Merayakan Intelektualisme dan Kepakaran
Selasa, 02 Mei 2023 - 14:02 WIB
loading...
A
A
A
Intelektualisme juga merupakan ikhtiar untuk menjaga kewarasan di tengah gempuran media sosial yang mengusung jargon “maha benar netizen dengan segala cuitannya.” Netizen dengan beragam latar belakang pendidikan menjelma menjadi pakar-pakar yang mengalahkan pakar sesungguhnya.
Benar dan tidaknya pendapat mereka bukan karena bantahan sekian banyak ilmuwan yang menulis dalam jurnal dan buku. Patokan kebenaran mereka diukur dari centang biru, jumlah follower, share, dan comment pada media sosial mereka.
Pada era matinya kepakaran (Nichols, 2021), para ulama dan ilmuwan mendapat tantangan yang luar biasa. Otoritas kepakaran mereka yang dibangun melalui pendidikan berjenjang, riset, publikasi ilmiah dan integritas pribadi, bisa kalah oleh pendapat netizen yang uneducated.
Di media sosial, kesetaraan betul-betul diamalkan secara radikal. Tidak ada cium tangan di media sosial. Semuanya sama dan setara, apakah dia professor atau mahasiswa semester 1.
Dalam konteks ini, AICIS merupakan oase dan selebrasi hidupnya kepakaran (the life of expertise). Yang pakar berbeda dengan yang tidak pakar. Rasionalitas dihormati. Riset menjadi landasan kebijakan. Diskusi dan dialog menjadi jalan terbaik menyelesaikan berbagai persoalan.
Kebenaran merupakan puncak seluruh aktivitas pencarian ilmiah. Inilah ruh kaum cendekia yang harus terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan ilmiah, salah satunya lewat forum AICIS ini.
Benar dan tidaknya pendapat mereka bukan karena bantahan sekian banyak ilmuwan yang menulis dalam jurnal dan buku. Patokan kebenaran mereka diukur dari centang biru, jumlah follower, share, dan comment pada media sosial mereka.
Pada era matinya kepakaran (Nichols, 2021), para ulama dan ilmuwan mendapat tantangan yang luar biasa. Otoritas kepakaran mereka yang dibangun melalui pendidikan berjenjang, riset, publikasi ilmiah dan integritas pribadi, bisa kalah oleh pendapat netizen yang uneducated.
Di media sosial, kesetaraan betul-betul diamalkan secara radikal. Tidak ada cium tangan di media sosial. Semuanya sama dan setara, apakah dia professor atau mahasiswa semester 1.
Dalam konteks ini, AICIS merupakan oase dan selebrasi hidupnya kepakaran (the life of expertise). Yang pakar berbeda dengan yang tidak pakar. Rasionalitas dihormati. Riset menjadi landasan kebijakan. Diskusi dan dialog menjadi jalan terbaik menyelesaikan berbagai persoalan.
Kebenaran merupakan puncak seluruh aktivitas pencarian ilmiah. Inilah ruh kaum cendekia yang harus terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan ilmiah, salah satunya lewat forum AICIS ini.
(poe)