Kegagalan Komunikasi Politik Anggota DPR Memantik Amarah Rakyat Indonesia
Senin, 01 September 2025 - 22:36 WIB
loading...
A
A
A
"Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita," ujar Sahroni saat melakukan kunjungan kerja di Polda Sumut, Jumat (22/8/2025). Kata tolol merupakan pilihan diksi tidak etis yang dikeluarkan oleh lisan seorang elite wakil rakyat.
Tidak hanya itu, pidato Menkeu dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus lalu mengatakan bahwa “Oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat,” ucap Sri Mulyani.
Statement tersebut tentu mendapat respons beragam yang notabene berkonotasi negatif. Selang beberapa waktu kemudian, media di ramaikan kembali dengan klarifikasi beberapa anggota DPR yang berasal dari kelas artis/influencer saat melakukan aksi joget usai sidang tahunan MPR.
Klarifikasi perdana yang disampaikan, malah menuai kontroversi bukan memunculkan empati sehingga netizen semakin geram untuk berkomentar. Setalah berita menjadi viral, klarifikasi kedua menggunakan kata 'maaf' baru disampaikan oleh pihak terkait.
Pola komunikasi politik yang di adopsi oleh para elite politik tidak menghasilkan buah manis. Setiap statement yang diucapkan akan terekam dan tersampaikan dengan cepat juga mendapat respon kilat oleh netizen.
Tidak hanya itu, pidato Menkeu dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus lalu mengatakan bahwa “Oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat,” ucap Sri Mulyani.
Statement tersebut tentu mendapat respons beragam yang notabene berkonotasi negatif. Selang beberapa waktu kemudian, media di ramaikan kembali dengan klarifikasi beberapa anggota DPR yang berasal dari kelas artis/influencer saat melakukan aksi joget usai sidang tahunan MPR.
Klarifikasi perdana yang disampaikan, malah menuai kontroversi bukan memunculkan empati sehingga netizen semakin geram untuk berkomentar. Setalah berita menjadi viral, klarifikasi kedua menggunakan kata 'maaf' baru disampaikan oleh pihak terkait.
Pola komunikasi politik yang di adopsi oleh para elite politik tidak menghasilkan buah manis. Setiap statement yang diucapkan akan terekam dan tersampaikan dengan cepat juga mendapat respon kilat oleh netizen.
Lihat Juga :