Cegah Klaster Baru, Protokol Perkantoran Disarankan Sama dengan Pesawat

Minggu, 26 Juli 2020 - 18:18 WIB
loading...
Cegah Klaster Baru,...
FOTO/SINDOnews/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Angka positif Covid-19 terus melonjak setiap harinya. Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 menyebut bahwa area perkantoran menjadi salah satu sumber yang banyak ditemukan kasus positif.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena mengatakan, pihaknya sudah mengingatkan bahwa protokol kesehatan di perkantoran harus disamakan dengan transportasi umum. Sebab, perkantoran itu termasuk yang berisiko tinggi karena kondisi di ruangan tertutup dan banyak orang dalam waktu yang lama. Terlebih, untuk ruangan berpendingin udara yang sirkulasi udaranya terbatas, maka protokol kesehatannya harus jauh lebih ketat.

“Orang yang naik pesawat saja naiknya diperiksa, turunnya diperiksa. Kemudian juga diberlakukan juga penanganan yang relatif lebih ketat ketimbang kita di tempat yang terbuka. Sehingga, penanganan di perkantoran harus disamakan ketika kita naik kereta api yang ber-AC, naik pesawat, Transjakarta, dan lain sebagainya itu harus lebih ketat ya,” kata Melki saat dihubungi SINDOnews, Minggu (26/7/2020). (Baca juga: Bertambah 1.492, Kini Ada 98.778 Kasus Positif Covid-19 di Indonesia)

Kemudian, selama pegawai beraktivitas di dalam kantor, direksi atau manajemen kantor maupun gedung harus melakukan pengecekan terhadap orang-orang yang ada dalam kantor atau gedung secara berkala. Seperti misalnya pengecekan suhu badan beberapa kali dalam sehari, dilihat jika ada orang yang bersin ataupun batuk yang sering dalam jam kerja itu. Itu semua dilakukan oleh petugas khusus yang akan berkeliling kantor.

“Semestinya harus ada petugas yang khusus, kalau kita bicara satpam kan untuk keamanan kan? nah semacam petugas untuk melihat pekerja ada yang terkena Covid atau tidak di ruangan tersebut,” ujarnya. (Baca juga: Butuh Rp30 Triliun untuk Pengadaan Vaksin Covid-19)

Politikus Golkar ini melanjutkan, pegawai kantor juga semestinya rutin dilakukan pemeriksaan kesehatan. Misalnya, ada dokter yang dipanggil khusus seminggu sekali untuk mengecek secara rutin dan acak kondisi orang dalam kantor tersebut.

Karena, orang dalam kantor itu bertemu dengan orang yang sama selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tentu semuanya harus diawasi oleh tenaga kesehatan dan juga dites menggunakan rapid test.

Meskipun rapid test kurang akurat, sambung dia, setidaknya bisa digunakan untuk menyisir orang yang reaktif untuk kemudian dilakukan swab test PCR. Karena tidak mungkin juga dilakukan swab test lebih sering karena harganya mahal.

“Kalau ditest di ruangan itu ada yang kena maka semua yang di ruangan itu potensial kena. Jadi tidak harus semua, diacak, diambil misalnya satu ruangan 10 orang diambil 1-2 saja untuk mengecek sampel yang ada di dalam ruangan tersebut aman atau enggak,” terang Melki.

Selain itu, legislator dapil Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menambahkan, jam kerja dibuat shifting dan lebih longgar agar tidak ada penumpukan orang di kantor.

“Jam kerja juga harus dibikin lebih longgar, misalnya ada 20 orang, dikurangi menjadi 10 orang menjadi 2 shift. Intinya jaga jaraknya, protokol kesehatan, masker, cuci tangan,” tandasnya.
(nbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langkah Satgas untuk...
Langkah Satgas untuk Cegah Klaster Covid-19 saat Ramadhan
Keterbukaan Informasi...
Keterbukaan Informasi Dinilai Jadi Faktor Penting dalam Atasi Pandemi
Temuan Klaster Baru...
Temuan Klaster Baru Covid-19 di Sekolah, Kemenkes Ingatkan Prokes yang Benar
Kemenkes Sebut Gelombang...
Kemenkes Sebut Gelombang Ketiga Corona Bisa Terjadi
Vaksinasi hingga Prokes...
Vaksinasi hingga Prokes Dinilai Jadi Cara Bangkit dari Pandemi
Pemilu 2024, Bawaslu...
Pemilu 2024, Bawaslu Perkirakan Pelanggaran Banyak Terjadi jika Masih Pandemi
Pulih dari Covid-19,...
Pulih dari Covid-19, PM Singapura Diizinkan Kembali Bekerja
PM Singapura Positif...
PM Singapura Positif Covid-19 Usai Lawatan ke Afrika
Pandemi Corona Sebabkan...
Pandemi Corona Sebabkan 10 Ribu Personel AD Amerika Alami Obesitas
Rekomendasi
Nikahi Jennifer Coppen,...
Nikahi Jennifer Coppen, Justin Hubner Berikan Mahar 12 Gram Emas dan Uang 2.026 Euro
Ayyoub Bouaddi Moncer...
Ayyoub Bouaddi Moncer di Debut Piala Dunia, Gelandang 18 Tahun Maroko Berhasil Redam Brasil
Ruben Onsu Unggah Video...
Ruben Onsu Unggah Video Giorgio Ngopi di Rumah Sarwendah, Captionnya Bikin Heboh
Berita Terkini
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Infografis
Rencana Trump untuk...
Rencana Trump untuk Gaza Sama dengan Pembersihan Etnis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved