Step by Step ala PT PAL Membangun Kompetensi Kapal Perang
Senin, 04 September 2023 - 19:57 WIB
loading...
A
A
A
Selaras dengan realitas geopolitik dan visi Indonesia, PT PAL menempati posisi terpenting untuk memastikan kapasitas negara membangun kemandirian alutsista matra laut, seperti membuat kapal perang dan kapal selam. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah. PT PAL harus bekerja keras membuktikan diri mampu menjadi center of exellence industri maritim nasional.
Momentum perusahaan yang memiliki kepanjangan Penataran Angkatan Laut tersebut mendapat ruang lebih lebar untuk berkontribusi dengan lahirnya UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Lewat undang-undang tersebut, PT PAL secara profesional mengemban amanat agar berperan aktif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista matra laut serta menjadi pemandu utama (lead integrator) industri matra laut.
baca juga: Jabat Menhan, Prabowo Sukses Naikkan Kontrak BUMN Industri Pertahanan hingga 800 Persen
Seperti dipaparkan dalam profil PT PAL, dengan posisi sebagai lead integrator, perseroan juga dituntut terus meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya agar bisa berperan dalam driving synergy to global maritime access, hingga membawa industri maritim Indonesia bisa ambil bagian pada pasar maritim global. Di bawah kepemimpinan Kaharuddin Djenod, pada akhir 2021 lalu PT PAL meluncurkan konsep Industri Maritim 4.0 agar bisa bertransformasi dan menerima tantangan baru ke depan dengan level lebih tinggi.
Menurut Kaharuddin Djenod, transformasi industri maritim 4.0 didukung software project management dan enterprise resource planning yang didesain khusus untuk PAL tidak hanya untuk mengelola proyek di internal PAL tetapi juga untuk menjalankan peran sebagai multiyard leader. Lewat transformasi yang mengedepankan digitalisasi, PT PAL akan terlahir kembali dengan wajah baru yang lebih modern sebagai lead integrator of Indonesian Multiyard 4.0, berdiri di tonggak terdepan, dan menggetarkan industri perkapalan dunia.
Mulai dari Kapal Patroli
Sudah lama PT PAL dikenal memiliki kemampuan membuat berbagai jenis kapal niaga, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Produk dimaksud mulai dari kapal perintis untuk penumpang dan barang, kapal LPG/LNG carrier, hingga kapal tanker yang memiliki kapasitas 30.000 DWT.
Walaupun sudah terbiasa menggarap kapal niaga, bukan berarti PT PAL serta-merta mampu membuat kapal perang. Produksi kapal perang lebih kompleks dan teknologinya selalu bersifat termutakhir atau state of the art. Dengan demikian kapal perang yang dihasilkan harus mengikuti perkembangan jaman dan dapat mengimbangi kekuatan lawan atau bahkan menghadirkan kekuatan detterrence.
Bagi PT PAL yang berasal dari negara berkembang, tidak mudah mendapat knowledge dan akses teknologi kapal perang termutakhir. Apalagi Indonesia tidak menjadi bagian aliansi kekuatan dunia. Karena itu, di tengah keterbatasan kapasitas SDM, anggaran, jejaring negara sahabat, dan lainnya, berbagai kerjasama b to b atau g to g, diplomasi politik, dan berbagai terobosan kreatif lain niscaya harus dilakukan. Selain kerja sama dengan negara atau perusahaan lain, PT PAL juga perlu berkolaborasi BUMN atau industri swasta terkait.
Beruntung Indonesia memiliki PT PAL yang merupakan center of excellence industri maritim. Dengan pengalaman yang dimiliki dan SDM handal, PT PAL bisa dengan mudah menyerap transfer kompetensi dari kerja sama yang dilakukan dengan pihak lain seperti dikemas dalam bentuk transfer of technology (ToT).
Secara faktual tidak mudah memainkan peran seperti PT PAL. Contoh kongkretnya adalah gagalnya Boustead Naval Shipyard (BNS) Malaysia memenuhi target pengerjaan kapal littoral combat ship (LCS) Maharaja Lela yang mengambil platform kelas Gowind dari Prancis. Walaupun ada bau korupsi, nir-pengalaman dan ketidakmampuan SDM juga menjadi faktor penentu kegagalan.
Keberanian PT PAL membangun Fregat Merah Putih saat ini tentu setelah melalui proses panjang, yang dimulai dengan jenis kapal lebih kecil atau kapal patroli. Momentumnya dimulai dari pembangunan kapal fast patrol boat (FPB) 57 m. Awalnya, 4 buah FPB-57 (KRI Kakap kelas) batch pertama dibuat di galangan kapal Lurssen, Jerman. Pada batch kedua, PT PAL kemudian dipercaya merakit 4 FPB-57 (KRI Andau kelas). Baru pada batch ketiga perusahaan anak bangsa sepenuhnya membangun 2 FPB-75 (KRI Pandrong kelas), dan pada era 2000-2004 telah berani mengembangkan 4 FPB-57 (KRI Todak kelas).
Masih di kelas kapal cepat, PT PAL juga telah memproduksi empat kapal cepat rudal (KCR) KRI Sampari kelas, yang konon menggunakan platform FPB. Belakangan, BPPT melakukan kajian review desain KCR 60 meter ini dengan arah menyusun desain standar KCR-60 yang mengacu pada operational requirement, spesifikasi teknisTNI AL, serta menyesuaikan aturan dan regulasi sehingga kapal memiliki performa lebih baik. Pasca-review, PT PAL belum lama ini merilis KRI Kapak-625 dan KRI Panah-626.
