Algoritma Kemanusiaan dan Kompas Moral yang Diperebutkan

Rabu, 10 Desember 2025 - 07:02 WIB
loading...
A A A
Seperti algoritma digital yang menyeleksi informasi berdasarkan tujuan tertentu, politik global pun menyeleksi kemanusiaan berdasarkan kepentingan yang tak selalu kita sadari. Aturan tak tertulis bekerja: semakin dekat suatu tragedi dengan kepentingan geopolitik, semakin besar peluangnya mendapatkan perhatian internasional.

Di Gaza, Tigray, Myanmar, Sudan, atau di berbagai kamp pengungsi dari Rohingya hingga Suriah, nilai hidup manusia sering kali ditentukan bukan oleh penderitaannya, tetapi oleh sejauh mana dunia mengizinkan kita untuk meratapinya. Judith Butler menyebutnya grievability: kemampuan suatu kehidupan untuk dianggap layak diratapi. Dan menyedihkan sekali, kemampuan itu ternyata tidak merata.

Ketika label “ancaman” atau “radikal” ditempelkan pada kelompok tertentu, penderitaannya mudah terhapus. Ketika identitas politik menjadi lebih dominan daripada fakta kemanusiaan, UDHR kehilangan pijakan moralnya. Kita menyaksikan bagaimana tragedi yang seharusnya dilihat sebagai pelanggaran hak asasi malah diletakkan dalam kerangka politik identitas, keamanan, atau kalkulasi kepentingan regional. Pada momen inilah universalitas HAM tampak paling rapuh, ketika ia dipaksa berhadapan dengan kerasnya geopolitik.

Demokrasi pun tidak imun terhadap paradoks ini. Negara-negara yang selama ini menjadi pembela HAM justru menguatkan kebijakan eksklusif terhadap pengungsi. Di banyak tempat, keamanan nasional dijadikan alasan untuk memperluas pengawasan, memperketat perbatasan, atau bahkan membenarkan penahanan tanpa proses hukum. Dalam suasana ketakutan dan polarisasi, hak-hak dasar menjadi mudah dinegosiasikan.

Dan di tingkat global, struktur yang dulu menopang rezim HAM internasional—mulai dari PBB hingga berbagai mekanisme multilateral—kini goyah oleh fragmentasi geopolitik. Kita memasuki dunia multipolar di mana tidak ada satu pun kekuatan yang benar-benar menjadi penjaga universalitas. Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah “penjaga universalitas” itu pernah benar-benar ada? Ataukah selama ini kita hanya menerima definisi moral yang ditulis oleh mereka yang paling berkuasa?

Hari HAM Sedunia mengingatkan bahwa UDHR lahir dari trauma dunia, bukan dari kesempurnaan dunia. Ia disusun oleh negara-negara yang saat itu sama-sama menyadari keterbatasan moral mereka. Namun keberanian untuk mengakui keterbatasan itulah yang membuat UDHR relevan hingga hari ini. Universalitasnya bukan hadir dari keseragaman, tetapi dari komitmen kolektif untuk menghindari tragedi kemanusiaan yang sama di masa depan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
Pigai Sebut Masyarakat...
Pigai Sebut Masyarakat Indonesia Belum Siap Terima LGBT
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
DPR Sesalkan Anggaran...
DPR Sesalkan Anggaran Komnas HAM yang Substantif Hanya 6 Persen, Sisanya Administratif
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
Walhi Minta Pembahasan...
Walhi Minta Pembahasan Revisi UU HAM Ditunda
Rekrutmen Penggerak...
Rekrutmen Penggerak HAM 2026 Resmi Diperpanjang, Daftar di Link Ini
Perlindungan Warga Sipil...
Perlindungan Warga Sipil Jadi Kunci Keberlanjutan Pembangunan Papua
Dari Jimmy Lai hingga...
Dari Jimmy Lai hingga Xinjiang, Isu HAM Tak Lagi Jadi Fokus Utama AS-China
Rekomendasi
Bug Windows 11 Terdeteksi...
Bug Windows 11 Terdeteksi Menguras Penyimpanan SSD Pengguna hingga 70GB
Nantikan Teaser Poster...
Nantikan Teaser Poster Serial My Chef In Crime, Ada Misteri yang Siap Bikin Penasaran di VISION+
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki...
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki Pengembangan Rantai Pasok Hidrogen Hijau RI-Singapura
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
Slavko Vincic, Wasit...
Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 yang Pelit Kartu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved