Sejarah Baru Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Australia
Senin, 09 September 2024 - 05:08 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai negara bertetangga, persinggungan Indonesia-Australia memang tidak terhindarkan, dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya. Secara historis, hubungan keduanya sudah terjalin di era kemerdekaan 1945. Australia adalah pendukung utama kemerdekaan Indonesia dan menjadi negara pertama yang mengirimkan misi diplomatik untuk bertemu Presiden Soekarno.
Laporan ‘’Hubungan Indonesia dan Australia Capai Titik Balik yang Strategis Meski Banyak Kesalahpahaman’’ yang ditulis Tasha Wibawa menyebut tonggak sejarah hubungan bilateral Indonesia-Australia dimulai saat Soekarno memilih Negeri Kanguru mewakili Indonesia dalam diskusi-diskusi di tingkatPBB, yang berujung pada pengakuan kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949.
Dalam perjalanan, kedua negara telah berusaha mendekatkan satu sama lain lewat ikatan kerja sama. Tercatat, sejumlah perjanjian telah diteken pemerintah kedua negara. Sejak 1995, sudah ada lima perjanjian resmi telah ditandatangani. Masing-masing Perjanjian 1995, Perjanjian Lombok 2006, dua Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang berkaitan dengan Perjanjian Lombok, dan Pemahaman Bersama tentang Keamanan 2014.
Pada perjanjian 1995 yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas di Jakarta pada 18 Desember 1995 di antaranya menegaskan kembali kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing dan komitmen kedua negara terhadap Piagam PBB yang akan memastikan Indonesia-Australia menyelesaikan setiap potensi perselisihan dengan cara damai.
Sayangnya, krisis Timor-Timur pada 1999 yang menyeret keterlibatan Australia menghancurkan ikatan tersebut. Indonesia tidak hanya menganggap Australia tidak konsisten dengan isi dan semangat Perjanjian 1995, tapi juga resmi membatalkan perjanjian tersebut. Hubungan Indonesia-Australia kembali pulih yang ditandai dengan Perjanjian Lombok (Lombok Treaty/Agreement between the Republic of Indonesia and Australia on the Framework for Security Cooperation) yang diteken pada 2006.
baca juga: Indonesia-Australia Perkuat Resolusi Penanganan Anak yang Terasosiasi Terorisme
Tragedi Bom Bali pada 2002 dan Forum Menteri Indonesia-Australia Keenam pada 2003 juga dianggap sebagai katalisator terajutnya kembali hubungan baik itu. Selanjutnya, Perjanjian Lombok diperkuat melalui Deklarasi Bersama Australia dan Indonesia mengenai Kemitraan Strategis Komprehensif.
Seperti termuat dalam artikel ‘’Kemitraan Pembangunan dengan Indonesia’’ yang dimuat situs indonesia.embassy.gov.au, kemitraan menetapkan agenda ambisius untuk memperdalam dan memperluas kerja sama di segala aspek, termasuk komitmen bekerja bersama membangun wilayah Indo-Pasifik yang makmur dan stabil. Selain itu kemitraan juga diarahkan secara menyeluruh untuk mendorong kemakmuran, stabilitas dan ketahanan Indonesia, dan ikatan kuat antara dua negara.
Selain menelusuri perjalanan sejarah dan dinamika kerja sama yang dibangun Indonesia-Australia, kekuatan fondasi dan masa depan relasi yang terbangun juga perlu memahami perspektif kedua negara dalam memandang masing-masing counterpart mereka.
Dari sisi Indonesia, misalnya. Buku Pertahanan Indonesia 2015 melihat realitas Australia sebagai tetangga yang berdekatan secara geografis, dan menempatkannya pada posisi penting secara geopolitik untuk menjalin hubungan bilateral dan berkontribusi menciptakan stabilitas dan perdamaian kawasan.
Bagaimana dengan persepsi The Land Down Under terhadap Indonesia? Buku Putih Pertahanan (Defence White Paper) yang dirilis berturut-turut pada 1976, 1987, 1994, 2000, 2009, 2013, dan 2016 selalu menempatkan Indonesia pada prioritas hubungan dan menjadi bagian penting kebijakan negara tersebut. Pada Buku Putih Pertahanan 1976 yang dirilis setelah 30 tahun hubungan diplomatik kedua negara, Indonesia dipandang memiliki posisi geopolitik strategis dalam setiap strategi militer ofensif terhadap Australia.
Variabel ini memberi Australia kepentingan abadi dalam keamanan dan integritas Republik Indonesia dari pengaruh eksternal. Pada sudut pandang berbeda, Australia memandang Indonesia memiliki keuntungan besar keberadaan tetangga bersahabat di selatannya, yang memiliki kepentingan strategis dasar sama, dan mampu memberikan kontribusi militer signifikan untuk mencegah dan membendung setiap ancaman yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Australia juga memahami bahwa Indonesia adalah negara besar dengan banyak masalah nasional yang mendesak. Di sisi lain kekuatan militer yang efektif merupakan elemen penting dalam ketahanan nasional. Untuk itu, meski terbatas, Australia dapat bekerja sama dan membantu mempertahankan dan mengembangkan keterampilan dan kapasitas untuk mendukung kepentingan tersebut.
