Refleksi Kritis atas Tagar Women Support Women dalam Kasus Erika Carlina: Antara Solidaritas, Verifikasi Fakta, dan Integritas Gerakan

Senin, 11 Agustus 2025 - 08:47 WIB
loading...
Refleksi Kritis atas...
Laksmi Rachmaria, S.Sos., M. I.Kom, Dosen Tetap di Fakultas Komunikasi & Disain Kreatif, Universitas Budi Luhur. Foto/Istimewa
A A A
Laksmi Rachmaria, S.Sos., M. I.Kom
Dosen Tetap di Fakultas Komunikasi & Disain Kreatif, Universitas Budi Luhur,
Mahasiswa Pascasarjana, Program Doktoral Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

TAGAR #women support women telah menjadi simbol solidaritas antarperempuan dalam memperjuangkan hak, kesetaraan, dan ruang aman di tengah budaya patriarki yang sering kali menempatkan perempuan pada posisi rentan. Tagar ini bertujuan untuk memperkuat perempuan di berbagai aspek kehidupan, mendorong kesetaraan gender, dan menentang struktur patriarki yang kerap membungkam suara perempuan.

Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan jaringan dukungan yang saling menguatkan, baik secara emosional maupun struktural. Dalam era digital, dukungan ini sering kali diwujudkan melalui gerakan daring seperti hashtag feminism dan networked feminism.

Hashtag feminism adalah bentuk aktivisme yang menggunakan tagar di media sosial untuk menyebarkan kesadaran, membentuk komunitas, dan menggerakkan dukungan bagi isu-isu feminis. Gerakan ini terlihat pada kampanye seperti #MeToo dan #YesAllWomen yang mengumpulkan kisah pengalaman pribadi untuk menantang seksisme dan pelecehan.

Networked feminism adalah gerakan feminis yang memanfaatkan jaringan digital dan media sosial sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas dan memobilisasi aksi. Kedua konsep ini merupakan ciri khas feminisme gelombang keempat, yang mengutamakan konektivitas, keberagaman, dan keterbukaan melalui teknologi.

Namun, di era media sosial, penggunaan tagar ini juga menghadapi tantangan serius, terutama ketika digunakan tanpa verifikasi fakta atau konteks yang jelas. Kasus publik yang melibatkan figur publik seperti Erika Carlina menunjukkan bagaimana tagar ini dapat disalahgunakan.

Alih-alih menjadi sarana membangun solidaritas yang sehat, tagar tersebut justru berpotensi menggiring opini publik secara sepihak. Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah solidaritas harus selalu berarti pembelaan tanpa syarat, atau justru membutuhkan sikap kritis demi menjaga integritas gerakan?

Pseudo-feminism: Penyalahgunaan Solidaritas

Pseudo-feminism adalah penyalahgunaan ide dan simbol feminisme untuk tujuan yang tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan gender. Dalam bentuk ini, dukungan kepada seseorang diberikan semata-mata karena identitas gendernya, bukan karena fakta atau kebenaran kasus yang dihadapi.

Fenomena ini bisa mengaburkan tujuan utama feminisme, yakni memperjuangkan keadilan bagi semua manusia tanpa memandang gender. Bentuk pseudo-feminism juga bisa muncul sebagai strategi pemasaran atau politik yang menggunakan citra feminisme untuk kepentingan tertentu, sebuah praktik yang dikenal sebagai pinkwashing.

Gerakan “women support women” pada awalnya lahir dari kebutuhan perempuan untuk saling mendukung dalam menghadapi diskriminasi, kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, dan penindasan struktural. Menurut Hooks (2000), solidaritas perempuan berakar pada kesadaran kolektif bahwa pengalaman penindasan sering kali bersifat sistemik, sehingga memerlukan dukungan lintas individu dan komunitas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Badan Gizi Nasional...
Badan Gizi Nasional dan Reduksi Orkestrasi Pemenuhan Gizi
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
DJ Panda Tuai Hujatan...
DJ Panda Tuai Hujatan Usai Diduga Kutip Ayat Alkitab soal Balikan dengan Erika Carlina
Tak Sembarangan, Ini...
Tak Sembarangan, Ini Alasan Erika Carlina Pilih Tanggal Tedak Siten Bertepatan Jumat Agung
DJ Bravy Tato Nama Anak...
DJ Bravy Tato Nama Anak Erika Carlina di Tangan, Ungkap Makna Haru
Rekomendasi
Tak Kenal Menyerah,...
Tak Kenal Menyerah, Maryanti Jadi Lulusan Terbaik UNY 2026 Meski Kuliah Sambil Berwirausaha
Gilberto Mora Ukir Sejarah,...
Gilberto Mora Ukir Sejarah, Jadi Starter Termuda di Piala Dunia 2026
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Berita Terkini
Boni Hargens Sebut Presisi...
Boni Hargens Sebut Presisi Jadi Fondasi Transformasi Menyeluruh di Tubuh Polri
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Uang dan Rumah, Total Rp4,8 M
Menkes Ungkap Ada Gap...
Menkes Ungkap Ada Gap Tinggi Penghasilan Dokter Spesialis: di Bone Rp3 Juta, di Mahakam Ulu Rp80 Juta
Istri Gus Yaqut Apresiasi...
Istri Gus Yaqut Apresiasi KPK Bantarkan Suaminya
Projo Ungkap Pesan Jokowi...
Projo Ungkap Pesan Jokowi di Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa, Apa Itu?
Menkes: Yang Paling...
Menkes: Yang Paling Banyak Dikeluhkan Dokter adalah Perundungan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved