Refleksi Kritis atas Tagar Women Support Women dalam Kasus Erika Carlina: Antara Solidaritas, Verifikasi Fakta, dan Integritas Gerakan
Senin, 11 Agustus 2025 - 08:47 WIB
loading...
A
A
A
Penyalahgunaan tagar women support women dalam konteks yang lemah bukti bisa menimbulkan backlash bagi gerakan perempuan. Ia dapat dimanfaatkan oleh pihak anti-feminis untuk mendiskreditkan perjuangan kesetaraan gender dengan argumen bahwa “feminis hanya membela sesama perempuan tanpa peduli kebenaran.”
Lebih jauh, korban perempuan yang benar-benar berada dalam posisi rentan bisa semakin sulit mendapatkan dukungan karena publik menjadi skeptis. Integritas adalah modal utama dalam sebuah gerakan sosial. Dalam konteks women support women, integritas berarti memastikan bahwa solidaritas tidak digunakan untuk melindungi perilaku yang justru merugikan perempuan lain.
Misalnya, jika dukungan diberikan kepada figur yang secara sadar memanipulasi narasi demi keuntungan pribadi, maka hal itu dapat melemahkan perjuangan perempuan yang benar-benar berjuang melawan ketidakadilan.
Dengan demikian, dukungan yang sehat harus bersifat membangun (constructive support)—memberikan ruang aman, saran, dan dukungan moral—tetapi tetap mengutamakan nilai keadilan dan kebenaran. Prinsip ini membantu mencegah gerakan menjadi alat pembenaran perilaku yang tidak etis.
Dukungan sejati mestinya melampaui identitas gender. Kita membela seseorang bukan karena ia perempuan atau laki-laki, akan tetapi karena ia manusia. Manusia yang tidak bisa bersuara dan suaranya tidak didengar. Integritas gerakan terletak pada keberanian untuk berkata benar meski terhadap sesama perempuan, jika memang narasinya keliru.
Tagar “women support women” adalah simbol yang kuat, tetapi kekuatannya hanya dapat bertahan jika digunakan dengan bijak. Kasus Erika Carlina menjadi pengingat bahwa solidaritas sejati tidak berarti membela tanpa kritik, melainkan menempatkan kebenaran dan keadilan sebagai prioritas. Kita mendukung bukan karena seseorang perempuan atau laki-laki, melainkan karena ia manusia yang suaranya terpinggirkan dan membutuhkan dukungan.
Mengutip Davis (1981), gerakan pembebasan yang berkelanjutan adalah gerakan yang berani mengkritisi dirinya sendiri. Dalam konteks ini, women support women harus tetap menjadi sarana untuk menguatkan, bukan untuk menutupi kebenaran.
Membela perempuan berarti membela kebenaran, bukan membenarkan semua keputusan. Jika prinsip ini dijaga, maka Women Support Women akan tetap menjadi simbol perjuangan melawan patriarki, bukan sekadar tren di media sosial.
Castells, M. (2012). Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Polity Press.
Crenshaw, K. (1991). Mapping the Margins: Intersectionality, Identity Politics, and Violence against Women of Color. Stanford Law Review, 43(6), 1241–1299.
Davis, A. (1981). Women, Race, & Class. Vintage Books.
Hooks, B. (2000). Feminism is for Everybody: Passionate Politics. South End Press.
Snow, D. A., & Benford, R. D. (1988). Ideology, Frame Resonance, and Participant Mobilization. International Social Movement Research, 1(1), 197–217.
Lebih jauh, korban perempuan yang benar-benar berada dalam posisi rentan bisa semakin sulit mendapatkan dukungan karena publik menjadi skeptis. Integritas adalah modal utama dalam sebuah gerakan sosial. Dalam konteks women support women, integritas berarti memastikan bahwa solidaritas tidak digunakan untuk melindungi perilaku yang justru merugikan perempuan lain.
Misalnya, jika dukungan diberikan kepada figur yang secara sadar memanipulasi narasi demi keuntungan pribadi, maka hal itu dapat melemahkan perjuangan perempuan yang benar-benar berjuang melawan ketidakadilan.
Dengan demikian, dukungan yang sehat harus bersifat membangun (constructive support)—memberikan ruang aman, saran, dan dukungan moral—tetapi tetap mengutamakan nilai keadilan dan kebenaran. Prinsip ini membantu mencegah gerakan menjadi alat pembenaran perilaku yang tidak etis.
Dukungan sejati mestinya melampaui identitas gender. Kita membela seseorang bukan karena ia perempuan atau laki-laki, akan tetapi karena ia manusia. Manusia yang tidak bisa bersuara dan suaranya tidak didengar. Integritas gerakan terletak pada keberanian untuk berkata benar meski terhadap sesama perempuan, jika memang narasinya keliru.
Tagar “women support women” adalah simbol yang kuat, tetapi kekuatannya hanya dapat bertahan jika digunakan dengan bijak. Kasus Erika Carlina menjadi pengingat bahwa solidaritas sejati tidak berarti membela tanpa kritik, melainkan menempatkan kebenaran dan keadilan sebagai prioritas. Kita mendukung bukan karena seseorang perempuan atau laki-laki, melainkan karena ia manusia yang suaranya terpinggirkan dan membutuhkan dukungan.
Mengutip Davis (1981), gerakan pembebasan yang berkelanjutan adalah gerakan yang berani mengkritisi dirinya sendiri. Dalam konteks ini, women support women harus tetap menjadi sarana untuk menguatkan, bukan untuk menutupi kebenaran.
Penutup
Refleksi kritis atas tagar Women Support Women dalam kasus Erika Carlina menunjukkan bahwa solidaritas adalah kekuatan, tetapi tanpa verifikasi fakta, ia dapat menjadi bumerang. Gerakan perempuan harus menjaga keseimbangan antara empati dan integritas.Membela perempuan berarti membela kebenaran, bukan membenarkan semua keputusan. Jika prinsip ini dijaga, maka Women Support Women akan tetap menjadi simbol perjuangan melawan patriarki, bukan sekadar tren di media sosial.
Referensi
Ahmed, S. (2017). Living a Feminist Life. Duke University PressCastells, M. (2012). Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Polity Press.
Crenshaw, K. (1991). Mapping the Margins: Intersectionality, Identity Politics, and Violence against Women of Color. Stanford Law Review, 43(6), 1241–1299.
Davis, A. (1981). Women, Race, & Class. Vintage Books.
Hooks, B. (2000). Feminism is for Everybody: Passionate Politics. South End Press.
Snow, D. A., & Benford, R. D. (1988). Ideology, Frame Resonance, and Participant Mobilization. International Social Movement Research, 1(1), 197–217.
(rca)
Lihat Juga :