Untuk tujuan itu, pada era 1970-an kedua negara menjalankan program kerja sama pertahanan seperti pengembangan kemampuan Indonesia untuk pengawasan maritim, pelatihan prajurit Indonesia, dan sesekali menggelar latihan gabungan. Perspektif demikian secara garis besar terus menjadi roh dalam periode selanjutnya seperti termaktub dalam Buku Putih Pertahanan 1987, 1994, 2000, 2009, 2013, dan 2016.
baca juga: Festival Indonesia di Melbourne Pererat Kerja Sama Dagang, Investasi, dan Pariwisata Indonesia-Australia
Dalam Buku Putih Pertahanan 2016, Indonesia menempati sub pembahasan khusus setara dengan kawasan Asia Tenggara. Pada buku putih pertahanan teranyar ini, Australia menegaskan Indonesia sebagai negara tetangga dekat dan sangat vital. Negara yang namanya dipopulerkan Matthew Flinders dari bahasa latin ‘’terra australis’’ atau Tanah Selatan itu telah memprediksi Indonesia menjadi negara ekonomi besar pada 2035, dan pertumbuhan ini menghadirkan peluang untuk membangun kesejahteraan bagi Australia dan Indonesia.
Selain itu, dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, Australia melihat Indonesia memiliki potensi meningkatkan pengaruh regional dan global, serta akan menjadi pembelanja pertahanan terbesar di Asia Tenggara. Bagi Australia, modernisasi angkatan bersenjata Indonesia dan pengaruh Indonesia yang semakin besar merupakan perkembangan positif yang akan menambah keamanan Indonesia, dan keamanan kawasan.
Disebut pula, keamanan Indonesia merupakan kepentingan Australia dan peningkatan kemampuan militernya akan memberikan peluang bagi Australia dan Indonesia untuk bekerja sama secara lebih efektif guna merespons berbagai dinamika tantangan. Karena itu, Australia akan terus memperluas kerja sama pertahanan dengan cara yang menguntungkan kedua negara.
Sedangkan dalam kerja sama pertahanan, hubungan kuat dan produktif dengan Indonesia sangat penting bagi keamanan nasional Australia. Kedua negara yang berbagi perbatasan maritim memiliki kepentingan bersama dan abadi dalam keamanan dan stabilitas, pergerakan bebas perdagangan dan investasi, penanggulangan terorisme, dan penyelundupan manusia.
Australia pun menyambut baik peningkatan fokus Indonesia pada urusan maritim dan Australia akan mengupayakan kerja sama yang lebih besar dalam kegiatan keamanan maritim yang berkontribusi pada kawasan yang stabil dan makmur.
Perkokoh Kerja Sama Berkelanjutan
Laporan ‘’Hubungan Indonesia dan Australia Capai Titik Balik yang Strategis Meski Banyak Kesalahpahaman’’ yang ditulis Tasha Wibawa menyebut tonggak sejarah hubungan bilateral Indonesia-Australia dimulai saat Soekarno memilih Negeri Kanguru mewakili Indonesia dalam diskusi-diskusi di tingkatPBB, yang berujung pada pengakuan kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949.
Dalam perjalanan, kedua negara telah berusaha mendekatkan satu sama lain lewat ikatan kerja sama. Tercatat, sejumlah perjanjian telah diteken pemerintah kedua negara. Sejak 1995, sudah ada lima perjanjian resmi telah ditandatangani. Masing-masing Perjanjian 1995, Perjanjian Lombok 2006, dua Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang berkaitan dengan Perjanjian Lombok, dan Pemahaman Bersama tentang Keamanan 2014.
Pada perjanjian 1995 yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans dan Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas di Jakarta pada 18 Desember 1995 di antaranya menegaskan kembali kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing dan komitmen kedua negara terhadap Piagam PBB yang akan memastikan Indonesia-Australia menyelesaikan setiap potensi perselisihan dengan cara damai.
Sayangnya, krisis Timor-Timur pada 1999 yang menyeret keterlibatan Australia menghancurkan ikatan tersebut. Indonesia tidak hanya menganggap Australia tidak konsisten dengan isi dan semangat Perjanjian 1995, tapi juga resmi membatalkan perjanjian tersebut. Hubungan Indonesia-Australia kembali pulih yang ditandai dengan Perjanjian Lombok (Lombok Treaty/Agreement between the Republic of Indonesia and Australia on the Framework for Security Cooperation) yang diteken pada 2006.
baca juga: Indonesia-Australia Perkuat Resolusi Penanganan Anak yang Terasosiasi Terorisme
Tragedi Bom Bali pada 2002 dan Forum Menteri Indonesia-Australia Keenam pada 2003 juga dianggap sebagai katalisator terajutnya kembali hubungan baik itu. Selanjutnya, Perjanjian Lombok diperkuat melalui Deklarasi Bersama Australia dan Indonesia mengenai Kemitraan Strategis Komprehensif.
