Penulisan Sejarah Nasional dan Integrasi Bangsa
Kamis, 10 Juli 2025 - 06:59 WIB
loading...
A
A
A
Misal, revolusi sosial yang memakan korban keluarga bangsawan Melayu di Sumatera Timur, pelanggaran HAM saat operasi PRRI/Permesta, G30/S PKI, Tanjung Priok, Kerusuhan Mei 1998, peristiwa Dukun Santet, Konflik Ambon, Poso, Kupang, Sambas, hingga Penembakan di KM 50. Kalau semua peristiwa di atas tidak ditulis dengan hati-hati, hanya melihat dari sisi hasil penelitian sejarah, maka penulisan ulang sejarah hanya akan memunculkan permasalahan baru.
Tidak semua peristiwa sejarah ditulis dalam sejarah nasional. Sejarah, selain sebagai ilmu, juga memiliki kegunaan memperkuat integrasi nasional. Atau sebaliknya, sejarah dapat menjadi kekuatan yang memisahkan suatu bangsa, contoh India dan Pakistan serta lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Penulisan sejarah yang berkaitan dengan konflik di Indonesia, baik konflik horizontal dan vertikal, tidak mencari benar salah, tetapi diambil pelajaran atas peristiwa tersebut agar tidak terulang kembali.
Resolusi konflik dari berbagai peristiwa konflik Ambon dan Poso, dapat menjadi pembelajaran kepada generasi muda dalam menyelesaikan berbagai konflik sosial yang akan mereka alami di masa depan, yang bakal lebih kompleks
Kami percaya, 100 sejarawan memiliki kamampuan akademik dan moralitas yang tinggi dalam menulis sejarah bangsa yang akan menjadi kekuatan pemersatu bangsa ini dalam menghadapi tantangan zaman di era global.
Tidak semua peristiwa sejarah ditulis dalam sejarah nasional. Sejarah, selain sebagai ilmu, juga memiliki kegunaan memperkuat integrasi nasional. Atau sebaliknya, sejarah dapat menjadi kekuatan yang memisahkan suatu bangsa, contoh India dan Pakistan serta lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Penulisan sejarah yang berkaitan dengan konflik di Indonesia, baik konflik horizontal dan vertikal, tidak mencari benar salah, tetapi diambil pelajaran atas peristiwa tersebut agar tidak terulang kembali.
Resolusi konflik dari berbagai peristiwa konflik Ambon dan Poso, dapat menjadi pembelajaran kepada generasi muda dalam menyelesaikan berbagai konflik sosial yang akan mereka alami di masa depan, yang bakal lebih kompleks
Kami percaya, 100 sejarawan memiliki kamampuan akademik dan moralitas yang tinggi dalam menulis sejarah bangsa yang akan menjadi kekuatan pemersatu bangsa ini dalam menghadapi tantangan zaman di era global.
(zik)
Lihat Juga :