Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penanda Era Baru Kerja Sama Indonesia-China
Sabtu, 30 Desember 2023 - 19:37 WIB
loading...
A
A
A
Proyek Belt and Road Initiative (BRI) atau One Belt One Road (BRIN, 2023) merupakan proyek infrastruktur yang pertama kali dipidatokan Xi Jinping pada tahun 2013. BRI dirasa efektif meningkatkan konektivitas regional dan mendorong kerjasama pembangunan dengan sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, Eropa dan Afrika.
Dua komponen utama BRI terfokus pada the Silk Road Economic Belt dan the 21st Century Maritime Silk Road. Proyek BRI dianggap sebagai langkah strategis untuk mewujudkan keterbukaan dan pembangunan ekonomi bagi Tiongkok, terutama membangun interkoneksi antar negara, termasuk kekuatan jalur pernghubungan perdagangan, kerjasama industri, koordinasi kebijakan, dan pertukaran budaya.( Khonkhlong, 2022).
Mega proyek BRI (The State Council Information Office of the People’s Republic of China, 2023) berusaha menyeimbangkan pembangunan dan kebutuhan masyarakat dengan membangun komunitas masa depan bersama menuju ke arah keharmonisan, membangun dunia yang inklusif, bersih dan indah, yang memiliki perdamaian abadi, keamanan universal dan kemakmuran bersama.
Kebijakan ini berdampak pada kemudahan akses ekspor barang-barang terhadap negara lain karena dibangunnya infrastruktur digitalisasi negara. Belt and Road Initiative (BRI) seringkali dikaitkan dengan investasi besar (Tempo, 2023) dalam pembangunan infrastruktur.
BRI sebagai contoh nyata China dalam membangun komunitas global masa depan bersama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kerja sama Tiongkok-Indonesia dalam proyek BRI hingga saat ini.
Kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan Kerja sama Belt and Road Initiative di masa mendatang. Indonesia (Angelin, 2023) sebagai negara yang memiliki lokasi paling strategis dari segi maritim menjadi faktor penting berjalannya BRI.
Proyek ini ditujukan agar Indonesia dapat terintegrasi dalam agenda pembangunan jalur sutra maritim China. Hingga tahun 2021, Indonesia memiliki 72 proyek pembangunan di bawah BRI yang bernilai USD21 miliar.
Ketersediaan infrastruktur yang memadai menjadi pendorong dalam mempercepat pembangunan negara, baik pembangunan ekonomi maupun sosial menuju pembangunan yang merata disetiap daerah.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB)
Bagi China, proyek BRI (BRIN, 2023) merupakan kontribusi Tiongkok dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur pada skala global. Salah satunya adalah pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Kereta cepat (Belt and Road Portal, 15 November) dengan kecepatan 350 km per jam, yang dibangun dengan teknologi China.
Pembangunan kereta cepat ini mewujud sebagai proyek penting kerja sama pragmatis antara China dan Indonesia di bawah Belt and Road Initiative (BRI). Proyek kereta cepat di Indonesia menghabiskan USD6,071 miliar dalam pembangunannya. KCJB (Rahman, 2022) merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PNS) yang menjadi gurita bisnis China di Indonesia.
KCJB menjadi rencana (Ali, 2022) pembangunan infrastruktur di masa Presiden Jokowi sejak 2015. China menawarkan pinjaman sebesar 5,5% miliar ke Indonesia dengan jangka waktu 50 tahun dan tingkat bunga 2% per tahun tanpa adanya jaminan apapun. Pembangunan KCJB juga dibangun memalui pola (business to business) yang berbasis penanaman modal asing (PMA) tanpa adanya penyerapan APBN negara.
Dua komponen utama BRI terfokus pada the Silk Road Economic Belt dan the 21st Century Maritime Silk Road. Proyek BRI dianggap sebagai langkah strategis untuk mewujudkan keterbukaan dan pembangunan ekonomi bagi Tiongkok, terutama membangun interkoneksi antar negara, termasuk kekuatan jalur pernghubungan perdagangan, kerjasama industri, koordinasi kebijakan, dan pertukaran budaya.( Khonkhlong, 2022).
Mega proyek BRI (The State Council Information Office of the People’s Republic of China, 2023) berusaha menyeimbangkan pembangunan dan kebutuhan masyarakat dengan membangun komunitas masa depan bersama menuju ke arah keharmonisan, membangun dunia yang inklusif, bersih dan indah, yang memiliki perdamaian abadi, keamanan universal dan kemakmuran bersama.
Kebijakan ini berdampak pada kemudahan akses ekspor barang-barang terhadap negara lain karena dibangunnya infrastruktur digitalisasi negara. Belt and Road Initiative (BRI) seringkali dikaitkan dengan investasi besar (Tempo, 2023) dalam pembangunan infrastruktur.
BRI sebagai contoh nyata China dalam membangun komunitas global masa depan bersama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kerja sama Tiongkok-Indonesia dalam proyek BRI hingga saat ini.
Kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan Kerja sama Belt and Road Initiative di masa mendatang. Indonesia (Angelin, 2023) sebagai negara yang memiliki lokasi paling strategis dari segi maritim menjadi faktor penting berjalannya BRI.
Proyek ini ditujukan agar Indonesia dapat terintegrasi dalam agenda pembangunan jalur sutra maritim China. Hingga tahun 2021, Indonesia memiliki 72 proyek pembangunan di bawah BRI yang bernilai USD21 miliar.
Ketersediaan infrastruktur yang memadai menjadi pendorong dalam mempercepat pembangunan negara, baik pembangunan ekonomi maupun sosial menuju pembangunan yang merata disetiap daerah.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB)
Bagi China, proyek BRI (BRIN, 2023) merupakan kontribusi Tiongkok dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur pada skala global. Salah satunya adalah pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Kereta cepat (Belt and Road Portal, 15 November) dengan kecepatan 350 km per jam, yang dibangun dengan teknologi China.
Pembangunan kereta cepat ini mewujud sebagai proyek penting kerja sama pragmatis antara China dan Indonesia di bawah Belt and Road Initiative (BRI). Proyek kereta cepat di Indonesia menghabiskan USD6,071 miliar dalam pembangunannya. KCJB (Rahman, 2022) merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PNS) yang menjadi gurita bisnis China di Indonesia.
KCJB menjadi rencana (Ali, 2022) pembangunan infrastruktur di masa Presiden Jokowi sejak 2015. China menawarkan pinjaman sebesar 5,5% miliar ke Indonesia dengan jangka waktu 50 tahun dan tingkat bunga 2% per tahun tanpa adanya jaminan apapun. Pembangunan KCJB juga dibangun memalui pola (business to business) yang berbasis penanaman modal asing (PMA) tanpa adanya penyerapan APBN negara.
Lihat Juga :