Darurat Perundungan, Bagaimana Mencegahnya?
Rabu, 19 November 2025 - 08:39 WIB
loading...
A
A
A
Negara-negara Skandinavia – Social Emotional Learning (SEL)
Kurikulum SEL menurunkan perilaku agresif hingga 42% (Durlak et al., 2011).
Kesimpulannya: pencegahan efektif ketika negara, sekolah, dan keluarga bekerja selaras.
Sebagian besar akar perundungan dan perilaku agresif berasal dari rumah. Banyak orang tua tidak memiliki bekal pengasuhan yang memadai, baik dalam regulasi emosi, komunikasi, maupun disiplin positif.
Penelitian Lereya, Samara & Wolke (2013) menunjukkan bahwa pola asuh keras, inkonsisten, dan tidak responsif meningkatkan risiko anak menjadi pelaku maupun korban bullying.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh teriakan atau kekerasan sangat mungkin meniru pola tersebut di luar rumah. Karena itu, negara perlu memastikan bahwa setiap calon orang tua memiliki kapasitas dasar pengasuhan.
Model program edukasi pranikah di Singapura dan Korea Selatan menunjukkan berbagai manfaat:
* menurunkan konflik rumah tangga,
* meningkatkan keterampilan pengasuhan,
* memperbaiki regulasi emosi orang tua (Barlow et al., 2016).
Meta-analisis Hawkins & Fackrell (2009) juga menunjukkan bahwa edukasi pranikah meningkatkan kualitas hubungan dan mempersiapkan pasangan sebelum memiliki anak.
Di Indonesia, kelas pranikah sudah ada, tetapi masih terlalu administratif. Untuk mencegah kekerasan dalam keluarga, kelas pranikah perlu memasukkan:
* pengasuhan berbasis ilmu,
* kesehatan mental,
* perkembangan otak anak,
* manajemen stres orang tua,
* keterampilan komunikasi dalam keluarga.
Dengan demikian, pencegahan perundungan harus dimulai bahkan sebelum anak lahir. Negara memastikan calon orang tua siap, sekolah membangun budaya aman psikologis, dan anak mendapatkan akses untuk merasa aman, didengar, dan dilindungi.
Arahan Presiden untuk menangani perundungan secara serius adalah momentum penting untuk memperkuat sistem dari hulu ke hilir: mulai dari kesiapan orang tua, keamanan sekolah, hingga literasi pelaporan.
Kurikulum SEL menurunkan perilaku agresif hingga 42% (Durlak et al., 2011).
Kesimpulannya: pencegahan efektif ketika negara, sekolah, dan keluarga bekerja selaras.
Kesiapan Menjadi Orang Tua
Sebagian besar akar perundungan dan perilaku agresif berasal dari rumah. Banyak orang tua tidak memiliki bekal pengasuhan yang memadai, baik dalam regulasi emosi, komunikasi, maupun disiplin positif.
Penelitian Lereya, Samara & Wolke (2013) menunjukkan bahwa pola asuh keras, inkonsisten, dan tidak responsif meningkatkan risiko anak menjadi pelaku maupun korban bullying.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh teriakan atau kekerasan sangat mungkin meniru pola tersebut di luar rumah. Karena itu, negara perlu memastikan bahwa setiap calon orang tua memiliki kapasitas dasar pengasuhan.
Program pranikah berbasis edukasi
Model program edukasi pranikah di Singapura dan Korea Selatan menunjukkan berbagai manfaat:
* menurunkan konflik rumah tangga,
* meningkatkan keterampilan pengasuhan,
* memperbaiki regulasi emosi orang tua (Barlow et al., 2016).
Meta-analisis Hawkins & Fackrell (2009) juga menunjukkan bahwa edukasi pranikah meningkatkan kualitas hubungan dan mempersiapkan pasangan sebelum memiliki anak.
Di Indonesia, kelas pranikah sudah ada, tetapi masih terlalu administratif. Untuk mencegah kekerasan dalam keluarga, kelas pranikah perlu memasukkan:
* pengasuhan berbasis ilmu,
* kesehatan mental,
* perkembangan otak anak,
* manajemen stres orang tua,
* keterampilan komunikasi dalam keluarga.
Dengan demikian, pencegahan perundungan harus dimulai bahkan sebelum anak lahir. Negara memastikan calon orang tua siap, sekolah membangun budaya aman psikologis, dan anak mendapatkan akses untuk merasa aman, didengar, dan dilindungi.
Arahan Presiden untuk menangani perundungan secara serius adalah momentum penting untuk memperkuat sistem dari hulu ke hilir: mulai dari kesiapan orang tua, keamanan sekolah, hingga literasi pelaporan.
(rca)
Lihat Juga :