Prospek Industri Hijau Menyongsong Indonesia Emas 2045

Selasa, 02 April 2024 - 15:07 WIB
loading...
A A A
Industri yang berorientasi pada masa depan patut didukung. Bagaimanapun juga, sumber daya alam dan sumber daya manusia, sekalipun memiliki irisan tetap saja memiliki titik pembeda. Tidak seperti sumber daya manusia, dalam sumber daya alam ditemukan fakta kalau jenis ini memiliki keterbatasan dan tidak bisa direproduksi manakala cadangannya telah habis.

Fakta sumber daya alam memiliki keterbatasan, sementara di saat yang sama populasi manusia terus bertambah, membuat konsep green industry semakin relevan untuk ditumbuh kembangkan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Hubungan lingkungan alam dengan masa depan ekonomi manusia telah menjadi diskursus panjang para ekonom sejak berabad-abad silam.

Malthus menelaah relasi lingkungan dan masa depan ekonomi manusia lewat usahanya dalam menyelidiki konsekuensi-konsekuensi sosial dari cepatnya pertumbuhan penduduk dalam konteks keterbatasan sumberdaya lingkungan yang menghasilkan bahan pangan terhadap penduduk (Goldblatt, 2015). Ada semacam kekhawatiran jika kelak alam tidak lagi mampu menyediakan bahan pangan di tengah populasi yang terus bertambah.

Dalam konteks seperti inilah gagasan green industry patut dipertahankan dan dikembangkan lantara memiliki nilai ekonomi dan bisnis yang menjanjikan di bawah prinsip-prinsip keberlanjutan. Hal ini dikarenakan penerapan green industry berpeluang menghemat biaya pengelolaan pembuangan limbah dan mengurangi beban biaya penggunaan energi akibat proses transisi energi baru terbarukan (renewable energy).

Selain itu, green industry juga diyakini dapat mengurangi beban biaya dalam konteks kesehatan yang dihasilkan akibat dampak kerusakan lingkungan dan polusi udara. Melalui green industry, upaya untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan di aspek teknologi hijau atau energi baru terbarukan potensial diwujudkan.

Mewujudkan industri yang berkelanjutan memang bukanlah perkara mudah. Perlu waktu dan komitmen politik guna merealisasikannya. Di titik ini, negara perlu mengambil peranan substantif, melalui pembenahan terhadap berbagai sektor serta memperkuat kolaborasi dengan elemen-elemen terkait, sebagai langkah awal dalam melaksanakan energi hijau yang berkelanjutan. Langkah ini menjadi katalisator dalam meningkatkan perekonomian nasional dan ikut mengorbit Indonesia menuju cita-cita emas 2045.

Karena itu, tindakan-tindakan strategis tetap diperlukan untuk mewujudkan green industry yang berkelanjutan. Negara mesti menjamin kelancaran proses pergerakan kapital. Sementara di saat yang sama, pemerintah juga selayaknya mengutamakan praktik manajemen hijau dalam kegiatan ekonomi dan bisnis di berbagai tingkatan industri.

Pada akhirnya, pemerintah mesti menyiapkan stimulus berupa insentif pada pelaku bisnis dan ekonomi yang memiliki komitmen politik dalam menjaga kelestarian lingkungan. Insentif ini diharapkan dapat menarik pelaku usaha lainnya agar berpartisipasi dalam menerapkan prinsip-prinsip green industry. Sebaliknya, para pelaku usaha yang tidak memiliki komitmen politik tersebut, secara tegas harus diberikan disinsentif.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Ekonomi Restoratif Digagas...
Ekonomi Restoratif Digagas Jadi Jembatan Pembangunan Hijau Berkelanjutan
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
Rekomendasi
Pemerintah Bebaskan...
Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor Komponen Pesawat dan LPG Petrokimia
IBEM Jadi Marketplace...
IBEM Jadi Marketplace Perdana Industri MICE, Pertemukan 200 Buyers dan 200 Sellers
Elma Agustin Buka Suara...
Elma Agustin Buka Suara Soal Tak Diajak Reuni Princess, Singgung Cara Komunikasi
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved