Cegah Klaster Baru, Protokol Perkantoran Disarankan Sama dengan Pesawat
Minggu, 26 Juli 2020 - 18:18 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun rapid test kurang akurat, sambung dia, setidaknya bisa digunakan untuk menyisir orang yang reaktif untuk kemudian dilakukan swab test PCR. Karena tidak mungkin juga dilakukan swab test lebih sering karena harganya mahal.
“Kalau ditest di ruangan itu ada yang kena maka semua yang di ruangan itu potensial kena. Jadi tidak harus semua, diacak, diambil misalnya satu ruangan 10 orang diambil 1-2 saja untuk mengecek sampel yang ada di dalam ruangan tersebut aman atau enggak,” terang Melki.
Selain itu, legislator dapil Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menambahkan, jam kerja dibuat shifting dan lebih longgar agar tidak ada penumpukan orang di kantor.
“Jam kerja juga harus dibikin lebih longgar, misalnya ada 20 orang, dikurangi menjadi 10 orang menjadi 2 shift. Intinya jaga jaraknya, protokol kesehatan, masker, cuci tangan,” tandasnya.
“Kalau ditest di ruangan itu ada yang kena maka semua yang di ruangan itu potensial kena. Jadi tidak harus semua, diacak, diambil misalnya satu ruangan 10 orang diambil 1-2 saja untuk mengecek sampel yang ada di dalam ruangan tersebut aman atau enggak,” terang Melki.
Selain itu, legislator dapil Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menambahkan, jam kerja dibuat shifting dan lebih longgar agar tidak ada penumpukan orang di kantor.
“Jam kerja juga harus dibikin lebih longgar, misalnya ada 20 orang, dikurangi menjadi 10 orang menjadi 2 shift. Intinya jaga jaraknya, protokol kesehatan, masker, cuci tangan,” tandasnya.
(nbs)
Lihat Juga :