Darurat Perundungan, Bagaimana Mencegahnya?
Rabu, 19 November 2025 - 08:39 WIB
loading...
A
A
A
* kontrol emosi belum stabil,
* impulsivitas tinggi,
* mudah terpicu agresi.
4. Fokus sekolah dan orang tua pada akademik
Sering kali sekolah lebih menekankan prestasi akademik daripada iklim psikologis yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya relasi yang buruk memiliki tingkat perundungan jauh lebih tinggi (Wang et al., 2014). Nilai-nilai akhlak dan pendidikan karakter pun sering terabaikan.
5. Pengaruh rekan sebaya
Remaja sedang mencari identitas, sehingga mudah meniru dan terpengaruh teman sebaya. Kelompok pertemanan sering menjadi pemicu atau pendukung tindakan perundungan.
Penelitian Holt et al. (2015) menunjukkan bahwa respons orang tua yang tenang dan suportif meningkatkan keberanian anak untuk melapor serta menurunkan potensi trauma.
* mendokumentasikan kejadian,
* melapor ke guru atau BK,
* memastikan sekolah memiliki SOP perlindungan anak.
Jika sekolah tidak responsif, laporan dapat diteruskan ke Kementerian PPPA, SEJIWA 119, atau kepolisian. Ketenangan, sensitivitas, dan stabilitas emosi orang tua sangat penting, karena banyak anak enggan bercerita akibat takut dimarahi atau tidak dipercaya. Komunikasi suportif adalah kunci.
Jika diperlukan, korban perlu melakukan asesmen psikologis untuk menilai potensi kecemasan, depresi, atau trauma. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa dampak perundungan dapat bertahan hingga dewasa (Scandinavian Journal of Psychology, 2017).
Pencegahan perundungan di berbagai negara dilakukan secara sistemik dan menyeluruh:
Finlandia – Program KiVa
Terbukti menurunkan perundungan 30–50% (Salmivalli, 2010). Fokus pada empati, sistem pelaporan aman, dan pelibatan seluruh komunitas sekolah.
Jepang – Whole-School Approach
Seluruh staf sekolah dilatih mengenali tanda-tanda perundungan sejak dini.
Korea Selatan – Konselor Wajib
Setiap sekolah memiliki konselor khusus dan komite penanganan kekerasan.
* impulsivitas tinggi,
* mudah terpicu agresi.
4. Fokus sekolah dan orang tua pada akademik
Sering kali sekolah lebih menekankan prestasi akademik daripada iklim psikologis yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya relasi yang buruk memiliki tingkat perundungan jauh lebih tinggi (Wang et al., 2014). Nilai-nilai akhlak dan pendidikan karakter pun sering terabaikan.
5. Pengaruh rekan sebaya
Remaja sedang mencari identitas, sehingga mudah meniru dan terpengaruh teman sebaya. Kelompok pertemanan sering menjadi pemicu atau pendukung tindakan perundungan.
Bagaimana Mencegahnya?
Penelitian Holt et al. (2015) menunjukkan bahwa respons orang tua yang tenang dan suportif meningkatkan keberanian anak untuk melapor serta menurunkan potensi trauma.
Orang tua perlu:
* mendokumentasikan kejadian,
* melapor ke guru atau BK,
* memastikan sekolah memiliki SOP perlindungan anak.
Jika sekolah tidak responsif, laporan dapat diteruskan ke Kementerian PPPA, SEJIWA 119, atau kepolisian. Ketenangan, sensitivitas, dan stabilitas emosi orang tua sangat penting, karena banyak anak enggan bercerita akibat takut dimarahi atau tidak dipercaya. Komunikasi suportif adalah kunci.
Jika diperlukan, korban perlu melakukan asesmen psikologis untuk menilai potensi kecemasan, depresi, atau trauma. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa dampak perundungan dapat bertahan hingga dewasa (Scandinavian Journal of Psychology, 2017).
Belajar dari Negara Lain
Pencegahan perundungan di berbagai negara dilakukan secara sistemik dan menyeluruh:
Finlandia – Program KiVa
Terbukti menurunkan perundungan 30–50% (Salmivalli, 2010). Fokus pada empati, sistem pelaporan aman, dan pelibatan seluruh komunitas sekolah.
Jepang – Whole-School Approach
Seluruh staf sekolah dilatih mengenali tanda-tanda perundungan sejak dini.
Korea Selatan – Konselor Wajib
Setiap sekolah memiliki konselor khusus dan komite penanganan kekerasan.
Lihat Juga :