Seperti termuat dalam artikel ‘’Kemitraan Pembangunan dengan Indonesia’’ yang dimuat situs indonesia.embassy.gov.au, kemitraan menetapkan agenda ambisius untuk memperdalam dan memperluas kerja sama di segala aspek, termasuk komitmen bekerja bersama membangun wilayah Indo-Pasifik yang makmur dan stabil. Selain itu kemitraan juga diarahkan secara menyeluruh untuk mendorong kemakmuran, stabilitas dan ketahanan Indonesia, dan ikatan kuat antara dua negara.
Selain menelusuri perjalanan sejarah dan dinamika kerja sama yang dibangun Indonesia-Australia, kekuatan fondasi dan masa depan relasi yang terbangun juga perlu memahami perspektif kedua negara dalam memandang masing-masing counterpart mereka.
Dari sisi Indonesia, misalnya. Buku Pertahanan Indonesia 2015 melihat realitas Australia sebagai tetangga yang berdekatan secara geografis, dan menempatkannya pada posisi penting secara geopolitik untuk menjalin hubungan bilateral dan berkontribusi menciptakan stabilitas dan perdamaian kawasan.
Bagaimana dengan persepsi The Land Down Under terhadap Indonesia? Buku Putih Pertahanan (Defence White Paper) yang dirilis berturut-turut pada 1976, 1987, 1994, 2000, 2009, 2013, dan 2016 selalu menempatkan Indonesia pada prioritas hubungan dan menjadi bagian penting kebijakan negara tersebut. Pada Buku Putih Pertahanan 1976 yang dirilis setelah 30 tahun hubungan diplomatik kedua negara, Indonesia dipandang memiliki posisi geopolitik strategis dalam setiap strategi militer ofensif terhadap Australia.
Variabel ini memberi Australia kepentingan abadi dalam keamanan dan integritas Republik Indonesia dari pengaruh eksternal. Pada sudut pandang berbeda, Australia memandang Indonesia memiliki keuntungan besar keberadaan tetangga bersahabat di selatannya, yang memiliki kepentingan strategis dasar sama, dan mampu memberikan kontribusi militer signifikan untuk mencegah dan membendung setiap ancaman yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Australia juga memahami bahwa Indonesia adalah negara besar dengan banyak masalah nasional yang mendesak. Di sisi lain kekuatan militer yang efektif merupakan elemen penting dalam ketahanan nasional. Untuk itu, meski terbatas, Australia dapat bekerja sama dan membantu mempertahankan dan mengembangkan keterampilan dan kapasitas untuk mendukung kepentingan tersebut.
Untuk tujuan itu, pada era 1970-an kedua negara menjalankan program kerja sama pertahanan seperti pengembangan kemampuan Indonesia untuk pengawasan maritim, pelatihan prajurit Indonesia, dan sesekali menggelar latihan gabungan. Perspektif demikian secara garis besar terus menjadi roh dalam periode selanjutnya seperti termaktub dalam Buku Putih Pertahanan 1987, 1994, 2000, 2009, 2013, dan 2016.
baca juga: Festival Indonesia di Melbourne Pererat Kerja Sama Dagang, Investasi, dan Pariwisata Indonesia-Australia
Dalam Buku Putih Pertahanan 2016, Indonesia menempati sub pembahasan khusus setara dengan kawasan Asia Tenggara. Pada buku putih pertahanan teranyar ini, Australia menegaskan Indonesia sebagai negara tetangga dekat dan sangat vital. Negara yang namanya dipopulerkan Matthew Flinders dari bahasa latin ‘’terra australis’’ atau Tanah Selatan itu telah memprediksi Indonesia menjadi negara ekonomi besar pada 2035, dan pertumbuhan ini menghadirkan peluang untuk membangun kesejahteraan bagi Australia dan Indonesia.
Selain itu, dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, Australia melihat Indonesia memiliki potensi meningkatkan pengaruh regional dan global, serta akan menjadi pembelanja pertahanan terbesar di Asia Tenggara. Bagi Australia, modernisasi angkatan bersenjata Indonesia dan pengaruh Indonesia yang semakin besar merupakan perkembangan positif yang akan menambah keamanan Indonesia, dan keamanan kawasan.
Disebut pula, keamanan Indonesia merupakan kepentingan Australia dan peningkatan kemampuan militernya akan memberikan peluang bagi Australia dan Indonesia untuk bekerja sama secara lebih efektif guna merespons berbagai dinamika tantangan. Karena itu, Australia akan terus memperluas kerja sama pertahanan dengan cara yang menguntungkan kedua negara.
Sedangkan dalam kerja sama pertahanan, hubungan kuat dan produktif dengan Indonesia sangat penting bagi keamanan nasional Australia. Kedua negara yang berbagi perbatasan maritim memiliki kepentingan bersama dan abadi dalam keamanan dan stabilitas, pergerakan bebas perdagangan dan investasi, penanggulangan terorisme, dan penyelundupan manusia.
Australia pun menyambut baik peningkatan fokus Indonesia pada urusan maritim dan Australia akan mengupayakan kerja sama yang lebih besar dalam kegiatan keamanan maritim yang berkontribusi pada kawasan yang stabil dan makmur.
Perkokoh Kerja Sama Berkelanjutan
Lihat Juga :