alexa snippet

Mengusik Jiwa yang Tenang

Mengusik Jiwa yang Tenang
Foto:Ilustrasi/KORAN SINDO
A+ A-
Mohamad Sobary
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia untuk Advokasi, Media, dan Promosi.
Penggemar Sirih dan Cengkeh buat Kesehatan

DI semua hotel ada peringatan ”Don’t Disturb”, Maksudnya kita dilarang mengganggu ketenangan. Peringatan itu dipasang di pintu suatu kamar, tanda penghuni kamar tersebut tak mau diganggu, terutama oleh petugas kebersihan.

Petugas boleh masuk ke kamar itu dan merapikan ini dan itu nanti kalau penghuni tadi sudah berkenan. Kapan dia berkenan, itu sepenuhnya urusan penghuni kamar tersebut. Privacy merupakan hak yang harus dihormati. Dan kita tahu bagaimana harus berperilaku.

Di depan sebuah ruangan, mungkin kantor, mungkin hotel atau tempat lain, kita jumpai tulisan: sedang ada meeting. Ini bukan iklan supaya kita tertarik pada ‘meeting’ tersebut, melainkan juga peringatan agar kita tidak berisik dan tak mengganggu ketenangan. ”Sedang ada meeting”, berita yang begitu datar itu ternyata peringatan—boleh ditambah keras—agar kita tak mengusik kegiatan orang-orang yang ada di dalam kamar tersebut.

Judul ”mengusik jiwa yang tenang” untuk esai ini  pun bukan kalimat yang sudah selesai. Dia akan menjadi kalimat lengkap dan selesai tuntas kalau susunannya menjadi: jangan mengusik jiwa yang tenang. Atau, mengapa orang itu tiba-tiba saja mengusik jiwa orang yang sudah begitu tenang? Jiwa yang tenang tak mengancam siapa-siapa dan bukan ancaman bagi siapa pun. Mengapa diusiknya juga?

Dan jiwa itu jiwa Gus Dur, seorang intelektual, aktivis, kiai, politisi, pemikir, mantan presiden, dan kita tahu sejak lama tokoh ini memperoleh gelar wali dan sesudah wafatnya, kewalian itu dikukuhkan. Gus Dur seorang wali. Sebutan lengkapnya ”waliulllah”.

Di dalam dunia modern seperti ini orang yang tak mengerti ujung pangkalnya wali dan kewalian boleh saja tak percaya bahwa Gus Dur itu wali. Pada mulanya Dawam Rahardjo, orang Muhammadiyah yang tak terlalu menaruh perhatian akan fungsi wali dalam kehidupan ini, menentang  kewalian Gus Dur.

Tapi kabarnya, sesudah Gus Dur wafat, Dawam Rahardjo berubah pendirian: dia mengakui dengan takzim bahwa benar Gus Dur itu wali. Ada pihak lain lagi yang sinis terhadap kewalian Gus Dur, dan menolak dengan ungkapan: jangan menambah-nambah rukun iman. Maksudnya kita wajib percaya pada rukun iman, tapi sebaiknya tak usah  percaya pada kewalian Gus Dur.

Ini penolakan. Tapi sejumlah teman seperjuangan Gus Dur yang tak mau mengikuti pendirian kaum nahdliyin tentang wali dan kewalian—wabilkhusus tentang kewalian Gus Dur—akhirnya pada terpesona, dan tak punya kata-kata lagi ketika Gus Dur, di saat wafatnya, dinaikkan ke maqam yang tinggi, menjadi wali yang begitu menakjubkan.

Sebagian kaum muslim bersikap hening tiap saat kita berbicara tentang wali, misalnya tentang Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau memiliki murid-murid yang tak terhitung jumlahnya. Hingga hari ini para murid—orang-orang yang meneruskan kearifan dan ilmu-ilmu Kanjeng Sunan, atau aliran Sunan Kalijaga—tampaknya merupakan pengikut fanatik yang tak mau mendengar orang lain meremehkan beliau.

Cobalah—kalau mau mencari penyakit—iseng-iseng ejek atau hina Kanjeng Sunan Kalijaga, niscaya orang itu bakal berhadapan dengan kekuatan dahsyat tak terhingga. Jadi sebaiknya—kalau mau hidup aman dan tenteram—janganlah mencoba berbuat begitu.

Adapun orang yang berani menghina Gus Dur, tanpa ba tanpa bu, tiba-tiba menghina dan melecehkan beliau begitu saja, apakah kira-kira persoalan kejiwaan yang dideritanya? Ini urusan politik dan yang bersangkutan siap menghadapi kemarahan  politik? Atau persoalan organisasi keagamaan, NU? Apa masalahnya? Dan mengapa Gus Dur yang dijadikan pancingan untuk menanti reaksi kaum nahdliyin?

Gus Dur itu ”pepunden” orang banyak. Maksudnya sangat dihormati umat. Adakah kesengajaan yang memang diperhitungkan baik-baik? Di muka bumi ini ada yang namanya Gus Durian, komunitas kaum muda NU yang dengan khusyuk merawat pemikiran Gus Dur dalam wilayah yang begitu luas: agama, politik, kebudayaan, kesenian, feminisme, warisan Gus Dur yang harus dipelihara dengan baik.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top