Momentum perusahaan yang memiliki kepanjangan Penataran Angkatan Laut tersebut mendapat ruang lebih lebar untuk berkontribusi dengan lahirnya UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Lewat undang-undang tersebut, PT PAL secara profesional mengemban amanat agar berperan aktif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista matra laut serta menjadi pemandu utama (lead integrator) industri matra laut.
baca juga: Jabat Menhan, Prabowo Sukses Naikkan Kontrak BUMN Industri Pertahanan hingga 800 Persen
Seperti dipaparkan dalam profil PT PAL, dengan posisi sebagai lead integrator, perseroan juga dituntut terus meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya agar bisa berperan dalam driving synergy to global maritime access, hingga membawa industri maritim Indonesia bisa ambil bagian pada pasar maritim global. Di bawah kepemimpinan Kaharuddin Djenod, pada akhir 2021 lalu PT PAL meluncurkan konsep Industri Maritim 4.0 agar bisa bertransformasi dan menerima tantangan baru ke depan dengan level lebih tinggi.
Menurut Kaharuddin Djenod, transformasi industri maritim 4.0 didukung software project management dan enterprise resource planning yang didesain khusus untuk PAL tidak hanya untuk mengelola proyek di internal PAL tetapi juga untuk menjalankan peran sebagai multiyard leader. Lewat transformasi yang mengedepankan digitalisasi, PT PAL akan terlahir kembali dengan wajah baru yang lebih modern sebagai lead integrator of Indonesian Multiyard 4.0, berdiri di tonggak terdepan, dan menggetarkan industri perkapalan dunia.
Mulai dari Kapal Patroli
Sudah lama PT PAL dikenal memiliki kemampuan membuat berbagai jenis kapal niaga, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Produk dimaksud mulai dari kapal perintis untuk penumpang dan barang, kapal LPG/LNG carrier, hingga kapal tanker yang memiliki kapasitas 30.000 DWT.
Walaupun sudah terbiasa menggarap kapal niaga, bukan berarti PT PAL serta-merta mampu membuat kapal perang. Produksi kapal perang lebih kompleks dan teknologinya selalu bersifat termutakhir atau state of the art. Dengan demikian kapal perang yang dihasilkan harus mengikuti perkembangan jaman dan dapat mengimbangi kekuatan lawan atau bahkan menghadirkan kekuatan detterrence.
Bagi PT PAL yang berasal dari negara berkembang, tidak mudah mendapat knowledge dan akses teknologi kapal perang termutakhir. Apalagi Indonesia tidak menjadi bagian aliansi kekuatan dunia. Karena itu, di tengah keterbatasan kapasitas SDM, anggaran, jejaring negara sahabat, dan lainnya, berbagai kerjasama b to b atau g to g, diplomasi politik, dan berbagai terobosan kreatif lain niscaya harus dilakukan. Selain kerja sama dengan negara atau perusahaan lain, PT PAL juga perlu berkolaborasi BUMN atau industri swasta terkait.
Beruntung Indonesia memiliki PT PAL yang merupakan center of excellence industri maritim. Dengan pengalaman yang dimiliki dan SDM handal, PT PAL bisa dengan mudah menyerap transfer kompetensi dari kerja sama yang dilakukan dengan pihak lain seperti dikemas dalam bentuk transfer of technology (ToT).
Secara faktual tidak mudah memainkan peran seperti PT PAL. Contoh kongkretnya adalah gagalnya Boustead Naval Shipyard (BNS) Malaysia memenuhi target pengerjaan kapal littoral combat ship (LCS) Maharaja Lela yang mengambil platform kelas Gowind dari Prancis. Walaupun ada bau korupsi, nir-pengalaman dan ketidakmampuan SDM juga menjadi faktor penentu kegagalan.
Keberanian PT PAL membangun Fregat Merah Putih saat ini tentu setelah melalui proses panjang, yang dimulai dengan jenis kapal lebih kecil atau kapal patroli. Momentumnya dimulai dari pembangunan kapal fast patrol boat (FPB) 57 m. Awalnya, 4 buah FPB-57 (KRI Kakap kelas) batch pertama dibuat di galangan kapal Lurssen, Jerman. Pada batch kedua, PT PAL kemudian dipercaya merakit 4 FPB-57 (KRI Andau kelas). Baru pada batch ketiga perusahaan anak bangsa sepenuhnya membangun 2 FPB-75 (KRI Pandrong kelas), dan pada era 2000-2004 telah berani mengembangkan 4 FPB-57 (KRI Todak kelas).
Masih di kelas kapal cepat, PT PAL juga telah memproduksi empat kapal cepat rudal (KCR) KRI Sampari kelas, yang konon menggunakan platform FPB. Belakangan, BPPT melakukan kajian review desain KCR 60 meter ini dengan arah menyusun desain standar KCR-60 yang mengacu pada operational requirement, spesifikasi teknisTNI AL, serta menyesuaikan aturan dan regulasi sehingga kapal memiliki performa lebih baik. Pasca-review, PT PAL belum lama ini merilis KRI Kapak-625 dan KRI Panah-626.
Lihat Juga :