mati usaha. Jutaan UMKM telah masuk ekosistem digital, tetapi manfaatnya tidak merata. UMKM dengan koneksi cepat dan logistik memadai tumbuh, sementara yang berada di wilayah dengan konektivitas lemah mengalami digitalisasi dangkal tanpa kenaikan pendapatan masyarakat yang signifikan.
Konsekuensi fiskalnya besar disarakan saat produktivitas rendah sehingga membatasi basis pajak, sementara negara menangung biaya sosial akibat minimnya penciptaan kerja berkualitas. APBN 2026 menciptakan tekanan ganda, yaitu belanja meningkat, penerimaan tidak tumbuh sepadan.
Digitalisasi dangkal akhirnya menjadi beban fiskal yang terselubung. Kebijakan digital masih sering dipersempit menjadi proyek dan target jangka pendek, padahal pengungkit produktivitas terletak pada reformasi spektrum, pembukaan akses infrastruktur, dan kepastian regulasi data.
Tanpa koreksi pada arah, Indonesia berisiko menjadi pasar besar platform global, bukan produsen nilai tambah digital. Negara boleh semakin online, tetapi tanpa internet cepat, terjangkau, dan merata, produktivitas tetap tertinggal dan kelas menengah terus menanggung bebannya.
Bagi UMKM, kualitas internet menentukan hidup-mati usaha. Jutaan UMKM telah masuk ekosistem digital, tetapi manfaatnya tidak merata. UMKM dengan koneksi cepat dan logistik memadai tumbuh, sementara yang berada di wilayah dengan konektivitas lemah mengalami digitalisasi dangkal tanpa kenaikan pendapatan masyarakat yang signifikan.
Konsekuensi fiskalnya besar disarakan saat produktivitas rendah sehingga membatasi basis pajak, sementara negara menangung biaya sosial akibat minimnya penciptaan kerja berkualitas. APBN 2026 menciptakan tekanan ganda, yaitu belanja meningkat, penerimaan tidak tumbuh sepadan.
Digitalisasi dangkal akhirnya menjadi beban fiskal yang terselubung. Kebijakan digital masih sering dipersempit menjadi proyek dan target jangka pendek, padahal pengungkit produktivitas terletak pada reformasi spektrum, pembukaan akses infrastruktur, dan kepastian regulasi data.
Tanpa koreksi pada arah, Indonesia berisiko menjadi pasar besar platform global, bukan produsen nilai tambah digital. Negara boleh semakin online, tetapi tanpa internet cepat, terjangkau, dan merata, produktivitas tetap tertinggal dan kelas menengah terus menanggung bebannya.
(poe)
Lihat Juga :